Tradisi Pertunangan Terunik, Dari Nangis Sebulan Sampai Seserahan Gigi Paus

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Senin, 14 Juni 2021
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Setiap budaya tentunya punya tradisi tersendiri. Bahkan etnis dari negara yang sama pun bisa punya tradisi yang sangat berbeda. Termasuk dalam urusan pernikahan. Mulai dari lamaran, pertunangan, sampai pernikahan bisa jadi berbeda. Misalnya adat kawin culik yang dilakukan secara simbolis oleh Suku Sasak dari Lombok.

Nah, etnis di belahan bumi yang lain juga punya tradisi pernikahan yang tak kalah unik. Seperti apa? Berikut ini deretan tradisi lamaran dan pertunangan yang paling unik dari berbagai Negara, dilansir dari Merdeka.com (13/06/2021)

  1. Seserahan Gigi Paus – Fiji

Bagi orang-orang Fiji yang masih menjunjung tinggi adat, tabua atau gigi ikan paus sperma merupakan benda yang sangat penting. Barang ini biasa digunakan kepala suku sebagai alat bernegosiasi, penebusan dosa, hingga pertunangan.

Para pria yang ingin melamar pujaan hatinya akan memberikan tabua kepada ayah sang wanita. Ini adalah tindakan simbolis yang menyatakan kalau dia bermaksud meminang sang puteri. Konsepnya hampir sama dengan seserahan dalam budaya Jawa. Jika tabua diterima, pertunangan bisa dilakukan.

  1. Mengambil Liver Anak Ayam – Suku Daur Mongolia

Suku Daur adalah salah satu kelompok sub-etnis di Mongolia. Suku ini punya tradisi berpasangan yang unik dan mungkin agak ngeri bagi sebagian orang. Calon mempelai diminta menyembelih anak ayam, kemudian membuka tubuhnya dengan pisau yang dipegang bersama buat mencari liver.

Kalau pasangan tersebut berhasil mendapatkan liver yang masih utuh dan sehat, artinya hubungan mereka akan berjalan lancar. Setelah ritual tersebut dilakukan, baru mereka bisa mulai menentukan tanggal pernikahan. Kemudian, ritual dilanjutkan dengan pesta pertunangan meriah yang dihadiri keluarga kedua mempelai.

  1. Menangis Sebulan – Suku Tujia China

Bisa menikah dengan pujaan hati memang membahagiakan. Saking bahagianya, tak jarang air mata sampai menetes. Tapi di tradisi Suku Tujia, tangis bahagia bisa sampai sebulan.

Sebulan sebelum pernikahan, mempelai wanita diharapkan untuk menangis selama satu jam setiap hari. Pada hari kesepuluh, ibu sang mempelai akan melakukan hal yang sama. Sepuluh hari kemudian, sang nenek akan ikut menangis bersama keduanya. Menjelang hari pernikahan, semua wanita di dalam keluarga calon pengantin perempuan sudah ikutan menangis.

Tradisi ini dianggap sebagai perwujudan kebahagiaan untuk sang mempelai. Tak cukup sampai di situ, pada pernikahan nanti sang mempelai masih harus menyanyikan lagu pernikahan sambil tersedu-sedu.

  1. Tanda Mata Sendok Kayu Ukir – Wales

Sebenarnya ini adalah tradisi kuno di Wales. Pada zaman dahulu, para pria yang ingin menikahi pujaan hatinya diharapkan untuk memberikan ‘sendok cinta’.

Ini adalah sendok berbahan kayu yang diukir dengan indah. Dekorasi yang umum adalah kunci yang melambangkan ‘kunci’ menuju hatinya dan sejumlah manik, mewakili jumlah anak yang ingin dimiliki kelak. Tentu saja, sendok harus dibuat dan diukir sendiri untuk menunjukkan keseriusan si pria dalam meminang kekasihnya.

  1. Calon Mempelai Disiram Cairan Hitam Lengket – Skotlandia dan Irlandia Utara

Ada sebuah tradisi menjelang pernikahan unik yang dilakukan warga pedesaan di beberapa bagian Skotlandia dan Irlandia Utara. Calon pengantin pria dan wanita biasanya disiram dengan cairan hitam lengket dan berbagai jenis kotoran lainnya. Ritual ini dilakukan oleh keluarga mereka sendiri.

Setelah berlumur kotoran, pasangan ini masih harus diikat ke pohon. Tujuannya adalah untuk membuktikan kalau mereka siap untuk menghadapi hal seburuk apa pun.

  1. Tiga Cincin Pertunangan – Skandinavia

Beberapa kebudayaan di negara-negara Skandinavia juga punya tradisi pertunangan yang unik. Pada hari pertunangan, pasangan memakaikan sepasang cincin yang menjadi simbol komitmen mereka. Setelah pasangan ini dikaruniai anak, mereka akan diberikan cincin ketiga. Karena itulah, pertunangan bisa berlangsung selama tiga sampai empat tahun. Setelah itu, baru pernikahan bisa dilangsungkan.

  1. Upacara Mengetuk Pintu – Ghana

Menurut tradisi kuno Ghana, prosesi lamaran harus dimulai dengan upacara ketuk pintu dan niat melamar yang diucapkan keras-keras. Calon mempelai pria bersama keluarganya akan mendatangi rumah calon mempelai wanita. Setelah itu, mereka akan mengetuk pintu rumah dan melantangkan niatan mereka untuk melamar. Setelah ritual ini dijalankan, biasanya pernikahan bakal dilangsungkan seminggu kemudian. (Uli)