Tujuh Fakta Unik Soal Indera Pengecap, Indera Paling Canggih!

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Minggu, 7 Februari 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Jika ditanya indera apa dari salah satu panca indera yang paling membuat pusing para ilmuwan, jawabannya adalah indera pengecap.

Indera yang ada di lidah kita ini sebenarnya cukup canggih, hingga ilmuwan punya perkembangan baru terkait hal tersebut hingga saat ini. Bahkan, makin banyak dan makin rumit.Sains pun mengakui kerumitan dan berbagai kondisi biologis yang ada di balik indera pengecap.

Indera pengecap pun tak cuma soal rasa. Mulai letak, respons terhadap rasa, hingga sensasi tak sesuai yang kerap terjadi, membuat indera ini jadi indera paling unik.

Berikut beberapa fakta unik soal indera pengecap yang dilansir dari Merdeka.com (06/02/2021). Simak yuk!

Mahal = Enak

Dalam sebuah uji coba, partisipan diminta untuk mencoba 5 botol anggur. Anggur tersebut tak disebutkan mereknya, namun diperlihatkan harganya: 5 Pounds hingga 55 Pounds.

Namun nyatanya, mereka hanya mencoba 3 merek anggur saja dengan dua harga yang berbeda.

Uniknya, anggur murah yang diberi label harga mahal, mempengaruhi sensasi rasa yang mereka kecap. Anggur murah ini dianggap rasanya enak, dan bahkan mereka bereaksi secara fisik dan ekspresi seakan-akan mereka benar meminum anggur mahal.

Hal ini membuktikan bahwa kepercayaan bahwa sebuah gelas ini mengandung anggur yang berkualitas, sudah cukup untuk mengubah sistem neurologis kimiawi mereka.

Tak cuma soal harga, peneliti juga membuktikan bahwa partisipan akan menganggap isi minuman lebih berkualitas jika dikemas dalam botol yang lebih berat.

Mengecap di Udara

Pada 2013 lalu, maskapai penerbangan Jerman Lufthansa menemukan data yang unik dari aspek makanan dan minuman. Di udara, penumpang seringkali meminta jus tomat. Dari data Lufthansa, dalam satu tahun. 1,8 juta liter jus tomat disuguhkan ke penumpang di atas pesawat.

Akhirnya, diadakan penelitian di udara. Para partisipan diminta menumpang simulasi Airbus A310 dan peneliti mencatat minuman favoritn mereka. Benar, jus tomat adalah yang paling populer.

Ternyata, kesimpulannya adalah rasa umami. Umami adalah rasa ke lima setelah, manis, asin, pahit, dan asam. Kebisingan pesawat, kelembaban yang rendah, serta tekanan udara di kabin pesawat, membuat semua rasa akan teredam ketika dikecap (hal ini membuat makanan di pesawat terasa tak enak). Namun umami adalah pengecualian. Oleh karena itu jus tomat yang mengandung rasa gurih yang umami, membuatnya populer.

Pengecap dan Depresi

Kemampuan untuk mencicipi rasa ternyata bisa mencerminkan emosi kita. Pada berbagai kasus, kecemasan dan depresi membuat rasa menjadi hambar. Terdapat bukti bahwa beberapa penyakit mental menghambat indera pengecap mengidentifikasi rasa dari lemak serta produk susu.

Korelasi ini bisa digunakan untuk membantu orang yang menderita depresi dan kegelisahan berlebih, untuk mendapatkan perawatan yang lebih efektif. Dalam sebuah penelitian, partisipan sehat diberi antidepresan yang mengandung neurotransmitter tertentu. Dari sini, kemampuan mereka untuk mendeteksi kepahitan, sukrosa, dan asam, meningkat.

Hal ini bisa diterapkan untuk mencegah pasien depresi mendapat obat yang lebih berat: ketika indera perasa mulai pulih, penggunaan obat tak perlu diperkuat dosisnya.

Hal ini merujuk pada ketidakseimbangan kimia pada individu yang akan merasa semua makanan hambar karena emosi mereka yang sedang berat.

Misteri Rasa Air Putih

Hampir semua orang setuju bahwa air tak memiliki rasa. Terkadang air memang berasa namun karena berbagai proses penyaringan ataupun bawaan dari kran. Meski demikian, ilmuwan tak ingin sekedar jawaban bahwa air tak miliki rasa.

Air adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan, dan orang tak akan bertahan hidup tanpa air. Oleh karena itu, ilmuwan berargumen bahwa organisme perlu mengidentifikasi air dengan aroma dan rasa.

Dari sini, peneliti sudah kekurangan akal. Para ilmuwan hanya tahu bahwa rasa haus dipicu dari hipotalamus di otak, serta mulut dan lidah-lah yang mengirim pesan ke otak. Namun soal bagaimana indera pengecap merasakan rasa air dan mengirimkan sinyal tersebut ke otak, para ilmuwan masih dirundung tanda tanya. Jadi, mari kita sepakat bahwa air tak miliki rasa.

Pengecap di Usus

Mungkin terdengar tak masuk akal, namun usus manusia memiliki reseptor rasa. Hal ini seharusnya tidak aneh, karena mulut sendiri adalah awal dari proses pencernaan, dan usus adalah salah satu bagian besarnya.

Meski demikian, lidah mewakili banyak hal, mulai dari memberitahu otak lewat rasa, makanan apa yang akan dicerna sistem pencernaan. Ketika makanan tersebut mencapai usus, usus sendiri juga ikut merasakan makanan, sama seperti indera pengecap kita merasakan makanan. Namun sensasinya tak seperti ketika kita makan. Hanya saja, karena proses ini, terpiculah pelepasan hormon pengolah energi ke dalam saluran pencernaan. Hal inilah yang menjaga kadar gula tetap stabil.

Ini mengapa idnera pengecap di usus punya peran penting dalam kesehatan. Jika salah diagnosis, kenaikan berat badan akan terjadi. Atau bahkan, kacaunya penyerapan glukosa, akan sebabkan individu tersebut mengidap diabetes.

Rasa Baru

Selama ini, ternyata hanya ada empat rasa untuk makanan yang kita ketahui: manis, asin, asam, dan pahit. Selebihnya seringkali sulit dideskripsikan dengan kata-kata dan hanya merupakan aroma.

Namun hal ini berubah makin rumit sejak banyak rasa yang diklaim sebagai rasa ‘kelima.’ Akhirnya ilmuwan pun sepakat kalau rasa ‘umami’ atau bahasa Jepang dari gurih, menjadi rasa kelima. Tak ayal, rasa keenam akhirnya selalu dicari oleh ilmuwan. Seringkali banyak rasa direkomendasikan jadi rasa keenam, seperti ‘oleogustus’ atau rasa lemak, serta ‘kokumi’ yang dideskripsikan dengan rasa yang ‘kaya.’ Namun rasa keenam sebenarnya tak melekat pada keduanya, karena rasa tersebut masih terlalu luas untuk dideskripsikan.

Namun akhirnya satu rasa lagi yang mungkin akan jadi rasa ke enam, yakni rasa karbo. Secara tak disadari karbo yang terkandung di berbagai jenis makanan punya benang merah rasa yang sama.

Penelitian untuk ini dilakukan dengan memberikan larutan berbagai jenis karbohidrat kepada partisipan, dan menanyakan mereka bagaimana rasanya. Ketika ditanya, sebagian besar mereka menyamakan rasa tersebut dengan rasa ‘layaknya tepung.’ Hal ini juga sangat dipengaruhi budaya, di mana orang Asia akan berkata bahwa rasa ini ‘seperti nasi,’ dan kaukasian akan bilang bahwa rasa tersebut ‘seperti roti atau pasta.’

Jika disimpulkan, manusia bisa mengenali rasa ‘layaknya tepung’ yang terkandung di tiap karbohidrat, meski dengan cepat karbo akan diubah menjadi molekul gula. Hal ini sudah sangat menjelaskan mengapa banyak orang tak bisa lepas dari karbo, karena keunikan tertentu yang dikandungnya. Bahkan di berbagai budaya termasuk Indonesia, olahan karbo seperti nasi goreng dan mie instan adalah hal yang sangat wajar dan favorit untuk dikonsumsi dengan satu alasan: semua orang tak sadar memfavoritkan rasa dari karbo ini.

Namun sebelum masuk menjadi rasa primer, ada kriteria ketat yang harus dipenuhi oleh sebuah rasa. Hal ini berupa rasa harus bisa langsung dikenali, punya reseptor lidah sendiri layaknya rasa lain, serta memicu respons fisiologi tertentu pada tubuh.

Semua hal kecuali reseptor lidah sudah dipenuhi oleh rasa tepung tersebut, kecuali soal reseptor lidah. Rasa karbo sudah jelas bisa dikenali, dan memicu reaksi fisiologis berupa sinyal ‘sumber energi’ bagi otak yang membuat tubuh akan merasa terisi tenaga setelah makan karbo. Namun jika bicara soal reseptor lidah, mungkin karbo yang akan dipecah menjadi gula juga akan dideteksi oleh reseptor lidah yang mengidentifikasi rasa manis.

‘Sensasi’ Pedas

Seringkali jika seseorang disuruh untuk menyebutkan rasa itu apa saja, kita akan turut menyebutkan pedas, di samping manis, asin, asam dan pahit. Namun ternyata rasa pedas itu bukan termasuk rasa. Rasa pedas hanyalah sebuah sensasi belaka.

Yap, jika Anda masih ingat tentang sensor rasa yang berada di lidah, tentu Anda ingat tentang bagian lidah yang lebih peka akan rasa tertentu dibanding lainnya. Reseptor rasa manis berada di ujung, asin di samping, asam di tepi, dan pahit di bagian pangkal. Dalam penjelasan yang kita terima di bangku sekolah tersebut, tak ada reseptor rasa pedas.

Hal ini dikarenakan pedas hanya merupakan suatu sensasi panas dan terbakar yang dirasakan ujung saraf lidah atau lebih dikenal sebagai papila. Rasa pedas sendiri yang sering ditimbulkan oleh cabai, disebabkan oleh senyawa capsaicin yang terkandung dalam cabai.

Capsaicin sendiri berhubungan dengan papila bagian manapun di lidah, tidak mempunyai bagian tertentu yang lebih peka. Hal ini merupakan salah satu syarat ilmuwan untuk mengkategorikan rasa, yakni punya reseptor lidah sendiri layaknya rasa lain. Karena pedas tak mampu memenuhi kriteria ini, pedas bukan merupakan rasa.

Selain itu memang pedas tidak diterima otak sebagai rasa layaknya rasa lain. Karena ketika capsaicin sudah ‘menyentuh’ papila, saraf tersebut akan mengirim sinyal pada otak berupa sinyal rasa sakit, seakan-akan lidah kita sedang terbakar. Otak kita menangkap justru rasa sakit sebagaimana rasa pedas yang kita rasakan ketika makan sambal tersebut sedang membakar lidah kita.

Jika dimasukkan dalam konteks mengapa suatu rasa digolongkan sebagai rasa, pedas sudah tidak termasuk. Ada 3 kriteria, yakni berupa rasa harus bisa langsung dikenali, punya reseptor lidah sendiri layaknya rasa lain, serta memicu respons fisiologi tertentu pada tubuh.

Rasa pedas dengan mudah bisa dikenali, namun rasa pedas tak punya reseptor dan tak memiliki respon fisiologi tertentu pada tubuh. Mengapa? Karena reseptor tidak bereaksi terhadap komponen layaknya rasa lain. Sensasi pedas yang disebabkan senyawa capsaicin tersebut tak ada beda dengan sensasi ketika kulit kita terluka atau terbakar. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: