Wanita Cantik Jepang Menjadi Pemandu Safari Pertama Di Afrika Selatan

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 19 Juni 2022

Indolinear.com, Tokyo – Wanita Jepang pertama dan satu-satunya yang menjadi  pemandu safari dan diakui secara resmi oleh pemerintah Afrika Selatan. Itulah Yuka Ota (27) yang diwawancarai khusus oleh Tribunnews.com Kamis kemarin (16/6/2022).

“Saya harus sekolah satu tahun saat itu lalu ikut ujian pula dan lulus dapat sertifikat resmi sebagai pemandu safari di Afrika Selatan ini,” papar Ota, dilansir dari Tribunnews.com (18/06/2022).

Sejak kecil kelas 5 Sekolah dasar pun Ota sudah sangat suka dengan binatang dan alam. Namun tentu dalam usianya 11 tahun dia belum bisa banyak berbuat apa pun karena juga dibatasi usia pula.

Duduk di bangku sekolah menengah atas, keinginan kuatnya menyelami alam dan isinya terutama hewannya semakin kuat.

Masuk universitas lulus jurusan pariwisata di Jepang lalu pindah ke Afrika Selatan dengan maksud sekolah pemandu safari.

“Awalnya sih orang tua mengijinkan karena untuk sekolah satu tahun. Eh lama-lama keterusan semakin suka tinggal di Afrika Selatan tidak pulang ke Jepang sudah hampir 7 tahun tinggal di Afrika Selatan saat ini.”

Ota yang pernah ke pulau Bintan Indonesia di masa lalu mengakui senang sekali berada di Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei.

“Kalau ada kesempatan internship misalnya sebulan di taman safari Indonesia mau juga saya ke sana mempelajari hewan dan alam yang ada di Indonesia, pasti indah sekali.”

Ota bekerja sebagai freelance di  Taman Nasional Kruger di Limpopo, timur laut Afrika Selatan, kami berbagi kamar dengan rumah di dekatnya.

Bersama 7 lelaku pemandu safari hanya dia satu-satunya wanita yang tinggal di sharing house tersebut di Afrika Selatan.

“Itu kalau lagi antri ke kamar mandi, kadang tak ada ampun deh saya harus menunggu pula, tak ada Lady’s first. Jadi ingin sekali saya memiliki kamar mandi atau kamar kecil khusus untuk wanita sebenarnya,” paparnya lagi sambil tertawa semakin cantik dipandang.

Ota  menyukai binatang sejak kecil, dan impian nya memang untuk  bekerja  melindungi binatang liar.

“Ketika saya di tahun kedua kuliah, saya berpartisipasi dalam sukarelawan konservasi lingkungan untuk pertama kalinya di sabana Afrika selama tiga minggu. Kini sudah enam setengah tahun.”

Jumlah wanita Jepang yang ingin menjadi pemandu safari meningkat karena mereka telah ditampilkan di media selama beberapa tahun terakhir ini. Ada juga orang yang benar-benar mendapatkan kualifikasi saat menyambung ke sekolah.

Selain itu ada pula pemandu safari wanita dari Inggris, Belanda dan bahkan wanita Afrika Selatan. Sudah semakin berkembang saat ini.

Pemandu safari adalah salah satu profesi paling populer di Afrika Selatan.

“Oleh karena itu, menurut saya sangat kecil kemungkinan orang asing bisa menjadi pemandu.  Mungkin sekitar 5 persen dari total menurut saya. Ada banyak orang yang langsung berhenti karena kerja keras yang tidak terduga, dan lowongan itu sendiri muncul secara teratur.”

Peran yang paling penting menurut Ota adalah menghubungkan manusia dan alam.

“Orang-orang dari seluruh dunia yang ingin melihat binatang liar dan merasakan alam akan naik mobil safari ke sabana. Penting bagi Anda untuk memahami hewan yang Anda temukan.”

“Saya tidak hanya menunjukkan bahwa hewan itu lucu, itu luar biasa, tetapi apa peran hewan itu dalam ekosistem, lingkungan di mana hewan itu berada saat ini, perlindungan seperti apa yang dibutuhkan, dan lainnya. Ini adalah tugas penting untuk membimbing orang untuk belajar tentang perlindungan lingkungan.”

