Sosok Penjual Coto Makassar Yang Ternyata Seorang Direktur

FOTO: brilio.net/indolinear.com
Rabu, 9 Oktober 2019

Indolinear.com, Jakarta – Siapa sih yang tak tahu coto Makassar? Makanan tradisional asal Sulawesi Selatan ini sudah dikenal lintas suku dan budaya. Ibaratnya, makanan yang satu ini sudah menjadi sajian kuliner Nusantara. Digemari banyak orang.

Warung atau restoran yang menyajikan coto pun sudah tersebar di berbagai tempat, termasuk di Jakarta. Nah di Jalan Veteran No 71, Jakarta Pusat, ada satu warung coto Makassar yang cukup unik. Namanya Warung Coto Makassar NKRI, dilansir dari Brilio.net (07/10/2019).

Sekilas mungkin orang melihat warung ini biasa saja. Tak ada bedanya dengan warung coto Makassar pada umumnya. Tapi begitu pengunjung merasakan coto di sini, baru tahu bedanya. Kuahnya yang kental dengan potongan daging yang empuk diramu dalam racikan bumbu rempah yang menggugah selera, membuat cita rasa coto di sini benar-benar menggoyang lidah.

Istimewanya lagi, coto ini diracik langsung oleh si pemilik warung, Akbar Ali yang notabene berprofesi sebagai Direktur Kewaspadaan Nasional Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri. Wow!

Pria yang menyandang gelar doktor ilmu pemerintahan dari Fakultas Fisip Universitas Padjajaran Bandung (2009) ini punya cerita sendiri ketika memulai usaha warung coto miliknya. Padahal, bujang yang menyandang gelar S2 dari Fakultas Fisip Universitas Indonesia (2001) ini nggak punya pengalaman sebagai chef.

Lulusan (S1) Institut Ilmu Pemerintahan, Cilandak, Jakarta Selatan ini juga bukan orang yang gemar memasak. Kisahnya berawal pada 2015 silam ketika Rudi, sahabatnya datang dari kampung halaman di Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan ke Jakarta. Saat itu Akbar masih menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat Partai Politik Kemendagri.

“Dia (Rudi) ingi mendapat pekerjaan di ibukota. Saya tanya apa kelebihannya. Dia hanya bisa bikin coto Makassar. Nah dalam benak saya bagaimana bisa memfasilitasi teman saya itu berdagang coto Makassar,” kenang Akbar.

Nah ketika setiap hari ke kantor (Kemendagri), Akbar melihat ada satu ruko kosong tak terawat yang terletak bersebelahan dengan kantor Kemendagri. Dulu bangunan dua lantai itu, di bagian bawah pernah menjadi rumah makan Padang sementara lantai dua menjadi kantor sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Karena sudah ditinggalkan bertahun-tahun ruko itu menjadi sarang kelelawar. Akbar pun mencari tahu siapa pemilik ruko ini. Ternyata pemiliknya adalah pasangan suami isteri yang tinggal di sekitar Pasar Baru, Jakarta Pusat. Lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) tahun 1997 Angkatan 05 ini pun langsung menemui si pemilik.

Awalnya si pemilik menawarkan harga sewa yang sangat mahal, Rp 350 juta per tahun. Sebagai Pegawai Negeri Sipil, tentu saja Akbar tak sanggup. Namun akbar memberanikan diri menawar harga sewa dengan harga Rp 150 juta per tahun.

“Saya juga bilang ke pemiliknya karena saya pemula untuk berdagang makanan. Karena ingin membantu teman saya itu akhirnya si pemilik ruko iba dan menyetujui harga sewa yang saya minta,” kisah Akbar.

Namun Akbar masih pusing mencari uang sewa yang sudah disepakati mengingat dia hanya seorang PNS. Namun dengan berbagai cara yang halal dia pun akhirnya mendapatkan uang itu. Sebagian dia ambil dari tabungan miliknya.

Karena kondisi ruko masih berantakan, mau tak mau setiap hari Akbar harus berbenah usai pulang kerja bersama Rudi sahabatnya. Kebetulan letak ruko bersebelahan dengan tempatnya bekerja. Butuh waktu satu bulan bagi Akbar membersihkan tempat itu.

“Saya dikasih waktu peenyewaan ruko ini terhitung sejak saya masukan barang-barang. Jadi saya bersihkan selama sebulan. Kemudian setelah itu saya benahi sedikit alat-alatnya mulai dari meja dan kursi. Karena awalnya cuma Rudi sendirian yang mengerjakan coto, saya akhirnya ikut membantu,” kenang Akbar lagi.

Sejak itulah Akbar selalu ikut ke pasar bersama Rudi untuk membeli bahan baku coto sebelum berangkat ke kantor. Dari pasar dia juga harus menyiapkan bumbu dan membersihkan daging. Setelah semuanya siap, pukul 07.30 WIB, Akbar berangkat ke kantor. Hal itu dia lakukan setiap hari.

Peristiwa nahas menimpa Rudi saat pulang kampung. Ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan dirinya meninggal dunia. Karena kadung warung coto Makassar sudah berjalan, mau tak mau Akbar tetap menjalankan wirausahanya itu sendirian sepeninggal Rudi.

Pria yang dilantik menjadi direktur pada Januari 2018 ini sedikitnya sudah memiliki pengetahuan bagaimana mengolah racikan coto Makassar yang nikmat. Ini menjadi bekal Akbar untuk terus menjalankan usaha yang dirintis bersama sahabatnya itu. “Saya sedikit punya bekal dan pengalaman tata cara membuat coto. Alhamdulillah berjalan sampai sekarang,” ujar Akbar.

Jiwa entrepreneurship Akbar sebenarnya sudah terasah sejak dirinya menjadi mahasiswa. Maklum sebagai orang perantauan di Jakarta dia harus bisa survive. Saat menempuh kuliah jenjang S1, Akbar pernah berbisnis kecil-kecilan dengan berjulan berbagai keperluan mulai sarung handphone, kartu perdana, dan voucher isi ulang operator seluler, hingga kain.

Dalam benaknya apapun yang bisa dijadikan uang secara halal maka akan dia lakukan. Kebetulan Akbar kuliah di Jakarta karena ikatan dinas dari pemerintah Kabupaten Wajo, Sulsel. Malah saat menempuh kuliah S2 di Universitas Indonesia, Akbar tak jarang menitipkan dagangannya (sarung HP) ke penjual di setiap stasiun commuter line ketika itu. Maklum, saat itu sejumlah pedagang masih bisa berjualan di sekitar stasiun. Tidak seperti sekarang.

“Saat mahasiswa saya ini pernah susah. Maka ketika melihat teman dari kampung susah, minimal saya bisa membantu mereka. Kita saling membantu sesama orang perantauan,” ujar Akbar.

Nah sejak diangkat menjadi direktur, tentu saja tugasnya semakin berat. Tak mungkin Akbar bisa mengelola warung coto sendirian. Ia pun mengajak sang kakak untuk membesarkan warung ini. “Karena tidak mungkin saya sepenuhnya mengelola ini sendirian sementara pekerjaan saya juga banyak dan berkaitan dengan urusan negara yang penting,” katanya.

Tapi untuk urusan membeli bahan baku tetap ia lakukan sampai sekarang. Cara itu untuk memastikan bahan baku terutama daging yang digunakan benar-benar sehat, halal, dan higienis.

Oh iya, warung coto Makassar miliknya punya cara unik dari sisi marketing. Pada momen tertentu pengunjung bisa makan gratis di warung ini. Ketika Hari Ibu, semua perempuan bisa makan gratis. Begitu juga ketika ada kegiatan donor darah di Kemendagri. Pendonor bisa makan gratis, cukup menunjukkan bukti sudah berdonor darah. “Termasuk saat bulan suci Ramadhan kita memberikan takjil gratis pada pengguna jalan yang lewat di depan warung untuk berbuka,” ucap Akbar.

Di warung ini pengunjung juga bisa menikmati sajian khas Makassar lainnya seperti palu mara (sajian laut), jalangkote (mirip pastel), pisang ijo, barongko pisang, dan lain sebagainya. Buat pengunjung yang tak suka makanan Makassar, warung ini juga menyediakan sajian prasmanan.

Karena itu Akbar sengaja menamakan warung miliknya dengan menambahkan kata NKRI. Sebagai PNS ia ingin berkontribusi terhadap penguatan cinta NKRI lewat kuliner. Dalam pandangannya, meski coto berasal dari Makassar, tapi makanan ini bisa dinikmati seluruh budaya, daerah, dan kesukuan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Dia berharap semua pihak mulai dari pemerintah, dunia usaha termasuk di industri kuliner bisa menonjolkan simbol-simbol negara. Menurutnya warung itu tempat berdatangan orang dari berbagai etnis, ras, dan agama untuk menikmati cita rasa kuliner. Di dalam warung, rasa persaudaraan dan persatuan bisa terjalin. Sosok yang inspiratif.  (Uli)