WNI Sukses Menjadi Petani di Amerika, Para Bule Berguru Kepadanya

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Jumat, 2 April 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Memiliki hobi bercocok tanam rupanya mampu mendatangkan kebahagiaan yang berlipat-lipat. Tak hanya mendapatkan hasilnya, Syarif Syaifulloh mengaku senang dapat berbagi ilmu bertani kepada para warga di sekitar kediamannya.

Jauh dari tanah kelahiran dan tinggal di Philadelphia, Amerika Serikat tak melunturkan semangatnya untuk terus mengembangkan kegemarannya sebagai petani. Berkat tangan dinginnya, ia kerap memanen sayuran segar hingga mendapatkan atensi dari para tetangga.

Seperti apa kisah selengkapnya dari Syarif yang percaya diri dan sukses menjadi petani di AS tersebut? Berikut informasi selengkapnya.

Ajarkan Cara Bertani

Dilansir dari Merdeka.com (31/03/2021), ada kisah menarik dari Syarif, pria asal Magelang, Jawa Tengah yang kini diketahui tinggal di Negeri Paman Sam. Tinggal di negara asing selama lebih dari 9 tahun justru semakin membuatnya percaya diri untuk berkarya, menjadi petani di lahan miliknya.

Tak hanya untuk diri sendiri, Syarif pun juga berbagi ilmu kepada para warga lokal mengenai cara bercocok tanam. Semua kalangan usia menjadi teman berbagi, dari usia anak-anak hingga dewasa.

“Ini saya sudah 9 tahun berkebun alhamdulillah tidak ada apa-apa. Kita kan urban farmer[…] Buat laboratorium, buat belajar teman-teman,” katanya.

“Oh jadi ke sini gitu ya?” tanya sang presenter.

“Iya, dari mana saja. Dari mana saja, dari Amerika, dari Indonesia, dari anak-anak sampai dewasa pada belajar bercocok tanam,” ungkapnya.

Dukungan Tetangga

Tinggal di negara dengan kultur berbeda terkadang menjadi kendala tersendiri saat kita hendak melakukan berbagai aktivitas. Namun, hal ini bukan merupakan perkara yang sulit bagi Syarif.

Para tetangga di seputaran kediamannya malah turut penasaran dengan aksinya saat berkebun. Dukungan moral dan materil terus dilayangkan para tetangga kepada Syarif. Gentong berukuran cukup besar yang terletak di halaman rumah merupakan bukti dari kepedulian dan kekaguman tetangga terhadap kegemaran Syarif.

“Tetangga gimana responnya?” tanya sang presenter.

“Tetangga alhamdulillah welcome. Kita kan alhamdulillah juga hasilnya kita beri ke tetangga-tetangga juga ya. Dan kita juga mengajari juga tetangga-tetangga juga. Ada ini gentong ini dikasih tetangga,” jelasnya.

Kendala Musim

Bukan mudah bercocok tanam di negara dengan empat musim. Musim dingin diakuinya menjadi salah satu kendala tersendiri untuk mengembangkan berbagai jenis sayuran.

“Kadang-kadang musim dingin di sini keras kan. Kan ada air, kandungan air terus kayak batu yang lebih keras.

Kendati demikian, Syarif tak mau beranjak dari kegemarannya. Berkat kerja kerasnya yang tak pantang menyerah, ia berhasil menyabet penghargaan Fatherhood Award dari Maternity Care Coalition pada tahun 2013.

Sering Panen & Berbagi

Tak hanya mengajarkan ilmu mengenai bercocok tanam, pria memiliki halaman rumah seluas 400 m2 ini juga berbagi hasil panen. Ia menyebut hal itu dengan kembali kepada masyarakat.

“Kita bisa menanam, menghasilkan. Dan hasilnya itu ya kita kembalikan ke masyarakat gitu, ya,” ceritanya dalam kanal YouTube minanewsTV.

Hal ini bermula dari kegelisahan Syarif saat mendapatkan hasil panen sayuran yang melimpah ruah. Ia justru bakal merasa lebih damai dan tenang jika dirinya juga mampu membahagiakan banyak orang.

“Saya itu senang banget ya. Kok bisa menghasilkan, saya bahagia gitu. Tapi kok kebahagiaan saya itu cuma buat saya sendiri sama keluarga, kenapa tidak kepada orang lain? Makanya saya bagikan kepada teman-teman, ke tetangga,” ujarnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: