Tujuh Kesalahan ‘Sepele’ Pilot Pesawat Yang Berakhir Maut

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 28 November 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Setiap kali seseorang menaiki pesawat terbang, nyawa mereka ‘bergantung’ pada ketelitian dan keandalan pilot dalam mengendalikan burung besi — selain faktor teknis dan cuaca.

Pikiran menakutkan tak jarang menghantui perjalanan. Belum lagi dengan adanya fakta bahwa beberapa kecelakaan pesawat terjadi akibat kesalahan dan kelalaian manusia.

Beberapa di antaranya bahkan sepele namun fatal. Seperti pilot membiarkan anak kecil bermain kemudi kontrol, salah tekan tombol, dan lainnya.

Berikut selengkapnya 7 kesalahan ‘konyol’ yang gagal dihindari pilot sehingga mengakibatkan kecelakaan pesawat, seperti dikutip dari Liputan6.com (26/11/2021).

  1. Anak Kecil di Kokpit

Pesawat Aeroflot dengan nomor penerbangan 593 yang bertolak dari Moskow menuju Hong Kong pada 1994, mengalami kecelakaan dan mengakibatkan 75 penumpang tewas.

Aeroflot jatuh di Siberia akibat kesalahan yang dilakukan oleh pilot pendamping, Yaroslav Kudrinsky, membiarkan anaknya bermain dengan kontrol pesawat.

Kecelakaan maut yang terjadi pada 23 Maret 1994 tengah malam itu terjadi saat Kudrinsky mengizinkan anaknya Yana (12) dan Eldar (15) masuk ke dalam kokpit.

Kedua remaja itu diizinkan duduk di kursi kapten dan bermain dengan kontrol yang seharusnya berada dalam mode auto pilot.

Namun ketika Eldar memegang kolom kontrol kecepatannya menurun hingga 30 detik dan menyebabkan sistem kembali manual.

Ketika pilot dan kopilot kembali ke dalam kokpit dan memegang kendali, semuanya telah terlambat. Airbus A310 jatuh dan menabrak gunung di Siberia, membunuh semua penumpang di dalam pesawat.

  1. Salah Tekan Tombol

‘Wo, tarik kembali, katup penutup (throttle) yang salah’.

Itu adalah kalimat terakhir yang terdengar dari pilot TransAsia dengan nomor penerbangan 234, sebelum pesawat itu menghantam jembatan tol Taiwan pada 4 Februari 2015.

Menurut laporan dari Taiwan’s Aviation Safety Council, burung besi itu baru saja lepas landas dari Bandara Songshan Taipei, ketika salah satu mesin pesawat tidak bekerja.

Tanpa sengaja pilot mematikan mesin, seharusnya hidup, dengan menarik katup penutup yang salah.

Kelalaian tersebut membuat pesawat menghantam daratan, meluncur, dan masuk ke dalam Sungai Keelung.

Kecelakaan tersebut ,menewaskan 43 dari 58 orang, termasuk pilot, yang berada di dalam TransAsia.

  1. Pilot Pasrah

Pada Maret 2009 pilot dan kopilot Tuninter dengan nomor penerbangan 1153, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, akibat kelalaiannya yang menyebabkan 16 penumpang tewas.

Kapten Shafik Al Gharbi dan Ali Kebaier Lassoued dituduh menyebabkan pesawat yang mereka kendarai jatuh di Laut Mediterania pada 2005, akibat memilih untuk berdoa dan tidak mengikuti prosedur darurat.

Kala itu Tuninter kehabisan bahan bakar akibat adanya kesalahan mesin dan meluncur cepat menuju lautan.

Pada saat rekaman kokpit diputar, Gharbi dapat didengar menyebutkan nama Tuhan, untuk meminta tolong.

Ada bukti yang menyatakan bahwa awak kabin mencoba untuk melakukan beberapa penanganan situasi darurat, namun akhirnya mereka panik dan pasrah.

Kecelakaan pesawat yang bertolak dari Djerba, Tunisia, menuju Bari, Italia itu mengakibatkan 16 penumpang tewas, sementara 23 penumpang lainnya berhasil selamat setelah burung besi mendarat di laut.

