Sosok Mayor Jenderal Qassim Soleimani, Pimpinan Elite Iran Yang Tewas

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 5 Januari 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Komandan tertinggi Iran, Jenderal Qassim Soleimani dikabarkan tewas.

Kematian Soleimani dikonfirmasi oleh Pentagon pada Kamis malam (2/1/2020).

Ia merupakan tokoh kunci politik Iran dan Timur Tengah.

Dikabarkan, tewasnya Pemimpin Unit Pasukan Khusus tersebut memperkeruh ketegangan yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Lantas, siapa sebenarnya sosok Soleimani ini?

Berikut ini profil Qassim Soleimani yang dilansir dari Tribunnews.com (03/01/2020):

Qasem Soleimani atau Ghasem Soleimani merupakan Komandan Pasukan Satuan Elite Garda Revolusi Iran, Qods Force.

Ia kerap dijuluki pasukan bayangan (Shadow Commander) oleh media-media Barat.

Sosoknya diyakini sebagai otak operasi intelijen Iran hampir disemua palagan Timur Tengah.

Di antaranya, Irak, Afghanistan, Lebanon, Suriah, dan Yaman.

Dipandang sebagai Musuh yang Tangguh

Para pejabat Amerika Serikat mengamati Soleimani.

Menurut mereka, Soleimani merupakan musuh yang tangguh.

Dikabarkan, setelah Amerika melakukan invasi ke Irak pada 2003 untuk menggulingkan Saddam Hussein.

AS menuduh Soleimani merencanakan serangan terhadap Amerika.

Ahli Strategi Berpengaruh

Tanggung jawab Soleimani dalam memimpin Pasukan Quds Korps mendapat pengakuan.

Pemimpin dari Pengawal Revolusi Islam diakui sebagai ahli strategi utama di balik usaha dan pengaruh militer Iran di beberapa tempat.

Di antaranya Suriah, Irak, dan tempat lain di kawasan itu dan di luarnya.

Pejabat senior Intelijen Irak menyebut, Soleimani menggambarkan dirinya sebagai ‘satu-satunya otoritas untuk tindakan Iran di Irak’.

Kabar tewasnya komandan elite Iran

Pentagon mengonfirmasi pemimpin militer tertinggi Iran, Jenderal Qassem Soleimani tewas dalam serangan pesawat tak berawak Amerika Serikat (AS) di Baghdad.

Kabar tersebut dikonfirmasi setelah kematiannya dilaporkan melalui tayangan televisi pemerintah Iran dan media Irak, Kamis malam (2/1/2020).

Diketahui, Soleimani merupakan Komandan Pasukan Al Quds Garda Republik Iran.

Ia merupakan tokoh kunci politik Iran dan Timur Tengah.

Kematian Soleimani kian memperburuk ketegangan yang sudah terjadi di antara Iran dan AS.

Kabarnya, kematian Soleimani dikhawatirkan akan memicu serangan balasan dari pasukan Iran.

Pernyataan lengkap Departemen Pertahanan melalui portal berita CNBC Internasional:

“Atas arahan Presiden, militer AS telah mengambil tindakan defensif yang menentukan untuk melindungi personel AS di luar negeri dengan membunuh Qasem Soleimani, kepala Pasukan Pengawal Revolusi Iran-Pasukan Quds, sebuah organisasi teroris asing yang ditunjuk AS.

Soleimani secara aktif mengembangkan rencana untuk menyerang para diplomat Amerika dan anggota layanan di Irak dan di seluruh kawasan.

Jenderal Soleimani dan Pasukan Quds-nya bertanggung jawab atas kematian ratusan orang Amerika dan anggota layanan koalisi dan melukai ribuan lainnya.

Dia telah mengatur serangan terhadap pangkalan-pangkalan koalisi di Irak selama beberapa bulan terakhir – termasuk serangan pada tanggal 27 Desember – yang berpuncak pada kematian dan melukai personel tambahan Amerika dan Irak.

Jenderal Soleimani juga menyetujui serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Baghdad yang terjadi minggu ini.

Pemogokan ini bertujuan untuk menghalangi rencana serangan Iran di masa depan.

Amerika Serikat akan terus mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi orang-orang kami dan kepentingan kami di mana pun mereka berada di seluruh dunia,” tulis Departemen Pertahanan AS.

Selang beberapa jam, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengunggah cuitan di akun Twitter.

