Tradisi Unik Kecantikan Wanita Jepang, Gunakan Kotoran Burung Sebagai Bedak

FOTO: okezone.com/indolinear.com
Jumat, 14 Januari 2022
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Tradisi unik kecantikan wanita Jepang gunakan kotoran burung sebagai bedak agak aneh terdengar. Di Jepang terdapat sebuah tradisi unik kecantikan wanita yang menggunakan kotoran burung untuk perawatan wajah, dikenal sebagai uguisu no fun. Tradisi ini sudah ada selama periode Edo sekitar tahun 1600 silam.

Awalnya, pada periode Heain sekitar 700 Masehi di Korea kuno, mereka menggunakan kotoran burung nightingale untuk menghilangkan noda di pakaian. Kemudian pengetahuan ini diturunkan ke Jepang kuno.

Namun, orang Jepang kuno melihatnya dengan cara yang berbeda. Mereka menganggap kotoran burung nightiangale tidak hanya untuk menghilangkan noda di kimono, tetapi juga bisa menghapus riasan tebal di wajah.

Bermula dari anggapan itu, mereka mulai menggembar-gemborkan penggunaan uguisu sebagai perawatan wajah. Kemudian menggunakan uguisu untuk menghapus riasan wajah.

Selanjutnya mereka menyadari bahwa wajah menjadi lebih bersih, pori-pori mengecil, warna kulit wajah merata, dan kulit wajah memberikan kilau yang unik.

Selain itu, banyak juga wanita yang menggunakan uguisu sebagai masker. Begitu mereka menyadari tidak ada jerawat baru yang muncul dalam beberapa minggu, keajaiban perawatan wajah dengan uguisu menyebar dengan cepat di Jepang kuno.

Setelah beberapa tahun, orang di seluruh Pulau Jepang menyadari manfaat nyata dari penggunaan uguisu no fun sebagai perawatan wajah, dilansir dari Okezone.com (13/01/2022).

Pada tahun 1700-an permintaan uguisu terus meningkat. Namun, tidak dapat memenuhi banyaknya permintaan karena burung nightiangle yang langka dan cukup sulit ditangkap.

Harga yang ditawarkan pun menjadi fantastis, bahkan untuk mendapatkan sebotol uguisu no fun mencapai sebesar USD1.500 per 375 gram-nya.

Tak heran, hanya orang Jepang yang sangat kaya untuk bisa mendapat perawatan wajah tersebut. Biasanya mereka adalah permaisuri, anggota wanita keluarga kekaisaran, dan putri bangsawan feodal.

Tak heran, hanya orang Jepang yang sangat kaya untuk bisa mendapat perawatan wajah tersebut. Biasanya mereka adalah permaisuri, anggota wanita keluarga kekaisaran, dan putri bangsawan feodal.

Sementara untuk kaum laki-laki cenderung menghindari penggunaan perawatan kecantikan apapun selama periode itu. Hal ini karena tanda-tanda penuaan, seperti kerutan dan bintik-bintik dipandang sebagai tanda-tanda kebijaksanaan.

Di sisi lain, geisha selama periode itu juga mendapat hak istimewa untuk menggunakan uguisu. Itulah sebabnya istilah geisha facial diciptakan untuk pertama kali.

Meski begitu, tidak semua geisha mampu membeli sebotol uguisu, tetapi hanya geisha yang paling kaya, berpengaruh, dan berkuasa yang dapat menggunakan uguisu.

Kini, khasiat penggunaan uguisu telah dibuktikan secara ilmiah walaupun masih belum seratus persen jelas.

Seperti secara efektif dapat menghaluskan kulit, menghilangkan perubahan warna kulit, memberikan kilau kemerahan yang menakjubkan, mengecilkan pori-pori, mengatasi tanda-tanda penuaan, dan meningkatkan penampilan kulit secara keseluruhan.

Zat yang terkandung dari uguisu no fun memiliki tingkat urea yang tinggi secara alami, yang membantu kulit memertahankan kelembaban. Serta asam amino yang membuat kulit bercahaya dan melawan kerusakan akibat sinar matahari.

Sebelum digunakan pada kulit, kotoran itu menjalani sanitasi ultraviolet dan zatnya digiling menjadi bubuk putih halus. Kemudian, bubuk musky dicampur dengan air dan bahan lainnya untuk membuat masker dan dioleskan ke kulit wajah. (Uli)

loading...