Usaha Para Seniman Melestarikan Bangunan Tua Bersejarah Di Gaza

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 26 Desember 2020
loading...

Indolinear.com, Gaza – Terletak di jantung kota Gaza, bangunan sekolah al-Kamalaia yang berdiri sejak era Mamluk adalah salah satu dari sejumlah bangunan bersejarah yang terbengkalai. “Bangunan itu kondisinya sangat rusak dan menyedihkan, bahkan menjadi tempat pembuangan sampah,” kata Abdullah al-Ruzzi, seorang seniman dan relawan.

Al-Ruzzi dan seniman lainnya meluncurkan program Mobaderoon atau inisiator, yang berupaya “menyelamatkan” rumah dan bangunan terbengkalai yang sudah berdiri sejak zaman Kesultanan Mamluk dan Kekaisaran Ottoman, dilansir dari Tribunnews.com (25/12/2020).

Hampir 200 rumah bersejarah itu terancam dibongkar karena pembangunan kota baru. “Kurangnya kesadaran masyarakat dan pertimbangan ekonomi oleh pemilik merupakan ancaman terbesar bagi bangunan sejarah ini,” kata Ahmed al-Astal, Direktur Iwan, Institut Sejarah dan Warisan Universitas Islam Gaza. “Rumah-rumah ini adalah identitas kami, tetapi ketidaktahuan menyebabkannya hancur.”

Jalur Gaza yang kecil dan dipadati dua juta orang yang tinggal di kawasan seluas 300 kilometer persegi tersebut, membuat para ahli dan sukarelawan khawatir struktur bangunan bersejarah itu akan hilang.

Pertumbuhan populasi, konflik Israel dan Hamas, telah berkontribusi pada penghapusan banyak tanda sejarah Gaza yang berasal dari 5.000 tahun lalu. Salah satunya seperti buldoser Hamas yang telah menghancurkan sebagian besar pemukiman langka berusia 4.500 tahun dari Zaman Perunggu untuk dijadikan jalan bagi proyek perumahan.

Tidak banyak upaya pelestarian

Mobaderoon adalah salah satu program dari sedikit organisasi yang berusaha melestarikan situs kuno di Gaza. Upaya yang dilakukan biasanya terbatas ruang lingkup dan tidak memiliki rencana sistematis.

Tim membutuhkan waktu dua minggu untuk membuang sampah dari sekolah al-Kamalaia, yang namanya diambil nama Sultan Mamluk. Setiap hari, remaja putra dan putri berkumpul di sana, menyapu lantai yang berdebu, menyikat batu bata dan jendela penyangga dengan bingkai kayu.

Setelah renovasi selesai, al-Ruzzi mengatakan tujuannya adalah untuk mengubah bangunan menjadi tempat kegiatan budaya dan seni karena fasilitas seperti itu hanya sedikit di Gaza.

“Ini satu-satunya sekolah yang masih mempertahankan arsitekturnya, masih memiliki ruang kelas. Jelas bahwa sekolah ini digunakan sampai saat ini untuk pendidikan dan kegiatan menghafal Alquran karena berada di kota tua, “kata Jamal Abu Rida, Direktur Departemen Arkeologi di Kementerian Pariwisata Gaza.

Penduduk Gaza dilanda masalah keuangan, blokade Israel-Mesir, dan kini memerangi wabah virus corona. Kampanye untuk melindungi situs warisan dan arkeologi bukanlah prioritas utama, tetapi tetap mendapat sambutan baik.

“Inisiatif ini sangat penting karena tujuannya untuk melestarikan warisan budaya,” kata al-Astal.

Beberapa blok dari sekolah, ada tim lain yang sedang mengerjakan renovasi Istana Ghussein, dinamai sesuai nama keluarga yang telah memilikinya selama 200 tahun. Para pekerja mengikis batu bata untuk menghilangkan debu tebak, sementara lainnya melakukan pengukuran kusen pintu.

Pengerjaan rumah ini dimulai pada bulan Agustus dan dijadwalkan selesai pada bulan Januari mendatang. “Terbengkalai cukup lama dan memiliki banyak retakan serta masalah lainnya,” kata Nashwa Ramlawi, arsitek yang memimpin restorasi. “Tempat itu memiliki warisan dan nilai budaya yang bagus. Kami akan mendedikasikannya untuk melayani komunitas; pusat budaya, layanan, atau kegiatan sosial yang terbuka untuk semua orang.” (Uli)