Tentu saja, karena pihak lain adalah hewan liar, tidak seperti kebun binatang, tidak ada yang namanya harus pergi, pada dasarnya seperti detektif, Anda dapat menemukannya dengan mengikuti berbagai petunjuk seperti kesenangan dan jejak kaki yang ditinggalkan hewan itu. Pertama-tama, itu adalah keterampilan yang diperlukan.

“Misalnya jika kotorannya masih lunak, hewan itu masih berada di dekatnya, dan seterusnya.”

Ota mengaku harus lulus ujian tertulis dan ujian praktek yang ditetapkan oleh Asosiasi Pemandu Lapangan yang disetujui oleh pemerintah Afrika Selatan.

Juga, kualifikasi untuk menyelamatkan nyawa darurat dan surat izin mengemudi seperti surat izin mengemudi kelas dua Jepang untuk membawa penumpang dengan mobil safari juga penting. Selain itu, untuk menjadi “pemandu safari berjalan” yang turun dari mobil dan pemandu safari, diperlukan kualifikasi pemandu jejak dan lisensi penanganan senapan.

Hewan aktif di pagi dan sore hari yang sejuk, jadi pekerjaan safari dilakukan di pagi hari sebagai waktunya berburu, patroli  dan sebagainya.

Ota biasa  datang dan pergi sebagai pemandu pada daerah di sekitar 5.000 hektar.

”Saya diberitahu ketika saya diwawancarai sebelumnya, tetapi tampaknya daerah itu hampir sama dengan Daerah Edogawa di Tokyo.”

Suatu hal yang sulit diprediksi mengunjungi taman safari yang luas itu. Kadang tidak dapat menemukannya sama sekali, tiba-tiba juga menemukan sekawanan singa dan sulit diprediksi, yang juga merupakan kesenangan dari safari. Selain itu, karena informasi dibagikan di antara teman-teman, pencarian hewan dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Di taman safari tersebut bisa ditemukan Lion, salah satu dari lima besar, hampir setiap hari selama dua minggu terakhir. Ada pula gajah, sai, macan tutul, yang suka bersembunyi, “Apalagi kalau tahu ada manusia berusah amendekatinya dan mendengar suara deru mobil.”

Ada pula zebra, jerapah, dan impara, yang disebut hewan herbivora, di setiap daerah. Impara kini menjadi hewan paling melimpah di sabana.

Ota pernah  berjalan-jalan dengan sesama pemandu ketika  masih magang. Kemudian, ada seekor kuda nil di tempat air yang agak jauh,  kemudian pergi untuk  melihatnya, tetapi terlalu dekat dan kuda nil itu marah dan keluar dari tempat air itu.

Lalu Ota melarikan diri sekitar 20 meter,  seperti waktu yang lama, tapi itu terjadi dalam sekejap mata. Tampaknya  kuda nil berbalik di beberapa titik.

Ketika kita mencoba menjadi orang asing, rintangannya mungkin cukup tinggi untuk menjadi pemandu safari, tambahnya.

Hidupnya sederhana kalau tak mau dibilang pas-pasan.

“Terus terang tak punya tabungan saat ini itu mungkin yang membuat orangtua prihatin. Namun kini mereka sudah pasrahkan hidup saya kepada saya sendiri.”

Meskipun dmeikian pekerjaan tersbeut membuat Ota merasa lebih luar biasa, “Dan di sini juga Savannah yang menyadarkan kita bahwa “manusia juga bagian dari lingkaran kehidupan di alam” yang cenderung kita lupakan.”

Jika memungkinkan, saya ingin terus bekerja sampai saya menjadi nenek. Membuka sendiri perusahaan dan tetap menjadi pemandu safari di Afrika Selatan ini untuk masa depan.

Yuka Ota  lahir di Torrance Los Angeles Amerika Serikat tanggal 13 Maret 1995. Namun setelah usianya 3 tahun pulang ke Yokohma Jepang bersama orangtuanya.

Pada usia 20 tahun, ia pindah ke Afrika Selatan untuk mendaftar di sekolah pelatihan pemandu safari untuk mempelajari pemandu safari. Saat ini, satu-satunya wanita Jepang yang bekerja secara lokal sebagai pemandu safari resmi di Afrika Selatan. Meski jumlah wisatawan menurun drastis akibat bencana corona, ia antusias dengan upaya baru seperti membagikan “Virtual Safari” lewat Instagram: @yukaonsafari, YouTube: “Yuka on Safari”, Situs resmi: “Yuka on Safari”. (Uli)

loading...