Tak Hanya Di Indonesia, Orang Terkaya RI Sedekah Keliling Negara Arab

FOTO: detik.com/indolinear.com
Kamis, 6 Januari 2022
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Tak sedikit orang-orang super kaya dunia yang memilih menghabiskan sebagian hartanya untuk kegiatan sosial. Para filantropis itu seakan tidak ada bosannya membagi-bagikan uangnya untuk orang-orang yang membutuhkan.

Indonesia pun punya banyak sosok filantropis semacam itu, salah satunya Dato’ Sri Tahir. Sosok yang masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia itu rajin bersedekah hingga keliling dunia.

Bahkan The United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), badan PBB untuk urusan pengungsi menobatkan Tahir sebagai Eminent Advocate ke-3. Tahir merupakan orang pertama di Asia yang mendapatkan gelar tersebut.

Eminent Advocate merupakan salah satu gelar kehormatan yang paling bergengsi dari UNHCR. Dua Eminent Advocate lainnya adalah Hamdi Ulukaya dari Amerika Serikat dan Yang Mulia Sheikha Jawaher Al Qassimi dari Sharjah, Uni Emirat Arab.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tahir datang ke negara Arab yang memiliki konflik sosial. Para pengungsi yang menjadi korban merupakan target Tahir untuk bersedekah. Sejak 2016, Tahir tercatat sudah 4 kali memberikan bantuan. Uang dengan nilai hampir ratusan miliar sudah digelontorkannya untuk bantuan sosial.

Dalam kunjungannya pada 2016, Tahir menggelontorkan 1 Juta dolar AS atau setara Rp 13 miliar rupiah (kurs saat itu) untuk pengungsi Suriah di Yordania. Bantuan tersebut disampaikan langsung oleh Tahir saat mengunjungi Kantor Perwakilan Badan Pengungsi PBB UNHCR.

Bantuan itu diberikan untuk membantu anak-anak pengungsi dan masalah kesehatan yang dialami para pengungsi, dilansir dari Detik.com (04/01/2022).

Kemudian pada 2017, Tahir juga kembali ke Yordania untuk menemui pengungsi Suriah. Dalam kesempatan itu, Tahir bahkan mengangkat seorang pengungsi anak-anak sebagai cucu. Ada 5 orang anak yang diangkat Tahir menjadi cucu.

Dia lalu memberikan bantuan US$ 200 ribu untuk cucu-cucu barunya itu. Bantuan itu khusus untuk dana pendidikan di tingkat perguruan tinggi para cucu angkatnya tersebut. Sebab, biaya pendidikan dari TK hingga SMA gratis di Yordania.

Ia mengangkat 5 orang cucu dari keluarga pengungsi Suriah yang bernama Abu Muhammad (37). Abu dan Umi Muhammad ini memiliki 4 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Mereka bernama Amani (11), Manal (9), Malak (7), Muhammad (5) dan Syam (4). Keluarga ini menetap di Kamp Pengungsian Suriah sejak tahun 2014 lalu. Abu Muhammad sebelumnya bekerja di bengkel pengecatan mobil di Suriah.

Kini keluarga tersebut sudah tinggal di Damaskus. Tahir membangunkan rumah untuk cucu angkatnya itu senilai US$ 200 ribu. Tahir sempat ingin bertemu dengan keluarga angkatnya itu saat dia di Beirut Lebanon. Tapi sayang saat itu keinginannya itu dilarang oleh Kedubes RI setempat dengan alasan keselamatan.

Setahun berikutnya, yakni 2018, filantropi itu kembali menggelontorkan pundi-pundinya untuk korban konflik di Timur Tengah. Setelah kemarin ke Yordania, Tahir kini menyumbang jutaan dolar AS untuk pengungsi Palestina dan Suriah di Lebanon.

