Tiga Dongeng Disney Yang Diadopsi Dari Kisah Kejam

liputan6com/indolinear.com
Sabtu, 4 November 2017
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Siapa tak kenal Disney? Sebagian besar orang tentu telah mengenal rumah produksi animasi, perfilman, dan dongeng anak-anak terbesar di dunia tersebut.

Sejak didirikan pada tahun 1923, Disney seakan-akan menjadi kiblat untuk animasi dan dongeng anak-anak. Perusahaan itu terkenal dengan produk animasi orisinalnya, seperti Mickey Mouse, Donald Duck, dll.

Tak hanya itu, Disney juga kerap mengadopsi dan mereproduksi kisah tradisional atau dongeng rakyat dari penjuru dunia, seperti Mulan dari China, Pocahontas dari Penduduk Asli Amerika, dan Aladdin dari Persia.

Akan tetapi, tak banyak orang yang mengetahui bahwa beberapa kisah tradisional atau dongeng rakyat yang diadopsi dan direproduksi oleh Disney ternyata dimodifikasi dari cerita aslinya. Tindakan tersebut dilakukan oleh Disney agar cerita tradisional atau dongeng rakyat yang diadopsi dan direproduksi dapat diserap serta diterima baik oleh masyarakat umum.

Ada apa dengan cerita atau dongeng aslinya?

Menurut laporan, sejumlah kisah tradisional tersebut memiliki nuansa yang sarat akan kekerasan dan kekejaman, beberapa di antaranya seperti pelecehan seksual, kanibalisme, hingga mutilasi.

Sejumlah orang mengkritik Disney karena dianggap memanipulasi dongeng rakyat yang telah menjadi warisan turun-temurun sejumlah masyarakat dunia demi kepentingan komersial. Akan tetapi, sebagian lain berdalih bahwa tindakan Disney dapat diterima, karena unsur kekerasan dan kekejaman yang terkandung dalam cerita itu justru tak layak untuk anak-anak.

Berikut, 3 film Disney yang diadopsi dari kisah tradisional dan dongeng rakyat yang sarat dengan unsur kekejaman maupun kekerasan, seperti yang dilansir dari Liputan6.com (02/11/2017).

  1. Pocahontas

Disney mengadopsi kisah nyata tentang Pocahontas –seorang perempuan Penduduk Asli Amerika (Native American)– menjadi sebuah film animasi pada 1995. Namun, Pocahontas yang dikisahkan dalam animasi Disney ternyata didasari atas kisah palsu dan tidak akurat.

Menurut laporan sejarawan, Pocahontas masih berusia sekitar 10 tahun saat bertemu dengan Kapten John Smith –penjelajah asal Inggris– di Powhetan, Virginia, kini Amerika Serikat. Sehingga kisah romansa antara Kapten Smith dengan Pocahontas seperti yang dikisahkan dalam film animasi Disney tidaklah akurat.

Tak hanya itu, Kapten Smith diperlakukan dengan baik selama bertemu dengan Native American di Powhetan. Berbeda seperti yang dikisahkan Disney dalam film animasinya.

Setelah John Smith meninggalkan Powhetan untuk kembali ke London, Pocahontas tetap tinggal di kampung halamannya. Untuk aspek yang satu ini, Disney mengisahkannya dengan akurat.

Akan tetapi, Disney mengabaikan kelanjutan kisah hidup Pocahontas pasca-sepeninggalan Kapten Smith.

Menurut sejarawan, pada usianya yang ke-17, Pocahontas ternyata diculik dari Powhetan saat kelompok penjelajah asal Inggris lain menyerbu desanya. Bahkan suami Pocahontas pun turut dibunuh pada penyerbuan itu.

Selama berada di bawah penahanan penjelajah Inggris, Pocahontas mendapatkan kekerasan seksual dan dipaksa hamil. Tak hanya itu, ia juga dipaksa beralih ke agama Kristen dan namanya dibaptis secara paksa menjadi Rebecca.

Setelah itu, Pocahontas dinikahkan dengan seorang petani tembakau asal Inggris bernama John Rolfe.

Pada 1615, Rolfe membawa Pocahontas ke Inggris. Di sana, perempuan muda itu dipamerkan di muka umum layaknya hewan eksotis, juga sebagai simbolisasi penaklukan Inggris terhadap Native American.

Pada 1617, Rolfe membawa Pocahontas untuk kembali ke Virginia. Namun, saat baru memulai perjalanan, perempuan Native American muda itu sakit, muntah-muntah, dan kemudian meninggal di usia yang baru menginjak 22 tahun.

Menurut Linwood Custalow dan Angela Daniel, sejarawan yang mendalami kisah hidup Pocahontas, kematian perempuan 22 tahun itu dianggap tidak wajar.

“Ada dugaan kuat bahwa ia diracun oleh Inggris. Hal itu dilakukan karena mereka takut Pocahontas akan membocorkan rahasia Inggris yang akan melakukan pendudukan besar-besaran di sejumlah wilayah Native American, menandai kolonialisme Britania Raya terhadap Amerika Utara,” jelas Custalow dan Daniel dalam bukunya yang berjudul The True Story of Pocahontas; The Other Side of History.

  1. Si Bungkuk dari Notre Dame

Disney mengadopsi novel asal Prancis yang ditulis oleh Victor Hugo itu menjadi sebuah film animasi pada tahun 1996. Untuk kisah yang satu ini, sejumlah aspek cerita dari awal hingga akhir direproduksi oleh Disney agar dapat diterima oleh penonton anak-anak.

Kisah Si Bungkuk dari Notre Dame (The Hunchback of the Notre Dame) mengkisahkan Quasimodo, si gipsi bungkuk yang hidup terisolir di Gereja Notre Dame Paris untuk menghindari stigma masyarakat. Ia terjebak kisah cinta segitiga antara dirinya, gadis gipsi bernama Esmeralda, dan seorang pria tentara tampan bernama Phoebus.

Singkat cerita, mereka bertiga harus bersatu untuk melawan Hakim Frollo dari Paris yang kejam ingin membasmi penduduk gipsi. Akhir cerita mengisahkan kisah yang bahagia, Hakim Frollo berhasil di tumpas, Quasimodo merelakan Esmeralda untuk Phoebus, dan mereka bertiga hidup bahagia.

Akan tetapi, kisah itu dimodifikasi besar oleh Disney. Di awal film misalnya. Disney menggambarkan bahwa Hakim Frollo dari Prancis menolak mengadopsi si bungkuk bernama Quasimodo –tokoh utama film– yang masih bayi untuk menjadi anaknya.

Pada kisah asli Victor Hugo, Hakim Frollo justru sedari awal berkeinginan untuk mengadopsi Quasimodo kecil yang malang tersebut.

Selain itu, pada kisah yang sebenarnya, Hakim Frollo sangat tergila-gila pada Esmeralda. Bahkan, sang hakim memerintahkan Quasimodo yang telah besar untuk menguntit dan memata-matai Esmeralda.

Di sisi lain, Phoebus bukanlah ksatria tampan nan baik hati seperti yang digambarkan dalam film Disney. Ia justru merupakan pria bersuami dan hidung belang yang juga berusaha mendekati Esmeralda demi seks semata.

Phoebus berhasil memanipulasi Esmeralda untuk berhubungan seks. Akan tetapi, saat berhubungan seks, Quasimodo ternyata memata-matai keduanya dan melaporkan kejadian tersebut kepada Hakim Frollo.

Murka, Hakim Frollo melakukan intervensi dan menikam Phoebus dari belakang, lalu kemudian melarikan diri. Phoebus tewas dan Esmeralda dipersalahkan, meski bukan ia pelakunya.

Esmeralda pun dijatuhi hukuman gantung. Mengetahui hal itu, Hakim Frollo menawarkan bantuan kepada Esmeralda. Sebagai gantinya, Esmeralda harus rela dipersunting oleh Hakim Frollo.

Tak rela, Esmeralda memilih dihukum gantung ketimbang dipersunting oleh Hakim Frollo. Quasimodo yang empatik, akhirnya membunuh Hakim Frollo dengan melemparnya dari puncak menara Gereja Notre Dame.

Akhirnya, Quasimodo kemudian merangkak ke ruang bawah tanah tempat jenazah Esmeralda bersemayam. Ia kemudian meringkuk, membungkus dirinya di sekitar jenazah, dan ikut mati membusuk bersama jasad perempuan itu.

  1. Putri Duyung

Disney mengadopsi kisah karya penulis cerita anak-anak legendaris asal Denmark, Hans Christian Andersen, menjadi sebuah film animasi pada 1989 berjudul The Little Mermaid.

Pada film itu, Ariel sang putri duyung jatuh hati kepada seorang manusia bernama Eric. Singkat cerita, keduanya berhasil hidup bahagia, dengan Ariel yang kini berubah menjadi manusia, dipersunting oleh Eric.

Akan tetapi, Disney melakukan modifikasi besar pada kisah tersebut dengan memotong peristiwa akhirnya.

Merujuk pada kisah yang ditulis Andersen, setelah berubah menjadi manusia dan dipersunting oleh Eric, Ariel harus hidup dalam kondisi yang menyakitkan karena kaki manusia Ariel terus-menerus berdarah.

Namun yang lebih menyakitkan adalah, Eric meninggalkan Ariel dan menikahi perempuan lain.

Ariel pun dihadapkan pada dua pilihan setelah mengadakan perjanjian dengan seorang penyihir. Pertama, ia dapat membunuh Eric dan dapat kembali berubah menjadi ikan duyung. Atau kedua, ia membiarkan Eric hidup, namun harus mati dalam kondisi pendarahan yang menyakitkan.

Tak kuat hati membunuh Eric, Ariel pun memutuskan untuk tewas dengan cara yang menyakitkan. (Uli)