Tiga Strategi BNN Untuk Berantas Narkoba Di Indonesia

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Jumat, 31 Desember 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Badan Narkotika Nasional (BNN) bersinergi dengan berbagai elemen bangsa untuk mewujudkan Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba).

Hal tersebut dilakukan melalui program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN).

Kepala BNN RI Petrus Reinhard Golose mengatakan ada tiga strategi dalam pendekatan P4GN yakni soft power approach, hard power approach, dan smart power approach.

Petrus Golose menjelaskan, strategi soft power approach adalah tindakan preventif untuk membentuk ketahanan diri serta daya tangkal terhadap penyalahgunaan narkoba.

”Strategi ini menekankan program P4GN pada bidang pencegahan, pemberdayaan masyarakat, dan rehabilitasi,” kata Petrus Golose dalam keterangan yang diterima, dilansir dari Tribunnews.com (30/12/2021).

Satu langkah konkret dari pendekatan ini adalah pembentukan Desa Bersinar.

Desa Bersinar merupakan program unggulan bidang pencegahan dengan intervensi program P4GN di wilayah pedesaan untuk menciptakan lingkungan kondusif dan aman.

Tahun ini sudah terbentuk 346 desa bersinar.

Angka itu meningkat 100 persen dari tahun sebelumnya.

Program tersebut melibatkan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa, KPPA, KPK, BNPT, TNI, Polri, serta sektor kesehatan.

Selain itu, BNN juga membentuk dan melatih 5.913 relawan penggiat antinarkoba yang turut membantu memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba di lingkungan masing-masing.

Selanjutnya strategi hard power approach, menurut Petrus Golose, strategi ini adalah tindakan represif melalui aspek penegakan hukum yang tegas dan terukur dalam penanganan jaringan sindikat narkoba.

Sepanjang tahun 2021, BNN telah mengungkap 85 jaringan sindikat narkoba baik nasional maupun internasional.

Jaringan sindikat narkoba internasional yang paling banyak diungkap berasal dari golden triangle dan golden crescent.

Dari jaringan yang diungkap, BNN mengungkap 760 kasus tindak pidana narkoba dan mengamankan 1.109 tersangka.

”Sementara barang bukti narkoba yang disita pada 2021 adalah 3,313 ton sabu-sabu; 115,1 ton ganja; 50,5 hektare lahan ganja; dan 191.575 butir ekstasi,” kata Petrus Golose.

Strategi selanjutnya adalah smart power approach.

Lewat pendekatan ini, BNN melakukan penanggulangan permasalahan narkoba dengan memanfaatkan penggunaan teknologi informasi dan memaksimalkannya di era digital ini dalam segala aspek P4GN.

Salah satunya dengan meningkatkan teknologi intelijen serta pemutakhiran data secara digital.

BNN bersama dengan Badan Riset Dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan survei nasional penyalahgunaan narkoba tahun 2021 dengan hasil angka prevalensi secara nasional mengalami kenaikan.

”Pada kategori setahun pakai, dari yang sebelumnya 1,80 persen atau 3.419.188 pada tahun 2019, kini menjadi 1,95 persen atau 3.662.646 pada tahun 2021 dan pada kategori pernah pakai meningkat dari 2,40 persen atau 4.534.744 menjadi 2,57 persen atau 4.827.616,” kata Petrus Golose. (Uli)