Tujuh Founder Startup Ini Bikin Teknologi Makin Berkembang Di Indonesia

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 3 Februari 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Perkembangan teknologi digital di Indonesia melaju sangat pesat. Pada 2018, Indonesia memiliki hampir 1.000 perusahaan rintisan (startup). Hingga akhir 2020, jumlah perusahaan teknologi di Indonesia lebih 2.000 startup dengan 4 startup berstatus unicorn dan satu decacorn.

Hampir 70 persen startup itu dibangun oleh para founder atau perintis anak muda berusia 25-38 tahun. Talenta muda Indonesia di bidang teknologi tidak kalah dibandingkan negara lain.

Berikut ini tujuh talenta muda Indonesia yang memiliki potensi untuk mengakselerasi pertumbuhan teknologi di Tanah Air yang dilansir dari Merdeka.com (01/02/2021):

  1. Adi Arriansyah

Pemuda kelahiran Semarang 30 tahun silam ini adalah pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) PT Sagara Asia Teknologi. Adi mendirikan Sagara Technology pada November 2014. Dalam situs resmi sagaratechnology.com, startup ini dibentuk sebagai kontribusi di bidang teknologi.

Berawal dari sering mengerjakan proyek pembuatan software dari dosen saat kuliah di Telkom University, Adi akhirnya memutuskan untuk mendirikan Sagara Technology.

Dalam perjalanan karirnya, Adi telah membantu ratusan klien dari berbagai korporasi dan startup yang berkontribusi cukup kuat di industri pengembangan teknologi Indonesia. Adi melayani berbagai proyek software mulai dari bank ke korporasi besar, startup ke UMKM, dan dari fintech sampai ke marketplace.

Adi juga merupakan lulusan dari program pelatihan entrepreneur Founder Institute. Ia juga menempuh pendidikan Executive Education di Harvard Business School tahun 2020.

  1. Alamanda Shantika Santoso

Alamanda seorang Founder dan Presiden Direktur Binar Academy. Perempuan berusia 32 tahun ini merupakan mantan Vice President of Product di Gojek, sebelum merintis sekolah coding Binar Academy, dengan konsep akademi tempat anak-anak bisa belajar tentang coding secara gratis.

Alumnus Universitas Bina Nusantara ini memakai teknik coding sejak usia 14 tahun. Pada saat itu, ia sering membuat situs blog menggunakan teknik coding untuk bisa menampilkan warna dan bentuk di blognya. Binar Academy adalah sebuah platform yang memfasilitasi perkembangan teknisi teknologi masa depan Indonesia melalui sekolah koding gratis untuk meningkatkan perkembangan programmer di Indonesia. Setahun beroperasi, Binar Academy telah meluluskan 400 murid, dimana sekitar 70 orang saat ini bekerja di korporasi dan startup yang bekerja sama dengan Binar Academy.

  1. Sofian Hadiwijaya

Sofian adalah Co-Founder dan CTO startup Warung Pintar, untuk memberdayakan warung di Indonesia. Salah satu alasan utamanya adalah Sofian merasakan banyak sekali proses yang tidak efisien, ketika membantu berjualan di warung milik ayahnya. Ia dan co-founder lainnya merasa tantangan yang dihadapi para pemilik warung dan UMKM ini bisa dimudahkan dengan teknologi. Kuliah di jurusan teknik (elektro, kemudian industri), Sofian belajar coding dengan membantu temannya dari jurusan IT dalam mengerjakan tugas, serta menjadi asisten pengajar.

Berusia 31 tahun, Sofian melalui platform Warung Pintar membantu lebih dari 47 ribu warung di Indonesia untuk ‘naik level’. Melalui teknologi Warung Pintar, semua proses dimulai dari inventaris, distribusi, transaksi, dan layanan warung menjadi terdigitalisasi. Pada 2019, Warung Pintar mendapat suntikan dana Rp 387,7 miliar dari OVO, SMDV, Vertex, Triputra, dan beberapa investor lainnya.

