Tragedi Aberfan, Ratusan Murid Sekolah Terkubur Limbah Batu Bara

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Jumat, 23 Oktober 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Limbah batu bara (coal spoil tip) di Aberfan, Wales, Inggris, longsor pada 21 Oktober 1966 dan menewaskan 144 orang.

Mayoritas dari korban jiwa tersebut adalah anak-anak yang sedang duduk di dalam ruang kelasnya di sekolah.

Ada sekitar 140.000 meter kubik limbah batu bara yang menuruni bukit dengan sangat cepat dan menghancurkan semua yang dilewatinya.

Peristiwa ini dikenal sebagai Tragedi Aberfan dan menjadi salah satu bencana dunia pertambangan terburuk di Inggris.

Ratu Elizabeth II sempat menolak mengunjungi tempat kejadian sehingga memunculkan kritik kepadanya, dilansir dari Tribunnews.com (21/10/2020).

Tambang batu bara di Aberfan

Wales terkenal dengan pertambangan batu bara selama Revolusi Industri berlangsung.

Pada puncaknya, tahun 1920, ada 271.000 orang yang bekerja di tambang batu bara Wales.

Aktivitas pertambangan batu bara menurun pada tahun 1960-an, tetapi masih ada kira-kira 8.000 penambang beserta keluarganya di sekitar Aberfan,.

Pertambangan batu bara memunculkan limbah.  Limbah batu itu ditumpuk di suatu area dan menjadi berbentuk seperti bukit.

Tambang batu bara di Merthyr Vale, tempat Aberfan berada, memiliki tujuh bukit limbah.

Pada tahun 1966 tinggi bukit yang ketujuh sudah mencapai 111 kali berisi hampir 200.000 meter kubik limbah.

Limbah itu membahayakan karena ditempatkan di atas batu pasir dan ada mata air alami di sana, terletak di bukit terjal yang berada di atas desa.

Jumlah limbah semakin bertambah sehingga membuat penduduk dan pejabat setempat khawatir.

Bukit limbah itu tepat berada di atas Pantlas Junior School yang memiliki 240 siswa.

Mereka menyuarakan kekhawatiran ini kepada National Coal Board (NCB) yang mengoperasikan tambang di sana. Namun, NCB mengabaikannya.

Longsor

Pada pekan-pekan sebelum longsor terjadi, ada curah hujan yang tinggi di Aberfan.

Air menumpuk di dalam bukit limbah dan menyebabkan limbah itu menjadi lumpur dan longsor pada 21 Oktober 1966 sekitar pukul 09.15.

Limbah itu bergerak ke bawah dengan kecepatan tinggi dan menghancurkan dua pondok pertanian sebelum mencapai Pantlas Junior School.

Lumpur membenamkan sekolah itu dan menewaskan 109 murid dan lima guru. Mereka terkubur dan tidak bisa bernapas.

Beberapa pegawai sekolah itu melakukan apa pun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan murid.

Jeff Edwards, salah satu anak yang berhasil diselamatkan, mengatakan dia mendengar tangisan dan teriakan teman-temannya setelah longsor terjadi.

Dia mengatakan suara itu semakin pelan karena anak-anak terkubur dan kehabisan napas.

Penyelamatan

Peristiwa itu terjadi dengan sangat cepat sehingga tidak ada yang bersiap. Anak-anak mengaku mendengar suara mirip suara pesawat jet ketika longsor terjadi.

Tim penyelamat dan relawan langsung menuju ke sekolah untuk membantu menyelamatkan anak-anak.

Para penambang, polisi, pemadam kebakaran, dan relawan bekerja keras membebaskan anak-anak.

Mereka bahkan menyingkirkan limbah batu bara dengan tangan kosong. Buldoser turut digunakan untuk menyingkirkan puing-puing.

Jumlah korban jiwa mencapai 144 orang, sebanyak 116 di antaranya adalah anak-anak.

Ratu Elizabeth II sempat menolak mengunjungi Aberfan sehingga memunculkan kritik. Dia awalnya mengirim suaminya, Pangeran Phillip, untuk menggantikan kunjungan resminya.

Elizabeth akhirnya datang ke Aberfan delapan hari setelah bencana itu terjadi. Beberapa tahun kemudian dia mengatakan menyesal karena tidak segera mengunjungi Aberfan.

Penyelidikan

Hasil penyelidikan mengenai bencana itu diterbitkan pada 3 Agustus 1967.

Dalam penyelidikan yang berlangsung selama 76 hari, ada 136 saksi yang ditanyai dan ada 300 barang bukti yang diperiksa.

Pengadilan menyimpukan bahwa National Coal Board adalah satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab.

Namun, Lord Robbens, kepala NCB, menyangkal semua tuduhan dihadapkan kepada perusahaan itu.

Dia mengaitkan bencana itu dengan mata air di bawah bukit limbah yang sebelumnya tidak diketahui.

Robbens juga membantah kesaksian bahwa bukit itu sudah menunjukkan tanda-tanda akan longsor.

Inggris segera membentuk Aberfan Disaster Memorial Fund dan berhasil mendapatkan dana sekitar $16,6 juta (dengan standar saat ini).

NCB kemudian menawarkan kompensasi sebesar $500 untuk setiap keluarga yang berduka. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: