Studi: Simpanse Menjadi Lebih Bersahabat Setelah Menonton Film Bersama

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 1 Desember 2019

Indolinear.com, Washington DC – Sebuah studi ilmiah terbaru menyebut bahwa simpanse menikmati kegiatan menonton film bersama.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa ikatan sosial melalui pengalaman bersama memiliki akar evolusi yang mendalam, demikian sebagaimana dikutip dari LIputan6.com (30/11/2019).

Telah diketahui secara luas bahwa manusia dapat terikat pada aktivitas kelompok seperti menonton film atau bermain papan permainan.

Tetapi belum jelas apakah psikologi yang mendasari di balik efek ini juga ditemukan pada spesies lain, temasuk simpanse.

“Manusia memiliki beragam aktivitas ikatan sosial yang tidak kita lihat pada spesies lain karena mereka agak kultural, misalnya mendengarkan musik atau menonton film,” kata Wouter Wolf, seorang mahasiswa pascasarjana di Duke University di North Carolina, dan seorang penulis dalam penelitian terkait.

“Kami berpikir bahwa hubungan semacam ini yang tercipta pengalaman bersama adalah unik bagi manusia,” lanjutnya.

Dalam penelitian tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of Royal Society B, simpanse ditempatkan berpasangan dan diperlihatkan video pendek.

Para peneliti kemudian mengukur berapa lama waktu mereka untuk mendekati pasangan, seberapa dekat, dan berapa lama mereka tetap dekat. Itu semua merupakan tolak ukur dasar dalam menilai kualitas ikatan sosial.

Turut Diaplikasikan pada Kera Besar

Efek penelitian terkait juga diukur untuk pasangan bonobo dan kera besar yang dipasangkan dengan manusia.

Kera besar yang telah menonton video dengan spesies mereka sendiri atau manusia, mendekati pasangan mereka lebih cepat atau menghabiskan waktu lebih dekat dengan mereka, dibandingkan dengan mereka yang menonton video sendiri, para ilmuwan menjelaskan.

Temuan ini menunjukkan bahwa ikatan sosial yang diciptakan oleh pengalaman bersama, mungkin memiliki akar evolusi yang lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Hewan bisa berdiri bersama dan menyaksikan air terjun, tetapi mereka sepertinya tidak mencari pengalaman seperti itu,” kata Wolf.

“Jadi untuk waktu yang lama, kami pikir mereka tidak mampu memproses seperti itu atau mereka tidak merasakan konsekuensi psikologis dari apa yang mereka lakukan,” lanjutnya.

“Sangat menarik bahwa setidaknya beberapa bagian psikologi yang perlu kita hubungkan melalui pengalaman bersama, sebenarnya memiliki sejarah evolusi yang sedikit lebih tua daripada yang diduga sebelumnya,” pungkas Wolf.

Kritik atas Penelitian Terkait

Kurang sependapat dengan pernyataan di atas, Prof Frans de Waal, seorang ahli pirmata yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan: “Efek sinkronisasi pada perilaku … adalah mekanisme empati bawaan yang sangat tua. Apakah (kera besar) memahami pengalaman bersama, itu hal yang berbeda … saya tidak berpikir itu mudah ditunjukkan.”

Profesor de Waal juga menyinggung pendeknya jumlah waktu yang diteliti pasca-menonton film, yakni hanya selama tiga menit.

“Jadi tidak jelas apakah pengalaman bersama memperkuat ikatan sosial dalam jangka panjang,” ujar sang profesor.

Penelitian ini menggunakan hewan di penangkaran, dan para ilmuwan mengatakan tidak diketahui apakah efek yang sama akan diamati di alam liar.

Sementara itu, sebuah penelitian serupa sedang direncanakan untuk mengukur efeknya pada anak-anak.  (Uli)

INDOLINEAR.TV