  1. Sharlini Eriza Putri

Berusia 33 tahun, perempuan ini memegang berbagai peran teknik industri sejak lulus 2009 dengan gelar sarjana teknik kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sharlini mendirikan Nusantics untuk menjual produk perawatan kulit dari bahan alami mulai 2019. Ia meninggalkan pekerjaan hariannya untuk bekerja penuh waktu di Nusantics sebagai CEO. Nusantics menghadirkan inovasi dalam produk gaya hidup bernilai tambah seperti perawatan kulit, perawatan pribadi, makanan, hingga minuman berbasis teknologi mikrobioma yang sustainable.

Baru-baru ini, perusahaan rintisan Putri ini berhasil mengembangkan dua test kit Covid-19 PCR dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi virus Corona. Generasi pertama alat uji ini pun telah didistribusikan ke 19 provinsi.

  1. Andhika Sudarman

Andhika Putra Sudarman atau kerap dipanggil Andhika Sudarman, kelahiran Tanjung Pinang dengan usia 27 tahun, adalah seorang putra bangsa yang berhasil menjadi orang Indonesia pertama dalam sejarah yang terpilih sebagai pembicara dalam pidato wisuda Harvard Law School. Andhika seorang pemuda yang menjadi satu-satunya lulusan dari Indonesia tahun ini di almamater mantan presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Sekarang, Andhika Sudarman aktif dalam pengembangan startup miliknya, Sejutacita.id, pada tahun 2020.

Seiring dengan prestasinya, Sejutacita.id merupakan platform untuk menyediakan pendidikan inklusif, wadah untuk terinspirasi dan menginspirasi, dan juga mengintegrasikan layanan pendidikan lainnya yang masih sporadis. Untuk kedepannya, Andhika berharap Sejutacita.id dapat menginspirasi generasi muda bahwa pendidikan bisa mengubah mimpi, menjadi pijakan paling kokoh untuk meniti tangga-tangga mimpi, dan sarana untuk bermetamorfosa menjadi versi terbaik diri.

  1. Farid Naufal Aslam

Farid Naufal Aslam dengan usia 26 tahun saat ini telah menjabat sebagai CEO & Co-Founder Aruna (aruna.id).

Berawal dari memenangkan kompetisi ide bisnis saat menjalani semester-semester terakhir di Telkom University, Farid dan kedua pendiri Aruna lainnya, Indraka dan Utari, telah menuturkan biaya awalnya dari biaya sendiri. Saat ini, mereka sudah mendapatkan dana dari beberapa investor untuk mematangkan business plan Aruna. Aruna menjadikan laut sebagai mata pencaharian yang lebih baik bagi semua, dengan memberdayakan nelayan lokal melalui platform yang memfasilitasi perdagangan yang adil dengan pelanggan mereka.

Saat ini, Aruna telah beroperasi di seluruh Indonesia, dari Sumatera hingga Papua, dengan memberdayakan lebih dari 15.000+ mitra nelayan di 31 titik dan membuka lebih banyak lapangan kerja di desa pesisir. Hasil dari Aruna telah mendorong Farid untuk menjadi salah satu dari Forbes 30 under 30 Asia Class of 2020, bersama dengan Indraka dan Utari sebagai pendiri Aruna.

  1. Nadia Amalia

Nadia Amalia yang merupakan lulusan finance dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) adalah CEO dan Co-Founder Chat Alia. Selama studinya, wanita berumur 25 tahun ini menemukan sebanyak 60 persen orang Indonesia masih awam dalam mengatur keuangan pribadi mereka, terutama para Milenial Indonesia yang rata-rata melakukan overspend hingga 20 persen.

Pada tahun lalu, Nadia dan timnya menyadari betapa pentingnya masalah tersebut untuk diselesaikan. Hal ini mendukung Nadia Amalia untuk meluncurkan aplikasi Chat Alia di tahun 2021 ini, yang bertujuan untuk menyediakan platform manajemen keuangan pribadi pertama dengan menggunakan Artificial Intelligence. Chat Alia menyediakan pelacakan anggaran otomatis dan rekomendasi keuangan yang dipersonalisasi berdasarkan data untuk membantu Milenial dan Gen Z mencapai tujuan keuangan mereka. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: