Ternyata, Inggris Kuno Juga Punya Tradisi Mumi

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Selasa, 27 Oktober 2015
loading...

Indolinear, London – Ada alasan mengapa tradisi mengawetkan jasad dengan membuat mumi populer dipraktekkan di Mesir. Yakni karena cuacanya. Iklim Timur Tengah yang panas dan kering mempermudah proses pengawetan.

Namun, baru diketahui, Kepulauan Britania Raya yang berhujan juga memiliki tradisi serupa –dan alasan iklim jugalah yang menjadikan tradisi ini tidak bertahan lama. Analisis ilmiah terbaru dari tulang-tulang manusia kuno menunjukkan, Britania Raya jaman perunggu (tahun 2500 – 800 Sebelum Masehi) merupakan tempat berkumpulnya peninggalan mumi.

Dilihat sekilas, sisa peninggalan tengkorak tidak terlihat seperti mumi. Ini karena iklim basah telah menghancurkan jaringan daging, termasuk kulit dan organ tubuh dari tulang manusia yang ditemukan dikubur di dalam tanah.

Namun,arkeologis yang telah menemukan tengkorak era perunggu, menyatakan mereka telah diawetkan dalam bentuk mumi. Pernyataan ini diungkapkan dalam sebuah studi.

“Hasilnya menunjukkan bahwa populasi era perunggu memumikan sebagian besar jasad rakyatnya, walaupun kriteria untuk seleksi belum pasti,” tulis periset.

Awal tim periset mengetahui bahwa jasad ini diawetkan, adalah dari meneliti kaitan antara kerusakan tulang dan bakteria perut. Saat seseorang wafat, bakteria dalam perut mereka, yang biasanya membantu pencernaan, akan balik ‘melawan’.

“Saat Anda wafat dan sel-sel tubuh mati, pembatas yang menjaga bakteria di tempatnya masing-masing juga tidak berfungsi,” ungkap pemimpin studi Thomas Booth, mahasiswa PhD studi ilmiah bumi di National History Museum, London.

“Bakteria tidak punya loyalitas,” ungkap Booth berkelakar. “Mereka akan menyerang jaringan lunak pada jam-jam pertama setelah kematian.”

Bakteria perut itu langsung menuju tulang, membuat lorong-lorong ukuran mikroskopis sembari memakan protein dari tengkorak orang-orang yang sudah wafat.

Arkeologis telah menyaksikan bukti dari lorong-lorong yang dibuat oleh bakteria ini, disebut ‘bacterial bioerosion’, di berbagai bagian tulang manusia. Namun, jika sebuah tubuh telah dimumikan, atau secara sengaja diawetkan dengan teknik buatan manusia, tulang-tulangnya cenderung hanya memiliki lorong mikroskopik sedikit.

Tengkorak dari Jaman Perunggu di Britania Raya menunjukkan hanya sedikit dampak dari bakteria, beberapa bahkan tidak sama sekali. Sehingga, penjelasan terbaik bagi peninggalan ini, adalah proses pemumian –yang tidak berhasil melundungi jaringan lunak yang rusak akibat iklim.

Tim riset melakukan analisis mikroskopik pada tulang-tulang dari 301 manusia, diambil dari 25 situs arkeologis Eropa. Sebagian besar, mereka melihat pada Femur, tulang panjang di kaki.

Di antara tulang-tulang itu, 34 individu berasal dari Jaman Perunggu. Lebih dari setengah sampel menunjukkan bukti bahwa saat baru meninggal, mereka langsung dikubur. Namun, 16 dari mereka memiliki ‘pengawetan tulang yang menakjubkan’, dibanding mumi dari Irlandia atau Yaman, mengindikasikan bahwa orang-orang dari jaman perunggu dimumikan langsung saat meninggal, tulis tim riset.

Penemuan ini memberi pengetahuan lebih mengenai bagaimana rakyat jaman perunggu memperlakukan jasad. Kemungkinan besar, orang-orang menggunakan metode bervariasi dalam membuat mumi, termasuk melapisi dengan lumpur rawa-rawa, mengasapkan, atau memisahkan organ-organ tubuhnya.

Studi ini merupakan pertama kalinya tim riset menggunakan tipe analisis ini untuk mengidentifikasi perawatan jasad yang spesifik pada tulang-tulang arkeologikal.(uli)

Sumber: Liputan6.com