Sosok Nadia Murad, Peraih Nobel Perdamaian Bekas Budak Seks ISIS

FOTO: brilio.net/indolinear.com
Rabu, 17 Juli 2019

Indolinear.com, Jakarta – Nadia Murad, perempuan cantik Yazidi, Irak Utara berusia 25 tahun, pernah merasakan menjadi seorang budak seks kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) selama tiga bulan. Ia diculik milisi ISIS pada 2014 dan dijadikan budak seks, diperjualbelikan beberapa kali hingga ia berhasil meloloskan diri.

Setelah ia lolos dan keluar dari Mosul, Irak, ia bertemu dengan Nafiseh Kohnavard, seorang wartawan BBC. Murad menceritakan kejadian ini kepada wartawan BBC dan tak masalah jika identitasnya diungkap. Ia beralasan dunia harus tahu apa yang terjadi terhadap perempuan-perempuan Yazidi, dilansir dari Brilio.net (15/07/2019).

Dua tahun kemudian, dalam wawancara khusus dengan BBC, ia membeberkan bagaimana ia bisa lolos dan apa yang ia alami selama menjadi budak seks kelompok milisi ISIS. Murad mengaku jika milisi ISIS di Mosul ada di mana-mana. Berkali-kali ia mencoba kabur melewati jendela, tapi tertangkap, dimasukkan kedalam sel tahanan dan diperkosa ramai-ramai oleh milisi ISIS yang berjaga di dalam sel. Sejak saat itu, Murad tidak lagi memikirkan untuk meloloskan diri lagi.

Peluang Murad untuk lolos muncul saat milisi ISIS terakhir yang menjaga Murad hidup sendiri di Mosul. Milisi berniat akan menjual Murad dan memintanya untuk membersihkan diri. Saat milisi ini keluar, Murad kembali menemukan keberaniannya. Ia meninggalkan rumah dan meminta bantuan ke rumah salah satu tetangga di Mosul. Ternyata rumah tetangga itu adalah satu keluarga Muslim yang tidak memiliki hubungan dengan ISIS. Keluarga ini memberikan Murad sebuah abaya hitam, kartu identitas baru, dan membawa Murad ke perbatasan hingga akhirnya ia bisa lolos dari Mosul.

Sejak lolos menjadi budak ISIS pada November 2014, Murad aktif mengampanyekan penolakan penyelundupan manusia, dan menyerukan kepada dunia agar mengambil langkah tegas atas adanya pihak-pihak yang menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang.

Tahun 2006, Murad mendapatkan penghargaan hak asasi manusia Vaclav Havel dari para Dewan Eropa. Saat menerima penghargaan ini di Starsbourg, Prancis, Murad mendesak milisi ISIS untuk diadili di pengadilan internasional.

Keberanian Murad mendapatkan penghormatan yang tinggi oleh PBB, hingga PBB mengangkatnya sebagai duta besar khusus pada tahun 2017. Tahun ini, ia mendapatkan Nobel perdamaian atas penghargaan keberaniannya menyuarakan desakan terhadap perbudakan seks yang pernah ia alami. (Uli)

INDOLINEAR.TV