Bantuan diberikan di kantor Kementerian Urusan Pengungsi Lebanon. Pemberian disaksikan Menteri Urusan Pengungsi Lebanon Mouin Merherby serta perwakilan UNHCR dan UNRWA. Bantuan masing-masing US$ 400 ribu untuk pengungsi Suriah dan US$ 1 juta untuk pengungsi Palestina.

Tidak hanya kepada pengungsi, Bos Mayapada Group ini juga memberikan apresiasinya kepada pemerintahan Lebanon. Menurutnya pengurus pengungsi bukanlah perkara mudah. Ia pun memberikan donasi sebesar US$ 500 ribu. Total sumbangan yang diberikan Tahir saat itu US$ 1,9 juta atau sekitar Rp 25 miliar.

Tahir pun mengaku sudah menyumbangkan hartanya senilai US$ 6 juta (Rp 84 miliar) selama 2016 hingga 2018 kepada pengungsi Suriah di Yordania. CEO Mayapada Group tersebut pun datang lagi ke kamp pengungsian Suriah di Azraq, Yordania pada 2 Oktober 2019 lalu.

Selain pengungsi Suriah, Tahir juga menaruh perhatian yang lebih terhadap Palestina lewat United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA). Pasalnya, hanya ada dua negara yang masih menyatakan dukungannya kepada Palestina.

Pada Oktober 2019, Tahir kembali memberikan bantuan kepada pengungsi Palestina lewat UNRWA. CEO Mayapada Group tersebut menyerahkan bantuan sebesar Rp 5 miliar yang diterima langsung oleh Christian F. Saunders Deputy Commisioner-General UNRWA.

Tak sampai di situ, bertolak dari kantor UNRWA, Tahir langsung menuju kantor regional UNHCR Yordania. Di sana ia menyerahkan bantuan lagi kepada pengungsi Suriah lewat UNHCR.

Bantuan diserahkannya langsung ke Alia Al-Khattar-Williams, UNHCR Assistant Representative for Protection in Jordan. Bantuan yang diberikan berjumlah Rp 2 miliar. Dengan demikian, total bantuan pada 2019 yang diserahkan Tahir untuk pengungsi Palestina dan Suriah berjumlah Rp 7 miliar.

Ada yang menarik dalam kunjungannya saat itu, Tahir mengajak sejumlah rombongan untuk bermain bola dengan anak-anak yang ada di kamp pengungsian. Terik matahari kala itu tepat di atas kepala, panasnya juga jangan ditanya. Namun, ia tertarik untuk ikut bermain bersama anak-anak tersebut bersama putranya dan cucu perempuannya. Dia juga sempat berlatih Taekwondo dengan 2 anak pengungsi.

Tahir meyakini, dengan mengamalkan sebagian hartanya ada hal lain yang ia dapatkan, namun tak melulu soal uang. Balasan atas aksi sosialnya bisa berupa kesehatan hingga keluarga yang harmonis.

“Yang saya percaya, ada balasannya, tapi balasannya tidak harus uang. Misalnya keluarga harmonis, anak kita tidak nyandu, kesehatan, punya ibadah yang baik. Itu adalah sudah barokah. Menurut saya berkat,” kata Tahir saat itu.

Kedatangannya untuk menyerahkan bantuan dari satu tempat ke tempat lainnya diyakini menjadi keuntungan tersendiri baginya. Sedangkan mereka yang kurang beruntung juga mendapatkan keberkahan dengan adanya bantuan yang diberikan.

Memang banyak sosok-sosok filantropis di dunia. Namun hanya sedikit yang mau untuk melakukan kunjungan fisik ke lokasi saat menyerahkan bantuan.

“Kalau hari ini saya bisa ke satu tempat di mana orang susah di sana, lalu saya melakukan kebaikan itu yang pertama yang diberkati saya dulu, bukan orang itu. Orang itu nanti dia dapat liburan, bantuan orang itu juga diberkati. Saya yakin saya kok dipakai, kok saya yang dikasih kesempatan, kok nggak orang lain,” pungkasnya. (Uli)