Tanggal 2 Oktober 1958 Guinea Merdeka Dari Prancis

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 4 Oktober 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Guinea menyatakan kemerdekaannya dari Prancis pada 2 Oktober 1958.

Guinea menjadi satu-satunya koloni Prancis di Afrika Barat yang memilih merdeka secara penuh daripada menjadi anggota Communauté Française.

Setelah Guinea merdeka, Prancis menarik semua bantuan ekonomi dan keuangan yang diberikan kepada Guinea.

Sekou Toure, pemimpin serikat buruh, kemudian menjadi pemimpin pertama Republik Guinea, dilansir dari Tribunnews.com (02/10/2020).

Kedatangan kolonialis Eropa

Guinea Atas masuk ke dalam wilayah Kekaisaran Mali pada abad ke-13.

Tiga abad kemudian, orang-orang Fulani menguasai wilayah Fouta Djallon, daerah pegunungan di barat-tengah Guinea.

Portugis datang ke Guinea pada abad ke-15 ketika mereka mengembangkan perdagangan budak.

Prancis dan Inggris turut memiliki kepentingan dagang di Guinea dan bersaing dengan Portugis.

Hak-hak Prancis di sepanjang pantai Guinea dinyatakan dalam Perdamaian Paris (1814).

Daerah Boke menjadi protektorat Prancis pada tahun 1849. Prancis memperkuat kekuasaannya atas wilayah pantai pada tahun 1960-an.

Fouta Jallon turut menjadi protektorat Prancis pada tahun 1881.

Prancis menghadapi perlawanan dari penduduk Guinea, tetapi resistensi ini berakhir pada tahun 1898.

Merdeka dari Prancis

Pada tahun 1891 Guinea ditetapkan sebagai wilayah Prancis yang terpisah dari Senegal.

Empat tahun kemudian, wilayah Prancis di Afrika Barat disatukan di bawah seorang gubernur jenderal.

Di bawah konstitusi Republik Prancis Keempat tahun 1946, sejumlah penduduk Afrika di Guinea yang berpendidikan Prancis diizinkan memilih wakil Majelis Nasional Prancis.

Pada September 1958 Guinea berpartisipasi dalam referendum mengenai konstitusi baru Prancis.

Daerah kekuasaan Prancis di seberang lautan diberi pilihan. Mereka bisa memilih terintegrasi secara penuh dengan Prancis atau mendapatkan status republik otonom dalam Komunitas Prancis semi-federal yang baru.

Namun, jika mereka menolak konstitusi baru itu, mereka akan segera merdeka.

Presiden Prancis Charles de Gaulle menyatakan negara yang memilih merdeka tidak akan mendapat bantuan ekonomi dan keuangan dari Prancis.

Elektotat Guinea menolak konstitus baru itu, dan Guinea menjadi negara merdeka pada 2 Oktober 1958.

Ahmed Sekou Toure, pemimpin serikat buruh di Guinea, menjadi Presiden Guinea pertama.

Guinea di bawah Toure

Toure menyebut pemerintahan di Guinea sebagai “communocracy”, yakni gabungan model Afrika dan komunis.

Namun, pemerintahan tidak berjalan baik karena ekonomi semakin memburuk.

Selain itu, sifatnya paranoid semakin menguat dalam dirinya sehingga memicu pemerintahan teror.

Mereka yang diduga membangkang dipenjara dan dieksekusi.

Ada lebih dari 250.000 rakyat Guinea yang hidup dalam pengasingan pada akhir tahun 1960-an.

Menjelang akhir masa kepresidenannya, Toure mengubah banyak kebijakannya dan mencoba menghilangkan pembatasan di bidang ekonomi. Toure meninggal pada 26 Maret 1984. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: