Temuan Bahan Tablet dari Rumput Laut Oleh Mahasiswa UI

tribunnewscom/indolinear.com
Kamis, 24 Agustus 2017
loading...

Indolinear.com, Depok – Kevin Dio Naldo, Revi Pribadi, dan Rezwendy adalah tiga mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (UI) yang berhasil menemukan bahan tablet obat yang cepat hancur dan cepat pecah atau mudah larut di rongga mulut pasien tanpa membutuhkan air.

Mereka menemukan bahan superdisintegran Lokal yang mana di dalam tablet akan mudah pecah dan larut dalam tubuh kurang dari 30 detik.

Dalam penelitian dan temuannya itu mereka memberdayakan mikroagla merah bernama gracilaria verrucosa dari bahan rumput laut.

Tiga mahasiswa penemu bahan tablet mudah larut tanpa air, dari bahan rumput laut.

Penelitian ketiga mahasiswa ini berada di bawah bimbingan Dosen Farmasi UI Dr. Silvia Surini, M. Pharm, Sc. Apt.

Penelitian ketiga mahasiswa UI ini dinilai turut mendukung program pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap obat impor, mengingat industri farmasi Indonesia masih mengimpor bahan disintegran.

Tablet cepat hancur atau Fast Disintegration Tablet (FDT) dalam temuan mereka merupakan tablet yang cepat pecah di rongga mulut pasien tanpa membutuhkan air.

Diketahui bahwa FDT sangat dibutuhkan bagi pasien yang mengalami kesulitan menelan seperti pasien geriatri (pasien lanjut usia), pediatrik (pasien bayi dan anak), pasien yang kesulitan mencari air, pasien yang sering muntah maupun pasien dengan gangguan jiwa.

Kevin mengatakan penelitian yang mereka lakukan ini berawal dari fakta bahwa hampir 95 persen bahan superdisintegran yang ada di Indonesia adalah produk impor.

“Berangkat dari permasalahan tersebut, kami melakukan serangkaian penelitian guna meneliti sumber superdisintegran lokal baru dari bahan di alam Indonesia. Maka digunakanlah gracilaria verrucosa atau rumput laut yang melimpah namun pemanfaatannya dalam bidang farmasi belum banyak dilakukan,” kata Kevin.

Menurut Kevin, ia dan tim memilih gracilaria verrucosa atau rumput laut dari jenis rumput laut kelas alga merah (Rhodophyceae) yang dicirikan berwarna merah hingga keunguan.

“Di Indonesia, gracilaria verrucosa ini tersebar di berbagai daerah pesisir seperti Terora, Bali; Pacitan, Jawa Timur; Sekotong, Lombok; Dompu, Sumbawa; Pelabuhan Ratu, Jawa Barat; Pantai Baron, Yogyakarta; Pulau Sawu, NTT; Sibatua, Sulawesi Selatan dan Pulau Besar, Flores. Dimana produksinya berkisar ratusan hingga ribuan ton per tahun,” kata dia.

Ia mengatakan hasil formula pembuatan tablet superdisintegran berbahan gracilaria verrucosa ini memenuhi kriteria tidak membutuhkan air untuk pecah, memiliki rasa yang enak, tidak rapuh, tidak meninggalkan residu pada mulut dan tidak dipengaruhi suhu dan tekanan.

Diharapkan katanya hasil penelitian ini mampu mendukung pemerintah untuk menciptakan bahan baku obat lokal, menekan angka impor obat serta mendorong produksi superdisintegran lokal dan memberikan informasi kepada petani tambak mengenai nilai guna lain dari gracilaria verrucosa.

“Bahwa rumput laut mereka berguna sebagai bahan farmasi superdisintegran, sehingga secara tidak langsung bisa dapat mensejahterakan para petani tambak rumput laut,” katanya. (Gie)