Walikota Bekasi Janji Pindahkan Lahan Makam Tertimbun Sampah Di Ciketing

FOTO: wartakota.tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 27 September 2021
loading...

Indolinear.com, Bekasi – Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti terkait tanah pemakaman di Ciketing, RT 3/RW 3, Sumur Batu, Bantargebang, Kota Bekasi, yang tertimbun sampah.

Rahmat mengaku akan segera melakukan pemindahan lahan pemakaman tersebut, sesuai apa yang diinginkan oleh masyarakat. Sebab lahan itu pula juga telah dibebaskan.

“Nanti minggu-minggu depan kita kesana, kita yang mindahin, kita ambil Beko kita bungkus lagi. Sudah lama itu kan,” kata kata Rahmat Effendi, dilansir dari Wartakota.tribunnews.com (26/9/2021).

Sebelumnya diberitakan, sedikitnya sebanyak 114 makam di lahan wakaf di Ciketing, RT 3/RW 3, Sumur Batu, Bantargebang dalam kondisi yang memprihatinkan.

Sebab seluruh makam yang berada di lahan seluas 814 meter persegi itu kini tertimbun oleh tumpukan sampah.

Lahan wakaf dimana makam berada memang sudah bertahun-tahun digunakan sebagai tempat pemakaman bagi warga sekitar.

Namun sejak 2017 kondisinya berubah setelah adanya zona III TPST Sumur Batu yang dikelola oleh Pemerintah Kota Bekasi.

Bagong Suyoto, selaku salah satu ahli waris makam mengatakan, sebelum adanya zona III TPST Sumur Batu, masih ada lahan yang di wakafkan untuk tempat pemakaman, selain 114 makam yang sudah ada.

Kala itu batu nisan hingga pagar pemakaman pun masih berdiri jelas.

Menurut Suyoto kurang lebih ada 114 makam keluarga yang dimakamkan di tempat pemakaman lahan wakaf tersebut.

“Bahkan dulu itu setiap malam Jumat datang pada ziarah, mau puasa itu juga kan ziarah juga, pas lebaran itu ada yang datang juga karena bapaknya, anak-anaknya juga ada di sini (pemakaman),” kata Suyoto saat ditemui Tribunbekasi.com, Jumat (24/9/2021).

Setelah adanya zona III TPST Sumur Batu yang juga bertepatan di samping lahan pemakaman tersebut, sampah-sampah terus berdatangan.

Apalagi sampah yang datang itu belum dilakukan pengolahan. Sehingga membuat jumlah volume sampah pun menggunung.

Sekitar tahun 2015, menurut Suyoto tingginya volume sampah hingga menggunung dan membuat sebagian sampah longsor.

Akhirnya sampah menimpa lahan wakaf pemakaman wakaf, dan menutupi beberapa makam dan batu nisan.

Saat itu, kata dia sempat dilakukan pengurukan atas sampah-sampah tersebut.

Namun pengurukan yang tidak hati-hati membuat batu nisan hilang.

Karena banyaknya sampah yang datang membuat area pemakaman itu pun akhirnya tergerus sampah TPST itu.

“Sekarang kondisinya seperti ini, semua makam mulai keuruk sampah. Sekirae tahun 2020 kebelakang ini yang menyedihkan, karena sampahnya nggak diolah, terus kekurangan lahan, akhirnya lari kesini. Bahkan sekarang mungkin tinggal 50 meter sisa lahan kosongnya,” katanya.

Permasalahan ini, kata Suyoto sebenarnya sudah dilakukan pembahasan ke Pemerintah Kota Bekasi.

Bahkan lahan tersebut pun juga sudah dibebaskan, hanya saja yang menjadi keluh kesah masyarakat setempat yaitu belum dilakukan pemindahan pemakaman tersebut.

“Saya dipesan sama beberapa ahli waris untuk mempercepat pemindahan. Nggak tahu bagaimana caranya lah, karena nisannya sudah nggak ada, lahannya sudah tinggal 50 meter persegi,” ujarnya.

Dengan rencana pemindahan lahan pemakaman ini pun beberapa ahli waris juga sudah mendapatkan dana sebesar Rp. 2,5 juta untuk satu makam.

Namun hingga saat ini realisasi rencana tersebut, urung dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi. (Uli)