Wujudkan Kota Layak Huni, Disperkimta Tangsel Gencarkan Program Bedah Rumah

FOTO: Eksklusif Disperkimta Tangsel for indolinear.com

Indolinear.com, Tangsel – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) terus memberikan pelayanan kepada masyarakatnya. Kali ini, yang menjadi perhatian Pemkot Tangsel melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimta) yaitu Program Bedah Rumah bagi masyarakat tak mampu.

Program Bedah Rumah ini bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di Kota Tangsel serta memberikan tempat tinggal layak bagi masyarakat yang membutuhkan. Program Bedah Rumah ini merupakan salah satu cara untuk mewujudkan Kota Layak Huni.

Program Bedah Rumah dengan sasaran rumah warga tak layak huni di Kota Tangsel pada tahun 2019 ini mencakup sebanyak 220 unit rumah di seluruh Kecamatan.

Jumlah tersebut hasil dari permintaan warga melalui Muswarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tahun 2018. Dimana masih ada warga yang memiliki rumah tak layak huni.

Disperkimta Kota Tangsel menganggarkan Rp 71 juta per unit rumah yang akan direnovasi. Dengan target pengerjaan selesai satu setengah hingga dua bulan untuk setiap rumah.

“Sebelum dilaksanakan renovasi bedah rumah ini, kita akan melakukan tahapan sosialisasi langsung kepada masyarakat pada akhir April 2019 nanti,” ungkap Kepala Bidang Perumahan Disperkimta Tangsel Carsono.

Sosialisasi tersebut terkait persiapan bedah rumah yang akan dilaksanakan di tujuh kecamatan dalam waktu satu minggu. Nantinya pengerjaan akan terbagi menjadi dua tahap yakni, tahapan sebelum dan setelah Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran 2019.

“Jadi, sebelum lebaran harus ada bedah rumah yang selesai. Sementara jumlah rumah yang akan kita bedah di 2019 ini, lebih banyak dibandingkan tahun lalu, yaitu 151 unit rumah dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan total 1.275 unit rumah. Jika tahun ini dilaksanakan semua maka sudah mencapai target,” paparnya.

Secara teknis, anggaran pelaksanaan program yang dilaksanakan secara swakelola ini berasal dari dana bantuan sosial (bansos), yang diusulkan 6 hingga 1 tahun sebelumnya. Dengan nilai maksimum Rp71 juta/rumah yang mencakup upah tukang, perencanaan, pengawasan dan infrastuktur.

“Jadi anggaran untuk tahun ini sekitar Rp15 miliar lebih, dengan target pekerjaan disesuaikan kebutuhan masing-masing rumah. Dengan harapan penanganannya terintegrasi, asalkan tidak lebih dari Rp71 juta untuk tiap rumah,” tegasnya.

Dengan anggaran tersebut, pihaknya menjamin material dan kualitas bahan bangunan, karena Pemkot Tangsel melibatkan masyarakat melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) di masing-masing kecamatan dan kelurahan.

“Dalam hal ini memiliki hubungan baik dengan para warga dan keterlibatan BKM sebagai wujud sinergisitas pemerintah daerah dengan masyarakat dalam membangun Kota Tangsel,” bebernya.

BKM yang dibentuk melalui musyawarah warga, mengusulkan, merencanakan dan mencari pekerja dan toko material setempat. Sehingga dapat memberdayakan warga dan menghasilkan perputaran ekonomi di lingkungan tersebut.

“Adanya kemitraan dengan BKM tentunya sangat membantu Disperkimta, karena program bedah rumah didampingi dan dikerjakan oleh warga setempat. Bahkan kami tidak menganggarkan biaya untuk pembongkaran dan pemindahan warga yang rumahnya akan dibedah. Hal ini bertujuan untuk membangun kepedulian lingkungan terhadap orang yang perlu dibantu,” jelas Carsono.

Carsono menjelaskan beberapa syarat bedah rumah, yakni tanah milik sendiri dan tidak boleh lebih dari 120 meter (dibuktikan dengan Akta Jual Beli (AJB) atau sertifikat.

“Ada surat keterangan waris, apabila tanah merupakan warisan. Berusia 50 tahun keatas atau usia tidak produktif, atau orang dengan kategori tidak mampu. Tidak memiliki pendapatan tetap,” kata Carsono.

Kondisi infrastuktur yang tidak layak dan membahayakan penghuni. Serta persyaratan pengusung yakni lingkungan setempat.(ADV)