Walikota Surabaya Selain Cerdas Juga Keras, Sakit-sakit pun Datang

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 13 Juli 2019

Indolinear.com, Jakarta – Memimpin suatu provinsi, kota, maupun kabupaten memang tidak mudah.

Mereka yang diberikan kepercayaan untuk mengisi posisi tersebut tentunya harus memiliki dua faktor utama, yakni kecerdasan serta ketegasan.

Seperti yang disampaikan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) dalam acara ‘Rating Kota Cerdas Indonesia’ yang digelar di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (12/7/2019).

Kecerdasan dan ketegasan diperlukan agar para pemimpin daerah bisa memberikan pelayanan yang maksimal untuk memenuhi kebutuhan warganya.

Selain itu, dalam membangun suatu daerah, seorang kepala daerah harus memahami bahwa teknologi juga memiliki peranan penting untuk mempercepat layanan tersebut.

“Untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang tinggi, maka layanan harus lebih cepat dan lebih baik. Maka pemakaian teknologi tidak bisa dihindarkan dan harus diadakan untuk mempercepat hal tersebut,” ujar Jusuf Kalla, dalam acara tersebut, dilansir dari Tribunnews.com (12/07/2019).

Karena itu, ia menilai jika kebutuhan warga sudah terpenuhi secara baik, maka daerah atau kota tersebut bisa dianggap sukses dalam melaksanakan misi pembangunan.

Kepala daerahnya pun bisa memperoleh predikat cerdas dalam membangun kota dan kabupatennya.

Ia menyampaikan bahwa keberhasilan suatu daerah, baik kota maupun kabupaten, tergantung dari kecerdasan Wali Kota dan Bupatinya.

“Itulah yang kita sebut nanti (sebagai) kota cerdas, yang penting Wali Kota cerdas, semuanya tergantung kecerdasan Wali Kota dan Bupati,” kata Jusuf Kalla.

Jika pemimpin daerah tidak memiliki kecerdasan dan ketegasan, maka pembangunan di daerah yang mereka pimpin tidak akan berjalan secara baik.

“Mau punya, mau beli macam-macam, operasi macam-macam, kalau Bupati (dan Wali Kota) tidak cerdas atau tidak kuat memakainya (ya akan sia-sia),” jelas Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla kemudian memuji Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebagai ‘Wali Kota Cerdas’ karena dianggap sebagai seorang pemimpin daerah yang tegas dan cerdas serta berhasil membangun kota Surabaya.

Keteguhan Risma, kata Jusuf Kalla, terlihat dari sikap kerasnya yang tetap hadir dalam acara tersebut padahal dirinya masih harus beristirahat lantaran sedang sakit.

Ia pun mengapresiasi keputusan Risma,

“Kayak Wali Kota Surabaya, di samping cerdas (dia) juga keras. Ibu Risma, sakit-sakit pun datang ke sini, saya terima kasih sekali lagi,” katanya.

Menurut Jusuf Kalla, Risma juga telah berhasil menyulap Surabaya menjadi kota yang bersih, sehingga layak dijuluki sebagai kota yang cerdas.

Setelah memuji Risma, ia melontarkan sindiran pada kepala daerah yang sering melakukan studi banding namun ‘minim implementasi’ di daerah yang dipimpin.

Studi banding memang biasa dilakukan banyak petinggi negara untuk ‘memetik’ pengetahuan setelah meninjau ke kota maupun negara yang dituju.

Umumnya, hasil studi banding itu akan ‘dicoba’ untuk diterapkan dalam pembangunan di tanah air.

Namun masih ada di antara mereka yang belum memanfaatkan studi banding itu secara efektif dan positif.

“Jangan hanya kita studi banding ke Singapura, Tokyo atau ke mana saja, tapi tidak melaksanakannya dengan baik (saat kembali ke daerahnya),” ujar Jusuf Kalla.

Menurutnya, studi banding tidak perlu jauh hingga ke negeri seberang, cukup menyambangi sejumlah kota di tanah air yang terbukti mampu menerapkan pembangunan kota yang baik, seperti Surabaya dan Tangerang Selatan (Tangsel).

“(Lebih baik) studi banding ke kota lain, Surabaya bersih, atau Tangerang baik, ya studi banding ke situ (saja),” jelas Jusuf Kalla.

Selain dinilai terlalu jauh, negara seperti Singapura dan sejumlah negara favorit studi banding lainnya memerlukan biaya yang mahal.

Karena itu, Jusuf Kalla menyarankan agar para kepala daerah ini melakukan studi banding di dalam negeri saja.

Hal itu karena terdapat sejumlah kota yang berhasil menerapkan pembangunan sebagai kota yang cerdas.

“Singapura terlalu jauh (untuk studi banding), dan lebih murah kalau studi banding (di Indonesia saja),” ujar Jusuf Kalla

Selain dihadiri Jusuf Kalla dan Risma, dalam acara itu hadir pula oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) Syafruddin, serta Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany. (Uli)