Tentara Amerika Asal Surabaya, ‘Medok’ Lancar Bahasa Jawa Ketimbang Inggris

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 4 November 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Menjadi seorang abdi negara di satuan tentara, menjadi impian sebagian besar pemuda Tanah Air. Banyak di antara mereka yang antusias mengikuti serangkaian tes ketat.

Lain halnya dengan Jovan Zachary. Pria asal Surabaya ini mengaku tak sengaja masuk sebagai Tentara Angkatan Laut Amerika. Meski cara bicaranya masih terbata, tapi ternyata ia mampu membuktikan kemampuannya.

Usai merantau sendirian ke Los Angeles, AmerikaSerikat, ia menerima ajakan untuk menjadi tentara di sana. Penasaran dengan perjalanan Jovan bisa jadi tentara di Amerika? Berikut kisahnya.

Awal Mengenal Amerika

Dia mengungkapkan kisah perjalanan hidupnya. Pertama kali mengenal Amerika, karena orang tuanya yang tinggal sekitar lima tahun di sana.

“Banyak yang tanya, gimana sih kehidupan tentara, kesehariannya ngapain aja. Singkat cerita, perjalanan menjadi tentara, jadi saya lahir di Amerika. Papa Mama saya dulu tinggal di sini lima tahun,” kata Jovan seperti dikutip dari Merdeka.com (02/11/2020).

Kembali ke Surabaya Jadi ‘Medok’ Jawa

Ciri khas bicara Jovan begitu kentara tipikal orang Jawa. Sejak kecil ia sudah tinggal di Surabaya setelah kepulangan orang tuanya.

“Terus ketika saya umur hampir setahun, akhirnya saya dibawa pulang ke Surabaya. Makane ngomong e medok gini (makanya ngomong nggak lancar ini). Aku yo bingung, ameh ngomong Indo medok, ngomong Inggris yo gak lancar makanya ngomong nggak lancar gini (saya juga bingung, mau ngomong Indonesia nggak lancar, Inggris juga nggak lancar),” ujar Jovan malu-malu.

Sendirian di Amerika

Setelah beranjak dewasa, Jovan memutuskan untuk merantau ke Amerika. Sesuai dengan keinginan orang tuanya. Meski sempat mengalami kendala, tapi semangatnya untuk memenuhi amanah orang tua, tidak pernah pudar.

“Semua kelauargaku di Surabaya, jadi saya sendirian merantau. Kosek ini aku iki ngomong e ambek baca ini, soale ora lancar, ndadak menyesuaikan (sebentar ini aku ngomongnya sambil baca, karena tidak lancar, harus menyesuaikan),” papar Jovan terbata-bata.

“Tahun lalu bulan Juli, rundingan sama Papa Mama. Ada masalah di imigrasi, terus Puji Tuhan dua bulan kemudian bisa berangkat. Pertama kalinya pergi jauh sendirian,” ceritanya.

Takut Sendirian di LA, Amerika

Awalnya, Jovan berkeinginan hidup seperti orang biasa, bisa melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah dan bekerja. Sebagai permulaan dan niat belajar lebih soal bahasa Inggris, akhirnya ia memutuskan untuk jadi pelayan rumah makan.

“Samapi di LA, wes aneh, takut. Soale dari Surabaya ke Amerika beda jauh. Kayak excited, opo sing tak lakone (apa yang harus aku lakukan) selanjutnya. Pengen hidup biasa, sekolah, ambek kerja. Karna Inggris ku nggak lancar, aku kerjo ndisik ning (kerja dulu di) restoran,” ucap Jovan.

Diajak Daftar Tentara

Tiba-tiba, sebuah ajakan hangat dari teman ayahnya Jovan. Ia menawarkan untuk menjadi tentara. Tentu saja Jovan menolak, sebab takut.

“Enek anak e temen e papa ku (ada temennya papa). De’e nganu ngajak aku dadi tentara (dia mengajak jadi tentara). Nggak gelem (mau) lah jadi tentara. Terus kok lama-lama ditawari terus, lama-lama jadi kepingin, banyak benefit e (manfaatnya),” papar Jovan.

Seiring dipikirkan lebih matang, ternyata menjadi tentara terasa menguntungkan bagi Jovan. Hingga ia memberanikan diri menuju ke San Fransisco untuk melakukan wawancara dan tes.

“Pertama, dapat asuransi, nek nggak salah seumur hidup. Kedua, sekolah dibiayai pemerintah. Terus akhire aku mutusno masuk tentara, bulan depannya saya mutusno pergi ke San Fransisco nemuin anaknya temen e papa,” jelasnya.

Takut Karena Medok

Rasa takut menyelimuti Jovan saat mengikuti serangkain tes masuk Tentara Angkatan Laut Amerika atau United States Navy, disingkat USN.

Tak disangka, ia merasa berkah Tuhan tengah menghampiri. Dia bisa mengikuti training selama dua bulan, sebagai tes selanjutnya.

“Prosesnya panjang banget. Ngomongku nggak lancar, jadi radak takut juga masuk tentara. Terus habis itu, setelah tes terakhir, saya diterima buat training selama dua bulan,” ucap Jovan.

Minta Doa Restu Orang Tua

Selama empat bulan sebelum waktu training, para peserta diberi waktu libur. Jovan menyempatkan diri kembali ke Surabaya untuk memohon doa restu keluarga dan teman-temannya.

“Setelah itu saya pulang ke Indo dulu minta doa restu sama pamitan sama keluarga, sama teman-teman. Kirain masuk tentara nanti nggak bisa bebas,” kata Jovan.

Kuliah dan Jadi Tentara Sekaligus

Kini Jovan tengah merangkak menyusun kesuksesannya. Sembari mengenyam pendidikan di kampus, ia juga ikut pelatihan militer. Sayangnya selama di lokasi, ia tidak bisa banyak mengabadikan momen latihan, karena dilarang.

“Setelah liburan, pamitan semua, balik lagi ke sini, stres lagi. Saya training dua bulan stresnya minta ampun. Untungnya saya lulus, Puji Tuhan. Sekarang saya sekolah untuk education, sekolah untuk mesin kapal,” paparnya sembari mengeluh memegangi kepala. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: