Tragedi Berdesakan Mematikan Di Konser Rock Ohio, 11 Orang Tewas

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 3 Januari 2021
loading...

Indolinear.com, Ohio – Sebuah konser musik rock di Cincinnati’s Riverfront Coliseum pada tahun 1973 dikenal akibat tragedi yang disebut festival seating atau tempat duduk festival, yang menelan 11 korban jiwa. Insiden tragis tersebut menjadi konser rock paling mematikan dalam sejarah.

Festival seating adalah kebijakan terkait tiket masuk umum untuk konser rock di Cincinnati’s Riverfront Coliseum pada tahun 1970-an. Istilah dan kebijakan ini kemudian tercoreng akibat 11 orang termasuk tiga siswa sekolah menengah, tewas pada 3 Desember 1979 di lokasi tersebut.

Insiden itu terjadi ketika kerumunan pemegang tiket ingin masuk ke dalam saat band rock The Who akan tampil, mereka menerobos untuk masuk Riverfront Coliseum dan berebut menuju tempat duduk festival yang belum dipesan (siapa cepat, dia yang dapat).

Dikutip dari Liputan6.com (01/01/2021), aturan terkait festival seating sejatinya telah dihilangkan di banyak tempat serupa di Amerika Serikat pada 1979, namun sistem tersebut tetap berlaku di Riverfront Coliseum. Meskipun terjadi insiden berbahaya di pertunjukan Led Zeppelin dua tahun sebelumnya. Hari itu, 60 calon penonton konser ditangkap dan puluhan lainnya terluka, ketika kerumunan di luar tempat itu berdesakan masuk ke pintu kaca yang terkunci di Coliseum.

Sementara pada tragedi 3 Desember 1979, pintu-pintu yang sama saat insiden konser Led Zeppelin terkunci, sementara kerumunan penggemar The Who terus bertambah. Konser malam itu dijadwalkan dimulai pada pukul 20.00, tetapi pemegang tiket mulai berkumpul di luar Coliseum tak lama setelah tengah hari.

Pada pukul 15.00, polisi dipanggil untuk menjaga ketertiban saat kerumunan membengkak menjadi ribuan.

Pada pukul 19.00, diperkirakan 8.000 pemegang tiket berdesak-desakan untuk mendapatkan posisi di plaza di gerbang barat Coliseum dan kerumunan mulai bergerak maju.

Detik-Detik Terjadinya Insiden

Ketika seorang letnan polisi di tempat kejadian mencoba meyakinkan promotor acara untuk membuka pintu kaca yang terkunci di pintu masuk gerbang barat, dia diberitahu bahwa kurangnya kru pengambil tiket untuk bertugas di dalam dan peraturan serikat pekerja mencegah mereka merekrut kru untuk melakukan tugas itu.

Sekitar pukul 19.20, kerumunan itu menerobos ke depan pintu dengan kuat saat satu set pintu kaca pecah dan yang lainnya terbuka.

Pihak keamanan dari Coliseum tidak terlihat untuk segera meredamkan situasi tersebut, lalu polisi segera menyadari bahwa situasi tersebut berpotensi menjadi bencana. Namun secara fisik, mereka tidak dapat memperlambat arus orang yang menorobos melalui plaza setidaknya hingga 15 menit berikutnya.

Sekitar pukul 19.45, polisi mulai masuk ke kerumunan, di mana mereka menemukan sejumlah korban yang  terbaring di tanah dan tewas akibat sesak napas.

Khawatir dengan reaksi penonton bila konser tersebut dibatalkan, petugas pemadam kebakaran Cincinnati menginstruksikan promotor untuk melanjutkan pertunjukan dan anggota The Who tidak diberitahu apa yang terjadi sampai setelah menyelesaikan lagu terakhirnya beberapa jam kemudian.

Setelah tragedi tersebut, Kota Cincinnati akhirnya menerapkan kebijakan festival seating di tempat konsernya seperti yang lain. Saat ini, prosedur pengendalian massa yang lebih baik telah mencegah terulangnya insiden semacam itu. (Uli)