Turunkan Prevalensi Stunting, Kemkominfo Mengajak Generasi Muda Mulai Gaya Hidup Sehat

FOTO: wartakota.tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 9 Juli 2021
loading...

Indolinear.com, Trenggalek – Gaya hidup sehat tidak seharusnya menjadi tren belaka, tetapi perlu dijadikan kebiasaan oleh seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali para generasi muda.

Hal ini dikarenakan para anak muda Indonesia saat inilah yang akan melahirkan generasi masa depan bebas stunting.

“Di tahun 2030 mendatang, Indonesia akan memasuki fase bonus demografi. Potensi tersebut akan menjadi sia-sia apabila sumber daya manusia mengalami stunting.” Dilansir dari Wartakota.tribunnews.com (08/07/2021).

Demikian dikatakan Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Wiryanta dalam forum “Kepoin Genbest” Trenggalek yang diselenggarakan pada Selasa (6/7/2021) secara virtual.

Angka prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia pada tahun 2019 sebesar 27,67 persen.

Angka itu masih tinggi dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 20 persen.

Prevalensi adalah jumlah kasus suatu penyakit dalam suatu populasi pada suatu waktu, sebagai proporsi dari jumlah total orang dalam populasi itu.  Prevalensi sering ditulis dalam persentase.

Presiden Joko Widodo telah menetapkan target pada tahun 2024 agar angka prevalensi stunting di Indonesia bisa turun menjadi 14 persen.

Oleh karena itu, menurut Wiryanta, untuk mencapai target tersebut Kemkominfo menyelenggarakan “Kepoin Genbest” di berbagai daerah prioritas stunting, salah satunya di Trenggalek, Jawa Timur.

Kepoin Genbest menyasar para remaja dan ibu muda agar dapat memahami dan peduli terhadap isu stunting sejak dini.

“Para remaja ini nantinya menjadi calon orang tua di masa depan. Jika kesehatan dan gizi mereka tidak dijaga sejak sekarang, maka akan berdampak buruk di masa mendatang,” ujar Wiryanta.

Pelaksana tugas Deputi Bidang ADPIN Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr Ir Dwi Listyawardani MSc DipCom yang hadir sebagai narasumber di “Kepoin Genbest” Trenggalek pun mengimbau agar remaja putri dan ibu muda mulai memperhatikan gaya hidup sejak dini.

Gaya hidup yang tidak sehat menurutnya sangat memengaruhi kondisi tubuh dan memicu terjadinya stunting bagi anak.

“Perhatikan gaya hidup mulai sekarang. Kalau masih muda, susah konsentrasi, mudah pegal-pegal, itu berarti gaya hidupnya yang salah. Penyebabnya bisa dari segi makanan, aktivitas, merokok, malas berolahraga, atau dari segi kebersihan dan sanitasi,“ ujar Dwi.

Dwi menyarankan agar remaja putri dan ibu muda mulai membiasakan diri minimal 30 menit, lima kali dalam seminggu melakukan olahraga ringan seperti aerobik dan jogging untuk menunjang gaya hidup sehat, terutama di masa pandemi Covid-19.

Selain itu, praktisi Kesehatan, Dokter Clarin Hayes mengingatkan para remaja sebagai penerus bangsa harus memiliki kesadaran terhadap isu stunting.

Dia pun mengimbau agar generasi muda mulai memperhatikan kesehatan sejak dini, tidak hanya sehat mental tetapi juga sehat secara fisik.

“Sebagai generasi muda kita harus menjaga nutrisi dari sekarang, agar nantinya kita dapat melahirkan generasi-generasi yang berkualitas tentunya untuk kemajuan bangsa,” ujar dr Clarin.

Saat ini banyak dijumpai fenomena remaja putri yang melakukan diet dengan mengesampingkan kesehatan. Clarin menambahkan, diet yang benar adalah diet tanpa harus mengorbankan aspek kesehatan.

“Khusus remaja putri yang ingin memiliki bentuk tubuh proporsional tetap harus memperhatikan asupan gizi. Jangan sembarangan mengurangi porsi makan, dan yang paling utama adalah berolahraga secara rutin,” kata dr Clarin.

Dokter Clarin menegaskan, “Bentuk tubuh yang ideal akan didapat dengan cara tersebut tanpa harus membahayakan kondisi tubuh.”

Apa itu Stunting?

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Padahal, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Pencegahan stunting bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global. (Uli)