Tak Semua Orang Mempunyai Sidik Jari, Keluarga Ini Punya Kisahnya

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Minggu, 27 Desember 2020
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Bangladesh – Apu Sarker memperlihatkan telapak tangannya ketika dihubungi lewat sambungan telepon video di rumahnya di Bangladesh. Tak ada yang aneh kecuali permukaan ujung jarinya mulus polos tanpa sidik jari.

Apu, 22 tahun, tinggal bersama keluarganya di sebuah desa di Distrik Natore. Dia kini masih bekerja sebagai perawat. Ayah dan kakeknya adalah petani.

Anak laki-laki di keluarga Apu mengalami mutasi genetik yang sangat langka dan diperkirakan hanya terjadi pada sebagian kecil kelompok keluarga di dunia: mereka tidak punya sidik jari.

Di masa lalu kakek Apu mengatakan tidak punya sidik jari bukanlah masalah.

“Saya tidak pernah merasa tidak punya sidik jari akan menjadi masalah,” ujar Apu, seperti dilansir dari Merdeka.com (26/12/2020).

Namun setelah beberapa dasawarsa, garis melingkar-lingkar di ujung jari yang kita kenal sebagai sidik jari–atau disebut sebagai dermatoglif–menjadi data biometrik yang paling banyak dikumpulkan di dunia. Kita menggunakan sidik jari untuk semuanya, dari mulai di bandara, pemilihan umum, sampai memakai ponsel pintar.

Pada 2008 ketika Apu masih bocah, Bangladesh memberlakukan satu kartu tanda penduduk nasional bagi orang dewasa dan data yang dibutuhkan untuk membuat itu adalah cap jempol. Petugas yang kebingungan akhirnya menyerah ketika harus membuatkan kartu KTP ayah Apu, Amal Sarker. Akhirnya dia mendapat kartu KTP tanpa “sidik jari”.

Tak bisa bikin SIM

Pada 2010 sidik jari menjadi syarat wajib untuk membuat paspor dan surat izin mengemudi (SIM). Setelah mengurus sana-sini akhirnya Amal bisa mendapat paspor dengan memperlihatkan surat medis. Meski begitu dia tidak pernah memakai paspornya, terutama karena dia takut kena masalah di bandara. Dan meski SIM adalah wajib bagi dia yang mengendarai sepeda motor menuju ladang perkebunan, dia tidak pernah membuat SIM.

“Saya sudah bayar biaya membuat SIM, lulus ujiannya, tapi mereka tidak juga memberikan SIM karena saya tidak punya sidik jari,” kata dia.

Amal kemudian membawa surat bukti pembayaran pembuatan SIM ke mana-mana tapi itu tidak membuat dia lolos dari tilang–dia sudah dua kali kena tilang. Dia sudah menjelaskan kondisi dirinya kepada petugas polisi yang menilangnya, dia juga memperlihatkan ujung jarinya, tapi tetap saja dia kena tilang.

“Pengalaman itu selalu membuat saya malu,” ujar Amal.

Pada 2016, pemerintah mewajibkan kesesuaian sidik jari dengan basis data nasional bagi siapa pun yang ingin membeli kartu Sim untuk ponsel.

“Mereka kebingungan ketika saya mau membeli kartu Sim, perangkat lunak mereka error tiap kali saya menempelkan jari ke alat sensor,” kata Apu meringis. Apu tidak dibolehkan membeli kartu Sim dan akhirnya semua anggota keluarga laki-laki memakai kartu Sim atas nama ibu mereka.

Dermatologis di Bangladesh sudah mendiagnosa keluarga Apu dan menyebut kondisi itu congenital palmoplantar keratoderma, yang diyakini berkembang menjadi Adermatoglyphia tingkat dua–versi lain dari penyakit yang bisa menyebabkan kulit kering dan mengurangi kadar keringat di telapak tangan dan kaki–gejala yang dialami keluarga Sarker.

Sejumlah pemeriksaan masih dibutuhkan untuk memastikan keluarga Sarker mengalami Adermatoglyphia.

Kasus sangat langka

Kondisi langka yang dialami keluarga Sarker disebut Adermatoglyphia. Kasus ini pertama kali tersiar pada 2007 ketika Peter Itin, dermatologis asal Swiss, dihubungi oleh seorang perempuan di negaranya berusia dua puluhan yang kesulitan masuk ke Amerika Serikat. Wajahnya sesuai dengan foto di paspor tapi pihak bea cukai tidak bisa melacak sidik jarinya karena dia tidak punya.

Setelah diperiksa, Profesor Itin menemukan perempuan itu dan delapan anggota keluarganya mempunyai kondisi yang sama, ujung jarinya polos datar dan kurang kadar keringat di telapak tangannya.

“Kasus ini sangat amat langka dan hanya beberapa keluarga saja yang terdokumentasi,” kata Prof Itin.

Amal Sarker menjalani hidupnya hampir tanpa masalah tapi dia kasihan dengan anak-anaknya.

“Ini bukan kehendak saya, ini keturunan,” kata dia. “Tapi semua masalah yang dialami saya dan anak saya cukup menyakitkan.”

Amal dan Apu belum lama ini mendapat KTP khusus dari pemerintah setelah menunjukkan sertifikat medis. Kartu KTP itu juga memakai data biometrik–berupa retina dan pemindai wajah.

Namun keluarga Apu masih belum bisa membeli kartu Sim dan mendapat SIM serta paspor.

“Saya capek menjelaskan situasi ini berulang-ulang. Saya sudah minta saran dari banyak orang tapi mereka juga tidak memberi solusi,” kata Api. “Seseorang menyarankan saya ke pengadilan. Kalau semua cara yang ditempuh gagal, mungkin itu yang akan saya lakukan.”

Apu berharap dirinya bisa mendapat paspor. Dia mengatakan ingin bepergian keluar Bangladesh. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: