Tentara Wanita Ukraina Harus Berparade Menggunakan Sepatu Hak Tinggi

FOTO: beritasatu.com/indolinear.com
Kamis, 8 Juli 2021
loading...

Indolinear.com, Moskwa – Militer Ukraina membela keputusannya untuk melatih tentara wanita berparade dengan sepatu hak tinggi. Seperti dilansir dari Beritasatu.com (07/07/2021), perintah menteri Pertahanan Andriy Taran itu telah menuai kecaman dari banyak pihak.

Wanita dari angkatan bersenjata Ukraina akan berbaris dalam parade untuk menandai peringatan 30 tahun kemerdekaan dari Uni Soviet pada 24 Agustus, menurut pernyataan dari Army Inform, kantor berita resmi kementerian pertahanan.

“Para tentara wanita itu telah berlatih dua kali sehari untuk menguasai langkah-langkah dan berkembang dengan baik,” kata Mayor Eugene Balabushka kepada Army Inform. Balabushka mengonfirmasi rencana untuk memakai sepatu hak tinggi selama parade.

Ivanna Medvid, seorang kadet di Institut Militer Universitas Nasional Taras Shevchenko di Kiev, telah berlatih selama lebih dari sebulan.

“Hari ini, untuk pertama kalinya, pelatihan dilakukan dengan sepatu hak tinggi. Ini sedikit lebih sulit daripada di sepatu bot, tapi kami mencoba,” katanya kepada Army Inform.

Keputusan untuk berbaris dengan sepatu hak tinggi membuat marah sejumlah anggota parlemen setelah media lokal mengambil gambar yang diterbitkan oleh kementerian pertahanan.

“Tujuan dari setiap parade militer adalah untuk menunjukkan kemampuan militer tentara. Tidak boleh ada ruang stereotip dan seksisme,” kata pernyataan bersama tiga anggota Kabinet, termasuk Menteri Urusan Veteran Yulia Laputina.

Elena Kondratyuk, wakil ketua parlemen Ukraina, bergabung dengan anggota parlemen dari kelompok lintas partai “Kesempatan yang Sama” untuk meminta Menteri Pertahanan Andrei Taran mengevaluasi kembali keputusan untuk membuat tentara wanita mengenakan sepatu hak tinggi saat berbaris.

Olga Stefanishina, wakil perdana menteri untuk Integrasi Eropa dan Euro-Atlantik Ukraina; Marina Lazebnaya, menteri kebijakan sosial; Yulia Laputina, menteri urusan veteran; dan Yekaterina Levchenko, utusan pemerintah untuk kebijakan gender, menandatangani pernyataan bersama yang mengkritik keputusan tersebut.

“Sepatu dengan tumit tidak sesuai dengan kemampuan tempur tentara, dan langkah ‘Prusia’ pada parade dengan sepatu seperti itu adalah bahaya yang disengaja untuk kesehatan tentara,” bunyi pernyataan itu.

Pernyataan itu menyusul pengumuman minggu lalu tentang alas kaki dalam parade yang direncanakan pada 24 Agustus, peringatan 30 tahun deklarasi kemerdekaan Ukraina dari Uni Soviet.

Disebutkan bahwa sekitar 57.000 wanita bertugas di angkatan bersenjata negara itu dan “mereka telah membuktikan nilai mereka bukan dengan sepatu hak tinggi, tetapi dengan senapan mesin”.

Pada Sabtu, Menteri Pertahanan Andriy Taran mengatakan dia telah menginstruksikan para pejabat untuk melihat apakah sepatu “eksperimental” – sepatu bot pergelangan kaki, menurut laporan berita – dapat dikenakan oleh taruna wanita daripada sepatu hak tinggi.

Namun militer Ukraina tidak memberikan penjelasan mengapa taruna perempuan mengenakan jenis sepatu yang berbeda dari taruna laki-laki. (Uli)