Surat Langka Dari RMS Carpathia, Kapal Penyelamat Korban Titanic

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Rabu, 17 Juli 2019

Indolinear.com, London – RMS Carpathia menjadi kapal penyelamat bagi para penyintas tragedi Titanic. Dengan gagah berani, nakhodanya, Kapten Arthur Henry Rostron membalikkan arah kapal, menerobos perairan berbahaya penuh es, mengerahkan seluruh tenaga mesin uap demi melakukan misi penyelamatan secepat mungkin.

Sang nakhoda juga memerintahkan para awak menyiapkan minuman dan sup panas untuk para penyintas. Ruang publik dalam kapal segera disulap jadi lokasi penampungan darurat. Dokter-dokter pun diminta siaga merawat korban luka.

Kapal uap penumpang trans-Atlantik itu tiba dua jam setelah Titanic karam, menyelamatkan 705 orang yang berhasil kabur dari maut dengan menaiki sejumlah sekoci.

Kisah tenggelamnya Titanic pada 15 April 1912, yang menewaskan 1.517 orang, sudah diketahui banyak orang. Namun, apa yang terjadi setelah para korban selamat ditampung di Carpathia jarang dikenang.

Baru-baru ini, kisah Kapal Carpathia kembali mengemuka. Lewat dua surat yang ditulis seorang penumpangnya. Lembaran bersejarah itu kini dilelang.

Surat bertanggal 17 April 1912 ditulis oleh Eleanor Danforth. Ia adalah penumpang Carpathia, yang menerima sinyal darurat dari Titanic dalam perjalanan dari New York ke Eropa.

Ketika bahtera yang ditumpanginya sedang menuju lokasi bencana, Danforth mengaku berdiri di dek kapal. Di tengah kegelapan, perempuan itu menyaksikan kelebat penampakan gunung es yang baru ditabrak Titanic.

Ia menambahkan, para penumpang kemudian diperintahkan kembali ke kabin masing-masing. Danforth hanya bisa menyaksikan upaya penyelamatan dari jendela kamarnya.

“Aku melihat sekoci pertama datang. Orang-orang memanjat tangga ke sisi kapal atau ditarik ke atas dengan semacam ayunan,” kata dia, seperti dikutip dari Liputan6.com (15/07/2019). “Keranjang diturunkan untuk mengangkut bayi dan anak-anak.”

Setelah itu sekoci demi sekoci yang mengangkut korban Titanic berdatangan. “Bagaimana mereka bertahan di tengah udara dingin, setengah beku, lalu harus menaiki tangga. Aku tak mengerti. Mereka berada di sekoci selama tujuh atau delapan jam…Beberapa masih mengenakan gaun malam, lainnya memakai apapun yang bisa dipakai, pakaian tidur sekalipun.”

Tergerak, Danforth membantu menyuapi dan mengganti baju dua anak asal Prancis, yang berusia sekitar 18 bulan dan tiga tahun. Ia membagikan pakaian dan barang-barangnya pada para penyintas.

“Di mana-mana penuh dengan manusia. Dua orang ditampung di kabin kami, seorang gadis dan ibunya. Keduanya bersikap manis. Kami beruntung menampung penyintas yang selamat bersama anggota keluarganya. Mereka terlihat lebih ceria.”

Surat-surat tersebut, yang diperkirakan terjual sekitar US$ 7.000 dan US$ 11.300, akan ditawarkan dibalai lelang Henry Aldridge & Son pada 21 April 2018.

Sejumlah artefak juga akan dilelang pekan ini, termasuk foto langka pemakaman korban Titanic di laut. Ada juga buku menu dari makanan yang disajikan kali pertama di kapal mewah itu.

Pada 2016, instrumen yang mengukur sudut antara dua benda yang terlihat atau sextant yang digunakan oleh kapten Carpathia terjual seharga di bawah US$ 97.000. Tiga foto dan catatan tulisan tangan yang menjelaskan secara terperinci penemuan sekoci terakhir Titanic dijual seharga US$ 6.800.

Seperti Ini Pemakaman Korban Titanic

Sebuah foto ditemukan seabad setelah tragedi Titanic. Gambar itu menunjukkan pemakaman massal para korban yang dilakukan di atas Kapal Mackay Bennett.

Jasad-jasad beku itu dikumpulkan 9 hari setelah Titanic menabrak gunung es. Dibungkus kantung mayat dan ditumpuk di pinggiran dek. Lalu, dua kru kapal menggunakan tandu, menjatuhkan mereka satu-persatu ke laut, dari sisi kapal

Foto juga menunjukkan pemuka agama yang ada di kapal, memimpin upacara pemakaman di depan para kru yang berwajah serius. Beberapa menunduk sedih.

Sebanyak 66 dari 306 jasad yang diambil Kapal Mackay Bennett dimakamkan di laut

Kebanyakan korban yang dijatuhkan ke laut diduga adalah mereka yang tak diketahui identitasnya atau penumpang kelas tiga, kelas geladak, yang tak mampu membayar biaya pemakaman.

Foto tersebut tadinya adalah milik keluarga seorang kru Mackay Bennett, yang kemudian melelangnya di rumah lelang Henry Aldridge and Sons Auctioneers di Devizes, Wiltshire.

Awak melakukan penguburan di laut pada malam hari tanggal 21 April, 22, dan 23 dan kemudian dari sore hari tanggal 24 April — saat foto diambil.

“Foto ini menyingkirkan mitos bahwa pemakaman korban Titanic dilakukan secara teratur dan bermartabat,” kata juru lelang Andrew Aldridge, seperti dimuat Daily Mail, 29 September 2013. “Anda dapat dengan jelas melihat jasad dalam karung coklat menumpuk di dek, ada 2 sampai 3 tumpukan.”

Mackay Bennet adalah kapal berbendera Kanada yang dikontrak pihak pemilik Titanic, White Star Line, seharga 300 poundsterling per hari untuk mengangkat jasad para korban.

Sementara Kapal Carpathia berhasil menyelamatkan lebih dari 700 korban selamat dari sekoci-sekoci.

Dalam penjelasannya soal pemakaman, Pendeta Hind menulis, siapapun yang menghadiri pemakaman di laut pasti akan merasakan kesan berbeda dari pemakaman di darat. Namun, “Atlantik mungkin ganas, tapi mereka yang dimakamkan di dalamnya akan beristirahat dalam damai. (Uli)

INDOLINEAR.TV