Viral Buku Pelajaran Sebut ‘Mahar Bisa Bantu Gadis Jelek Menikah

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Minggu, 19 Juni 2022
Unik | Uploader Yanti Romauli

Indolinear.com, Jakarta – Selama ini kita sering mendengar, bahkan membaca, materi pelajaran yang tertulis di buku menimbulkan kontroversi. Materi-materi yang mendatangkan polemik itu terkadang hanya karena salah cetak, tapi tak jarang karena keteledoran pengarang maupun penerbit.

Materi-materi pelajaran yang kontroversial rupanya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negeri lain rupanya juga tidak luput dengan masalah materi pelajaran yang memicu pro dan kontra. Di India misalnya, saat ini sedang heboh membicarakan materi pelajaran sosiologi untuk perguruan tinggi.

Warganet di India ramai membicarakan foto lembaran buku pelajaran yang membahas soal manfaat mahar pada Buku Ajar Sosiologi Perawat yang dikarang TK Indrani. Bagian yang disorot adalah subjudul, ” Kebaikan Mahar” .

India memang melarang pemberian maskawin sejak 1961. Pemberian mahar sudah dilarang melalui undnag-undang. Meski demikian, pada praktiknya, masyarakat masih menerapkan pemberian mahar dari pengantin wanita untuk calon suami mereka.

Sudah begitu, buku sosiologi untuk bahan bacaan bagi mahasiswa keperawatan yang sedanag viral itu isinya sungguh membuat warganet Negeri Bollywood berang, dilansir dari Dream.co.id (17/06/2022).

Buku itu menulis daftar manfaat maskawin. Manfaat pertama, menurut buku itu, maskawin berguna untuk mendirikan rumah tangga baru dengan perabotan, peralatan seperti lemari es dan kendaraan.

Manfaat ke dua, anak perempuan mendapatkan bagian dari properti orang tua dalam maskawin.

Poin ke tiga menyatakan bahwa keuntungan tidak langsung dari sistem mahar adalah bahwa orangtua sekarang sudah mulai mendidik anak perempuan mereka sehingga saat menikah hanya memberikan sedikit mahar.

Poin ke empat paling disorot. Dalam buku itu dituliskan bahwa sistem maskawin dapat membantu mengawinkan ‘gadis-gadis jelek’.

Setelah foto halaman buku itu viral, sejumlah tokoh menandai akun Twitter Menteri Pendidikan, Dharmendra Pradhan. Para tokoh itu meminta sang menteri menghapus buku-buku tersebut dari peredaran.

Banyak warganet India yang mengkritik buku tersebut di internet. Banyak yang terkejut dengan fakta bahwa konten seperti itu diajarkan kepada siswa. (Uli)

loading...