  1. Salah Paham

Kecelakaan itu ‘merajai’ insiden paling mematikan dalam sejarah penerbangan, dan menewaskan 583 orang.

Pada Maret 1977 dua buah pesawat Boeing 747, KLM Flight 1736 dan Pan AM Flight 1736, bertabrakan di landasan Bandara Tenerife.

Kecelakaan maut tersebut terjadi akibat adanya kesalahpahaman antara kru KLM dengan petugas kontrol bandara.

Petugas landasan bandara bermaksud memberitahukan bahwa Pan Am masih berada di lintasan, ketika KLM melakukan lepas landas.

Tebalnya kabut kala itu membuat kedua pesawat tak bisa melihat apa yang ada di hadapan mereka.

Akibatnya, tabrakan tak terelakkan dan seluruh 248 penumpang dan awak kabin yang berada di KLM tewas.

Begitu juga dengan 326 penumpang dan 9 awak kabin yang berada di dalam Pan Am.

Sekitar 54 penumpang lainnya, termasuk 7 kru dan kapten, selamat dari insiden maut tersebut.

  1. Harga Diri yang Hilang

Pesawat Airblue Flight 202 mengalami kecelakaan di dekat Islamabad, Pakistan, pada 28 Juli 2010, dan menewaskan 146 penumpang dan 6 awak kabin.

Kecelakaan itu diduga dapat dicegah apabila kopilot ‘berani’ mengubah kesalahan yang telah berkali-kali dilakukan oleh kapten pesawat.

Namun karena hinaan yang sering didapatkan dari sang pilot, kopilot merasa kehilangan ‘harga diri’ dan tak berani melawannya.

Pilot senior itu dituduh beberapa kali berbicara dengan nada keras, sombong, dan menentang, kepada asistennya selama terbang.

Dia juga dituding mengabaikan peringatan cuaca dari Air Traffic Control, dengan mengatakan ‘biarkan mereka mengatakan apa yang diinginkan’.

Kopilot tak berani menentang seniornya dan menyebabkan pesawat kesulitan dalam cuaca buruk. Pilot panik dan kehilangan kendali dan mengakibatkan pesawat menabrak Bukit Margalla.

  1. Mengabaikan Salju

Pada 13 Januari 1982 pilot pesawat Air Florida dengan nomor penerbangan 90, bertolak dari Washington DC menuju Fort Lauderdale, FLorida, melakukan banyak kesalahan sebelum burung besi yang dikendalikannya mengalami kecelakaan.

Salah satunya adalah kegagalannya untuk mengaktifkan sistem de-icing — pembersihan salju — pada mesin atau pun sayap pesawat.

Tidak hanya lepas landas dalam keadaan badai salju, kru juga keliru menggunakan pendorong es mereka untuk melelehkan salju.

Selain itu pilot juga mengabaikan peringatan masalah pada mesin dan tetap memilih untuk melanjutkan lepas landas.

Pesawat kemudian mengalami kecelakaan di Sungai Potomac, hanya 30 detik setelah lepas landas dan mengakibatkan 74 orang di dalam pesawat dan 4 warga di daratan tewas.

  1. Lampu Kebakaran

Pada 29 Desember 1972 jet Eastern Airlines Tristar mengalami kecelakaan setelah menabrak Florida Everglades.

kejadian tersebut mengakibatkan 101 orang di dalam pesawat, termasuk kapten pilot, tewas. Sementara 75 orang lainnya selamat.

Kecelakaan tersebut terjadi akibat pilot dan kopilot meninggalkan kontrol, untuk memeriksa ada kebakaran di kabin atau tidak.

Mereka merasa terganggu dengan indikator lampu kebakaran yang terus menyala, dan memutuskan untuk memeriksanya.

Saat meneliti lampu indikator roda mendarat yang rusak, seseorang tanpa sengaja menekan kontrol yang membuat autopilot menjadi tidak aktif.

Akibatnya pesawat kehilangan kendali dan pada saat pilot dan kopilot kembali ke kontrol, pengatur ketinggian pesawat telah turun.

Pesawat itu akhirnya menabrak taman nasional Florida Evergaldes. (Uli)