Yuk Mengenal Kidzsmile, Gerakan Pemuda Senyumkan Anak Indonesia

FOTO: detik.com/indolinear.com
Kamis, 7 Juli 2022

Indolinear.com, Bogor – Lahir dari sekumpulan mantan relawan kemanusiaan saat bencana tsunami Aceh 2004 lalu, Kidzsmile Foundation atau Yayasan Senyum Anak Indonesia kemudian lahir sebagai bentuk kepedulian terhadap anak Indonesia yang tidak boleh berhenti.

Kidzsmile Foundation merupakan komunitas atau lembaga yang memiliki visi untuk membantu tumbuh kembang anak Indonesia menjadi lebih optimal. Mulai dari pendidikan, gizi anak, hingga membentuk anak-anak di daerah tertentu sebagai anak yang siap terhadap bencana.

Salah satu relawan kemanusiaan Kidzsmile, Idzma Mahayatikka mengatakan, Kidzsmile Foundation punya tujuan untuk mengedukasi anak-anak Indonesia dengan pendidikan dan pengetahuan yang berkualitas sehingga tumbuh kembangnya lebih optimal.

Selain itu, Kidzsmile juga hadir untuk meningkatkan kapasitas orang tua, guru dan komunitas yang memiliki program pengembangan anak. Hal lain yang dilakukan Kidzsmile, yakni membantu masyarakat terutama anak-anak di daerah rawan bencana, baik gempa, longsor maupun tsunami. Baik dari segi tumbuh kembang, gizi dan pendidikan anak.

“Jadi sederhana sih, kita lihat anak- Indonesia itu tumbuh kembangnya tidak optimal, macem-macem lah, gizi ngga oke, stimulan ngga oke, pendidikan kurang bagus, yaudah kan kita pengen berkontribusi, ingin membantu sedikit melalui kidzsmile foundation,” ungkap Idzma, dilansir dari Detik.com (05/07/2022)

Kidzsmile juga kerap turun ke daerah-daerah tertentu untuk membantu terkait pendidikan anak. Mereka terjun ke masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gizi anak, tentang pencegahan stunting, pendampingan terhadap anak korban kekerasan seksual atau korban kekerasan rumahtangga.

“Kalau bencana kita ada program dapur MPASI untuk bayi. Kita memastikan bayi dapat makanan baik, ASI yang baik. Kita bikin juga program pendidikan, lewat komunitas, bikin kelas, dan lain-lain,” katanya.

Para volunteer yang ada di dalam Kidz Smile, ternyata memang bukan kaleng-kaleng. Mereka merupakan para relawan ahli yang memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni. Idzma, misalnya. Ia merupakan lulusan S2 yang fokus pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Selain dia, ada juga ahli psikolog, ahli gizi, dokter dan konselor.

“Jadi kidz smile ini boleh dibilang expert volunteer, atau relawan ahli. Kenapa? Karena kita kita ini punya latarbelakang, yang secara keilmuan berkaitan dengan dunia anak. Pertama, saya sendiri orang PAUD, S2. Ada psikolog, ada konselor, ada dokter, ada ahli gizi,” beber Idzma.

“Jadi kalaupun ada relawan Kidzsmile Foundation ini tidak punya latar belakang yang sama, tetapi kami punya standar tertentu bahwa mereka punya kemampuan terkait anak. Ada pelatihan juga, kursus dan lain-lain sebelum terjun ke lapangan. Jadi ada standar khususnya,” imbuhnya.

Idzma menceritakan, Kidzsmile Foundation lahir pada 2009 silam. Ia dan 3 temannya yang dikenal ketika sama-sama menjadi relawan di lokasi bencana tsunami Aceh 2004, bersepakat untuk melanjutkan bakti mereka untuk pendidikan anak-anak Indonesia. Karena saat itu, bencana Aceh sudah terlewati.

“Kami itu awalnya adalah relawan yang ikutserta pada saat bencana Aceh 2004, jadi kami itu bertemu di Aceh, ngurus anak-anak di Aceh, dulu kan masih mahasiswa, akhirnya sering kumpul kan, setiap ada bencana ngumpul, turun ke lokasi dan semacamnya,” cerita Idzma.

Sejak 2005, Idzma dan temannya hanya sekelompok relawan tanpa lembaga. Ia bahkan menyebutnya relawan jalangkung yang datang tanpa diundang dan pulang tak diantar. Hingga akhirnya, mereka bersepakat membuat sebuah yayasan atau lembaga yang fokus untuk anak-anak Indonesia.

“Akhirnya 2010 kita bikin yayasan Senyum Anak Indonesia, Kidzsmile Foundation. Awalnya kita berempat itu, saya, ada Kak Lintang, Kak Melina, Kak Fita,” kata Idzma.

Seiring berjalannya waktu, Kidzsmile terus berkembang dan melaksanakan tujuannya untuk perkembangan anak-anak Indonesia. Jaringannya terus meluas hingga ke hampir seluruh pelosok negeri.

“Kalau sekarang, pengurus harian ada 12 orang kantor kita di Jakarta. Tetapi kita sudah bangun relawan-relawan di beberapa daerah, artinya sudah menyebar lah ya kalau jaringan kita,” imbuh bapak dua anak ini.

Sejak pandemi COVID-19 awal 2020 lalu, Kidzsmile pun merasakan dampaknya. Banyak program-program yang terkendala karena virus COVID-19 terus menyebar. Kelas-kelas khusus yang biasanya digelar dengan banyak peserta, terpaksa distop karena akan menimbulkan kerumunan.

Selama pandemi, lanjut Idzma, Kidzsmile hanya fokus pada dua program, yakni kelas khusus pengelolaan stres yang digelar di Jakarta Timur dan pendidikan siap gempa untuk masyarakat dan anak-anak di Bayah, Lebak Selatan, Banten.

“Untuk program yang di Cililitan, Jakarta Timur, kita bantu anak-anak dan orang dewasa dalam penanganan stres, bagaimana mengelola stres akibat pandemi, sekolah daring dan sebab lain,” kata Idzma.

Sementara untuk kegiatan di Bayah, Lebak Selatan, Banten, Kidzsmile Foundation tengah mendampingi relawan-relawan lokal dalam mitigasi bencana.

“Kidzsmile itu punya program namanya kalau dalam bahasa resmi disebut SPAB, Satuan Pendidikan Aman Bencana. Jadi kita bikin sistem di sekolah dimana itu tujuannya agar anak-anak ready ketika ada bencana gempa dan tsunami,” terangnya.

“Jadi kan tiga pilar ya SPAB itu, pertama fasilitas aman, kedua management bencana, dan pendidikan bencana. Kita mulai awal 2020 yang di Lebak selatan,” tambah Idzma. (Uli)

loading...