Warga Kampung Di Cirebon Ini Dilarang Bangun Rumah Tembok

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 25 Agustus 2021
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Ada pemandangan unik jika kita berkunjung ke Kampung Kaputihan di Desa Kertasari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Seluruh rumah warga di kampung ini masih menggunakan bahan bangunan tradisional hingga sekarang.

Saat ini ada 16 rumah warga setempat yang masih terbuat dari bilik bambu dan atap daun. Menurut tokoh setempat bernama Endang Yusuf, keputusan warga Kaputihan membangun rumah dari bilik bambu dan daun bukan disebabkan faktor ekonomi.

“Iya jadi ini ceritanya bermula dari zaman dulu banyak warga di sini memang tidak ada yang membangun rumah menggunakan tembok atau semen karena mempertahankan tradisi masa lalu,” terang Endang.

Melansir dari Merdeka.com (24/08/2021), berikut alasan dan sejarah warga Kampung Kaputihan tak membangun rumah dengan tembok permanen.

Melaksanakan Petuah Leluhur

Endang mengatakan jika keputusan warga membangun rumah dengan bilik bambu, kayu, dan atap daun tersebut merupakan upaya menjalankan petuah leluhur di sana.

Menurutnya, ada kepercayaan di kalangan warga Kaputihan jika rumah yang dibangun menggunakan bahan modern tembok, sang pemilik akan tertimpa musibah seperti sakit hingga meninggal dunia. Hal ini berlaku untuk semua unsur bangunan, mulai dari lantai hingga bagian atap.

“Sejak dulu jangankan untuk tembok, semenan di bagian lantai saja tidak ada yang berani buat. Katanya warga yang melanggar akan terkena sakit,” terangnya.

Mitos yang Berkembang

Sementara itu penggunaan dinding dari bilik bambu dan atap daun tebu merupakan upaya masyarakat Kaputihan untuk memanfaatkan potensi alam sekitar. Endang mengatakan, dahulu di sekitar desa banyak terdapat kebun tebu yang daunnya dimanfaatkan untuk berteduh.

Namun di masa sekarang, perlahan warga sudah menggunakan bahan lain seperti asbes atau seng karena kebun tebu sudah mulai jarang ditemui.

“Kalau sekarang kan kebun tebu sudah susah, jadi warga banyak yang mulai pakai seng atau asbes. Itu juga tidak berpengaruh. Dulu itu ketika ada yang bangun pakai semen pemiliknya sakit tapi setelah dibongkar pemilik kembali sembuh,” katanya lagi.

Selain Endang, mitos tersebut juga diyakini oleh Nur, warga setempat yang sehari-harinya berprofesi sebagai pembuat net bulutangkis. Menurutnya, ia tak berani membangun rumah dengan tembok karena ia percaya hal itu bisa membuat anggota keluarganya sakit dan tak kunjung sembuh.

“Ini kami tidak berani membangun dengan semen, karena takut ada yang sakit dan nggak sembuh-sembuh,” kata dia.

Ajarkan Kesederhanaan Warga

Di balik kentalnya kepercayaan masyarakat setempat, ternyata ada pesan lain yang ingin disampaikan oleh leluhur yang dipercaya sebagai warga pertama di Kaputihan.

Menurut Kirno, salah seorang warga setempat, zaman dahulu terdapat tokoh bernama Kiai Mani dan Kiai Tar yang berupaya menjaga keturunannya agar tidak menampilkan sisi kemewahan yang dimiliki. Sehingga ia dianggap rendah hati, dan banyak diikuti oleh warga penerusnya melalui pembuatan rumah secara sederhana.

“Menurut cerita dari mulut ke mulut memang ada kisah dari si empunya yang dulu pertama tinggal di sini adalah sangat rendah hati, sehingga ia tidak ingin memamerkan kepunyaannya,” kata Kirno di Youtube Mbansrock Channel. (Uli)