Tangsel di”Airin” Lagi, “Banjir” Apa yah Kedepan?

FOTO: indolinear.com
Selasa, 29 Desember 2015
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT KECANTIKAN. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Diairin. Ini bahasa tak baku yang sering didengar dalam masyarakat. Kata itu merupakan kalimat singkat yang sama artinya “terkena air”. Air sebagai zat cair juga identik dengan basah, kuyub hingga banjir.

Makna Di-Airin dalam konteks Tangsel ditulisan ini, berbeda dengan makna umum tentang air. Airin yang dimaksud adalah nama petahana yang kembali menang dalam Pilkada 9 Desember lalu. Lengkapnya, Hj Airin Rachmi Diany. Penambahan kata Di- sendiri dalam judul diatas lebih pada pemaknaan, Airin kembali pimpin Tangsel, Tangsel kembali dipimpin Airin dan lebih luas masyarakat Tangsel kembali memilih Airin.

Diairin dalam konteks bahasa Indonesia “terkena air” dan sifatnya yang basah, kuyub, sangat bisa memunculkan banjir. Di-Airin dalam konteks Tangsel dan petahana menang Pilkada dan “banjir” apa lagi Tangsel kedepannya, adalah kalimat kerja yang coba dimaknakan dengan program kerja pemerintahan yang petahana kembali pimpin.

Periode sebelumnya, saat Tangsel pertama kali di-“Airin”-kan banyak terjadi kejutan-kejutan atau bisa diistilahkan dengan, “banjir”. Sebut saja “banjir” gusuran lahan di beberapa ruas jalan yang akan dilebarkan. Banyak cerita dari banjir gusuran yang terekam. Mulai dari warga yang tidak terima karena harga tawar yang rendah, adanya gugat menggugat atas lahan yang hendak dibebaskan, hingga pada kemacetan yang menggila saat pelebaran jalan dilakukan.

Banjir lain yang tak kalah seru saat periode pertama Airin yakni, banjir sesungguhnya saat musim hujan. Jalan Arya Putra yang jadi penghubung ke Bukit dan Jombang misalnya, pernah lumpuh total karena banjir yang mencapai 2 meter. Termasuk juga di Perumahan Villa Dago Tol, luapan kali Angke pernah merendam ratusan rumah dengan ketinggian 1 meter lebih.

“Banjir” yang tak kalah spektakuler menurut saya, saat tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bolak-balik ke kantor pemerintahan Kota Tangsel dan beberapa kantor dinas. Mereka menggeledah dan masuk meminta data ke kantor dinas dan Puspemkot Tangsel. Beberapa orang PNS di Tangsel ditetapkan jadi tersangka atas dugaan korupsi.

Dari banyak banjir, menurut saya “Banjir” KPK ke Tangsel adalah yang paling melelahkan. Baik bagi masyarakat biasa yang menyaksikan drama tersebut hingga, aparatur pemerintahan di Kota Tangsel yang sempat terbelenggu atas kasus ini. Alhasil, status Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan RI pun rontok. Tangsel beberapa tahun terakhir pasca drama KPK di Tangsel hanya menerima Wajar Dengan Pengecualian (WDP).

Periode pertama Airin memimpin Tangsel atau saya gunakan kalimat pertama kali Tangsel di-“Airin”, banyak “banjir” positif dan “banjir” negatif yang terjadi dan kita saksikan. Semua itu baiknya kita sepakati telah berlalu. Apabila sudah sepakat, maka pertanyaannya, banjir apalagi yang terjadi di periode kedua Tangsel di”Airin”?

Semua pastinya berharap “banjir” nya positif. Semua “banjir” berkaitan dengan yang baik-baik dan kemajuan. Namun kita wajib mengingatkan, hasil yang positif berjalan melalui proses yang positif.

Sebagai petahana yang kembali terpilih, Airin pastinya sudah sangat tahu apa saja lubang yang harus ditambal untuk menghindari “banjir” yang negatif. Sebut saja penempatan posisi pejabat di kedinasan. Jangan lagi, ada kabar burung atau juga benar adanya, posisi atau jabatan lebih kepada politik balas budi. Airin yang sudah pengalaman diperiode sebelumnya pasti tidak mau lagi “kecolongan” akibat politik balas budi. Airin juga pastinya tidak mau juga akibat politik balas budi, segala macam program kerja yang disiapkan tidak berjalan karena yang diberi posisi, tidak mengerti tupoksinya.

Airin juga pastinya tidak mau lagi Tangsel “dibanjiri” penyidik KPK yang bolak-balik ke Puspemkot dan menetapkan anak buahnya jadi tersangka akibat kasus korupsi. Atas itu pengawasan internal dan penempatan aparatur pemerintah yang tepat menjadi kunci. Bekerja profesional adalah ibadah!

Disisi pembangunan, Airin juga pastinya sudah belajar bahwa harus ada pengawasan yang ketat dalam pembangunan infrastruktur, apapun jenisnya. Mulai dari gedung sekolah, betonisasi jalan, paving block jalan lingkungan hingga bedah rumah. Jangan sampai terulang, bedah rumah yang utamanya untuk warga miskin, harus roboh seperti yang pernah terjadi. Atau ada pembangunan sekolah yang pondasinya miring. Atau ada juga pembangunan paving block di jalan pemukiman yang belum genap setahun pembangunannya, sudah hilang dan rusak.

Airin pastinya tidak mau lagi pembangunan yang asal-asalan menjadi “boomerang” bagi pemerintahannya. Atau akibat yang serba asal-asalan itu, masyarakat malah kecewa atas pilihan mereka di Pilkada.

Apalagi berhembus kabar burung, bahwa nama Airin cukup familiar di Banten. Bahkan amalisa akademisi, politisi, hingga aktivis, nama Airin cukup menjual apabila hendak mencalonkan diri jadi Gubernur Banten periode mendatang. Catatan yang diberikan pun serupa, asalkan Airin di lima tahun kepemimpinannya kedepan, membuktikan diri bisa membangun Tangsel dan bisa terlepas dari isu “koruptus” yang membelenggu disekitarnya.

Tangsel di”Airin” lagi, “Banjir” apa yah Kedepan? Mari Berdoa, semua berjalan sempurna!

 

Penulis :

King Hendro Arifin

Pimred www.indolinear.com

 

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: