Warung Ibu Nengah, Langganan pemulung Di Tengah TPA Suwung Denpasar

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 11 September 2019

Indolinear.com, Denpasar – Mengenakan topi hitam dengan rambut panjangnya terurai dan kaos lengan panjang warna hitam yang dihiasi motif batik warna merah, Ibu Nengah tampak sibuk melayani para pemulung yang sedang memesan kopi dan es teh di warungnya.

“Saya sudah 15 tahun jualan di TPA Suwung ini,” ucap wanita yang telah memiliki dua anak ini, saat ditemui di warungnya, dilansir dari Merdeka.com (09/09/2019).

Warung yang seperti bedeng itu berukuran 2 x 3 meter, di depan kanan dan kiri warung tersebut ada meja kursi memanjang tempat duduk bagi para pembeli. Sementara atap warung tersebut hanya dilapisi plastik terpal yang ditopang bambu untuk melindungi dari terik panas matahari.

Warung tersebut, adalah milik Nengah salah satu dari enam warung yang berada di tengah-tengah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bali, yang merupakan TPA terbesar di Denpasar.

Ibu Nengah di usianya yang sudah 41 tahun terus menjalani rutinitasnya berdagang di warungnya yang ia mulai sejak tahun 2004. Kendati tiap hari menghirup bau busuk dan anyir dari tumpukan sampah yang sudah seperti bukit tinggi itu, baginya sudah biasa.

“Kalau sudah biasa iya tidak akan bau lagi,” kata Nengah yang berasal dari Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali.

Jika sudah lelah, para ratusan pemulung di TPA Suwung akan beristirahat di warung Nengah. Meski dikerubungi ribuan lalat dan bau busuk dari ribuan ton sampah, para pemulung tidak mempedulikan. Mereka tetap terlihat nikmat menyeruput kopi sambil mengisap rokok dan memakan roti.

“Saya buka sejak pukul 9 pagi sampai tutup jam 6 sore. Setiap hari ada aja yang beli dari para pemulung di sini,” ungkap Nengah.

Nengah yang bermukim tidak jauh dari TPA Suwung ini menceritakan, dirinya membuka warung tersebut karena desakan ekonomi untuk membantu kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anaknya.

“Suaminya saya kerja bangunan di Kuta, apalagi waktu itu saya sudah punya anak dua, ketimbang menganggur tidak ada kerjaan di rumah ya saya kerja seperti ini, yang penting cukup buat keluarga,” tuturnya.

Nengah juga bercerita dulunya di tempat TPS Suwung ini tidak ada warung bagi para pemulung. Hanya ada pedagang keliling dengan sepeda yang hanya sesaat saja datang ke TPA Suwung. Namun semenjak ada warung di TPA tersebut, para pemulung merasa tertolong karena tidak perlu lagi menunggu pedagang keliling datang hanya untuk membeli minum dan makan.

“Kalau pembeli di warung, iya tentunya para pemulung orang luar mana ada yang mau ke sini. Kalau hasil dari penjualan saya tidak pernah menghitung, yang penting sudah ada buat kebutuhan rumah tangga,” jelas Nengah.

Nengah juga mengungkapkan bahwa dirinya merasa nyaman berjualan di TPS Suwung tersebut. Karena menurutnya kerja apa saja asal dinikmati tentunya tidak menjadi persoalan baginya. Selain itu, saat ditanya apakah berjualan di tempat tersebut tidak mengganggu kesehatannya dan bisa sakit.

“Iya namanya manusia, dokter saja pernah sakit apalagi kita. Sakit itu sudah biasa karena kurang tidur atau lainnya. Saya suka jualan di sini, tenang tak perlu pindah-pindah,” tutup Nengah. (Uli)