YesDok Aplikasi Kesehatan Yang Mempermudah Dokter Dan Pasien

merdekacom/indolinear.com
Minggu, 19 November 2017
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Akses terhadap perawatan kesehatan dan saran medis yang sesuai masih menjadi masalah besar bagi banyak masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan.

Menurut Konsil Kedokteran Indonesia, di Indonesia hanya terdapat satu dokter untuk setiap 1.368 pasien. Di samping itu, hampir 80 persen dokter Indonesia berada pada wilayah perkotaan seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Dengan tujuan menjembatani kesenjangan rasio jumlah dokter dan pasien ini, sebuah tim profesional di bidang kesehatan; Irwan Hartanto (CEO), Harry Darmawijaya (CFO), Fariz Tadjoedin (CTO), dan Marshell T. Handoko (Kepala Dokter untuk YesDok Indonesia) meluncurkan YesDok, aplikasi telemedicine on-demand yang memungkinkan setiap pasien di Indonesia terhubung langsung dengan dokter umum berlisensi untuk melakukan konsultasi medis melalui telepon, SMS, atau panggilan video, dilansir dari Merdeka.com (18/11/2017).

Aplikasi YesDok memasangkan pasien dengan dokter yang tepat setelah pasien menjawab beberapa pertanyaan terkait gejala dan kondisi medis yang dialami. Apabila pasien memiliki pertanyaan medis, mereka akan terhubung langsung dengan seorang dokter umum yang akan memberi konsultasi dan menyarankan perawatan lebih lanjut. Jika perlu, para dokter juga merekomendasi obat yang bisa dibeli tanpa resep dari dokter, serta memberitahu pasien tentang petunjuk penggunaan dan dosis yang sesuai.

Berbeda dengan aplikasi telemedicine lainnya di dalam negeri, platform YesDok juga dirancang untuk mempermudah dokter dalam membagikan gambar dan instruksi selama konsultasi. Saat menggunakan aplikasi, dokter yang menjadi mitra diharuskan untuk berinteraksi dengan pengguna melalui laptop atau desktop, dan tidak melalui ponsel mereka. Hal ini penting agar dokter dapat melakukan panggilan yang lebih stabil, serta lebih bebas untuk membagikan dokumen-dokumen yang penting. Di sisi lainnya, pengguna dibebaskan untuk menggunakan ponsel selama berkonsultasi.

Dokter yang menjadi mitra di YesDok diminta untuk menggunakan terminologi berstandar internasional ketika berkonsultasi, yaitu standar Klasifikasi Statistik Internasional tentang Penyakit dan Masalah Kesehatan Terkait atau yang sering dikenal dengan sebutan ICD10 dalam industri medis.

Dengan penggunaan standar ICD10 dalam mengisi dokumen medis, pengguna YesDok bisa lebih mudah mencari pengobatan di mana pun mereka berada. Hal ini sangat berguna bagi tenaga kerja migran Indonesia dan penduduk lokal yang bepergian ke luar negeri.

Sehubungan dengan itu, YesDok memiliki profil pengguna yang sangat beragam, di antaranya adalah para pekerja profesional yang bekerja 12 jam sehari dan hanya memiliki sedikit waktu untuk mengunjungi dokter; orangtua muda yang harus merawat anak yang sakit di tengah malam; orang tua dan orang sakit yang membutuhkan konsultasi untuk mendeteksi gejala awal penyakit; serta siapa saja yang membutuhkan saran medis dengan cepat, namun sering terhambat oleh jarak atau keterbatasan akses.

Soal biaya, YesDok menetapkan biaya per 10 menit konsultasi dengan dokter, dan pengguna bisa dengan mudah mengisi kembali nominal kredit mereka ketika ingin melakukan konsultasi lebih lanjut.

Tidak seperti konsultasi medis dengan dokter di rumah sakit, dokter yang menjadi mitra di YesDok tidak diberikan insentif finansial untuk menyarankan perawatan medis atau pemeriksaan. Aplikasi ini tidak dirancang untuk menjadi lead generation engine bagi para dokter, karena pengguna YesDok berada di seluruh penjuru Indonesia, dan kemungkinan besar mereka juga tidak dapat bertatap muka langsung dengan dokter walaupun mereka menginginkannya. Sebagai gantinya, tim YesDok memberikan kompensasi bagi para mitra dokter umum atas layanan mereka di aplikasi.

CEO YesDok Irwan Hartanto mengatakan, “Kami ingin mengubah budaya dalam hal perawatan medis di Indonesia. Biasanya, dokter meminta pasien datang ke kantor mereka, karena memiliki kewajiban untuk ikut menjaga kesuksesan finansial dari rumah sakit. Sangat mudah bagi oknum tertentu untuk memberikan resep obat dan perawatan yang mahal, bahkan ketika pasien tidak benar-benar membutuhkannya. Melalui YesDok, pasien umumnya tidak bisa bertemu langsung dengan dokter di rumah sakit, sehingga tidak ada insentif bagi dokter untuk menyarankan perawatan kesehatan yang tidak dibutuhkan pasien. Yang terjadi kemudian adalah interaksi yang bisa dikatakan lebih tulus dan murni, karena tidak ada kepentingan lain dari para dokter selain untuk menolong pasiennya.

Aplikasi YesDok kini berada di versi 1.0 dan bisa digunakan oleh publik. “Kami percaya bahwa sekitar 80 persen dari kebanyakan masalah kesehatan bisa diberikan penanganan pertama melalui konsultasi dengan dokter, dan pemeriksaan bisa dilakukan hanya ketika benar-benar diperlukan,” jelas Irwan.

“YesDok menawarkan solusi unik untuk membantu masyarakat Indonesia menghemat waktu dan uang dengan mengurangi kunjungan langsung ke dokter, karena mereka dapat dengan mudah mendapatkan saran medis terkait kondisi kesehatan mereka melalui konsultasi online,” tambah dia. (Uli)