Yussi Perdana, Milenial Yang Memilih Jadi Pengusaha Radar Pertahanan

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 11 November 2019

Indolinear.com Jakarta – Dengan santun dan ramah, CEO PT Radar Telekomunikasi Indonesia Yussi Perdana Saputera (31) mengenalkan dirinya sebagai pengusaha milenial di bidang pertahanan.

Mengenakan setelan jas formal, ia tampil di hadapan Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Bondan Tiara Sofyan, Wakil Ketua Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan Indonesia Marsekal Madya TNI (Purn) Eris Haryanto dan sejumlah orang penting lainnya di bidang industri pertahanan.

Seperti layaknya pemuda lainnya, ia tampak penuh percaya diri menyampaikan presentasinya tentang usaha yang ia tekuni yakni bisnis produksi radar pertahanan.

Ia membuka pemaparannya dengan menjelaskan awal mula ia terjun di bisnis teknologi elektronika perang tersebut.

Yusi menceritakan betapa sepinya peminat jurusan radar di tempat ia mendapatkan gelar Masternya dulu, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia mengatakan dirinya satu-satunya laki-laki dari empat orang mahasiswa yang belajar tentang radar di jenjang Master itu.

Setelah lulus, hanya ia yang tetap bertahan bekerja di bidang radar, khususnya produksi radar.

“Tiga teman saya itu setelah lulus tidak berkecimpung di bidang radar ataupun telekomunikasi. Yang satu daftar PNS di Pemerintah Kota. Lainnya ada yang jadi pegawai Bank,” kata Yusi yang dilansir dari Tribunnews.com (09/11/2019).

Ia mengatakan, alasan teman-temannya yang tidak meneruskan pekerjaan di bidang radar karena masih belum ada wadah untuk itu.

“Ya gimana, tidak ada penyerapan buat kita. Baik di bidang sarjana ataupun Master di bidang elektronika pertahanan itu diserapnya ke mana. Karena memang tidak mengerti,” kata Yusi mengulangi percakapan dengan temannya.

Ia pun menceritakan, alasannya tetap bertahan di bidang radar adalah karena keinginannya untuk mengembangkan industri pertahanan di Indonesia.

Yusi pun merintis karirnya sejak kuliah dari riset-riset kecil hingga sekarang ia bisa memperkerjakan 14 orang karyawannya di perusahaan tersebut.

“Kami generasi muda, di mana di Indonesia ini bonus demografinya kaum milenial, ya kami ingin membangun bangsa ini di melalui bidang kemampuan kami,” kata Yusi tegas.

Ia pun sempat mengutip pernyataan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam sebuah halaman media yang pada intinya menekankan pada penggunaan produk dalam negeri.

Baginya, pernyataan itu adalah mimpi indah yang kenyataannya tidak bisa dicapai semudah itu.

“Kalau kata medsos, tidak semudah itu Ferguso. Realitanya sangat berat. Jadi kami sangat butuh bimbingan dan arahan dari bapak-bapak dan ibu-ibu user yang akan menggunakan produk-produk kami,” kata Yusi diiringi tawa para hadirin.

Dengan lugas, Yusi menyatakan mimpinya agar produk buatannya bisa dibeli oleh pemerintah.

“Sebenarnya mimpi kami, dari besarnya anggaran Pertahanan itu tidak semuanya mengalir keluar. Karena kami SDM manusia di bidang itu sangat berharap diberikan kepercayaan kepada kami agar kami bisa bertumbuh dan berkembang,” kata Yusi gamblang.

Perusahaan yang dijalankan Yusi sejak 2013 itu pun membutuhkan biaya operasional dan gaji karyawan hingga Rp 150 juta sebulan.

Untuk menghidupi perusahaan dan karyawannya, Yusi juga menjual produk-produk radar untuk kalangan sipil.

Ia mencontohkan radar untuk perahu nelayan.

Tak jarang, ia pun harus mengerjakan proyek-proyek di luar bidang produksi radar.

“Untuk itu kami juga ada proyek-proyek instalasi listrik, atau yang masih terkait elektronika lain. Alhamdulillah kami juga dapat dana dari Kemenristek Dikti. Tapi untuk pengembangan dana itu sangat kecil,” kata Yusi.

Kendala yang dihadapi Yusi selama ini adalah belum adanya industri komponen pendukung radar di Indonesia.

Untuk itu, ia juga harus impor dari beberapa negara.

“Sulitnya di kita itu industri pendukungnya belum ada. Jadi komponen-komponennnya juga impor. Resistor, konduktor, IC masih impor. Walaupun kami jago memprogram IC nya tapi IC nya sendiri masih impor,” kata Yusi.

Yusi pun menjelaskan kelebihan produknya di depan hadirin.

Selain harga yang jauh lebih murah dan tingkat kemampuan yang sama, Yusi mengatakan biaya pemeliharaan radarnya akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan radar yang diberi di luar negeri.

“Beda harganya bisa sampai tiga miliar rupiah lebih murah. Untuk ongkos pemeliharannya pun akan jauh lebih murah karena orang Indonesia sendiri yang mengerjakan,” kata Yusi.

Satu paket radar medan perang darat yang ia buat, dipasarkan seharga Rp3 sampai Rp4 miliar rupiah.

Sedangkan radar buatan luar negeri biasa dibandrol seharga tujuh muliar rupiah.

Radar yang ia produksi tersebut mampu mendeteksi hingga jarak maksimal 10 Km dengan bobot 32 Kg, mampu dioperasikan dalam suhu -30° sampai 60° Celcius, dan tingkat kelembaban 98 persen.

Ia mengatakan selama ini produknya juga telah dibeli dan dipakai oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) meski belum dalam jumlah besar.

Yusi mengaku menaruh harapan besar dengan hadirnya Wakil Menteri Pertahanan Indonesia yang baru dilantik beberapa waktu lalu, Sakti Wahyu Trenggono, yang diberi tugas oleh Jokowi mengembangkan industri pertahanan di Indonesia.

“Harapannya agar produk kami bisa dibuat massal dan dibeli pemerintah. Karena hal itu akan berdampak besar. Terutama mengurangi jumlah pengangguran,” kata Yusi. (Uli)

INDOLINEAR.TV