Ia menjelaskan, pembunuhan Soleimani merupakan tindakan yang sangat berbahaya dan bodoh.

“AS memikul tanggung jawab untuk semua konsekuensi dari tindak kejahatannya,” tulisnya.

Perkembangan terakhir, setelah serangan pada malam tahun baru yang dilakukan milisi yang didukung Iran di Kedutaan Besar AS di Baghdad.

Kabarnya, hari kedua serangan itu, Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengerahan sekira 750 tentara AS dari Divisi Lintas Udara ke-92 menuju Timur Tengah.

Dalam serangan tersebut, kabarnya pejabat militer Irak juga tewas.

ProfilĀ  Qassem Soleimani

Qassem Soleimani dinilai AS bertanggungjawab atas serangan yang mengancam kepentingan AS di Timur Tengah.

Siapakah Qassem Soleimani, jenderal cemerlang bermata tajam ini?

Qassem Soleimani atau biasa juga ditulis Qasem atau Ghasem Soleimani lahir di Desa Qanat-e Malek, Provinsi Kerman, Iran.

Soleimani lahir pada 11 Maret 1957. Sejak 1998 ia memimpin pasukan Al Quds, unit militer khusus di tubuh Pasukan Pengawal Revolusi Iran.

Pasukan Al Quds memiliki tugas menjalankan operasi-operasi bantuan militer maupun politik di luar wilayah Iran, demi kepetingan negara tersebut.

Qassem merupakan veteran perang Irak-Iran. Sebagai kepala pasukan ekstrateritorial, Qassem memiliki hubungan sangat dekat dengan milisi Hezbollah di Lebanon.

Begitu juga dengan kelompok Hamas di Jalur Gaza. Secara politik, Qassem juga memiliki hubungan sangat baik dengan kelompok Kurdi Irak dan Suriah serta kaum Shiah di kedua negara tersebut.

Saat kelompok Kurdi memberontak Saddam Hussein pada tahun 90an, Qassem membantu menyalurkan senjata dan logistik untuk mereka.

Ketika Suriah terjatuh dalam perang saudara, pemberontakan dan meluasnya sepakterjang kelompok ISIS, Iran mengirimkan Qassem Soleimani.

Ia bahu-membahu bersama pasukan Bashar Assad, memerangi ISIS dan kelompok-kelompok bersenjata dukungan Saudi, Emirat, Turki, dan negara barat.

Di Irak, kelompok PMU dengan dukungan Qassem bersama pasukan Irak, sukses mengalahkan ISIS yang menguasai Mosul dan sekitarnya bertahun-tahun.

Sebagai anak desa, Qassem kecil tumbuh selayaknya putra petani miskin. Beranjak muda, ia merantau ke Kota Kerman, bekerja sebagai tukang bangunan.

Pada 1975, Qassem bekerja di perusahaan air minum di Kerman. Di sela-sela istirahatnya, Qassem berusaha ikut latihan beban di tempat gymnasium.

Ia juga sering mendengarkan pengajian dan kotbah Hojjat Kamyab, ulama anak didik Ayatollah Khomeini.

Pada 1979, Qassem bergabung ke Pasukan Pengawal Revolusi Iran, sesaat sesudah Revolusi Iran berhasil menjungkalkan Shah Reza Pahlevi.

Di awal karier militernya, sebagai opsir muda ia ditempatkan di barat laut Iran, dan ikut serta dalam penanganan pemberontakan separatis Kurdi di Provinsi Azerbaijan Barat.

Pada 22 September 1980, ketika Presiden Irak Saddam Hussein menyatakan perang ke Iran, Soleimani terjun memimpin kompi pasukan dari Kerman.

Prestasinya cemerlang karena ia berani dan cermat. Ia berhasil merebut wilayah-wilayah yang diduduki pasukan Irak di Kerman.

Kontribusinya itu membuat ia diganjar penghargaan memimpin Divisi Sarallah 41 saat masih berusia 20-an. Ia ikut dalam sebagian besar operasi di wilayah selatan.

Sesudah perang Irak-Iran berakhir pada 1988, Qassem menapaki karier penting di IRGC, hingga ia dipercaya mengepalai Pasukan Quds.

Qassem sempat diyakini akan memimpin IRGC, meneruskan kepemimpinan Jenderal Yahya Rahim Safavi pada 2007. Ternyata hingga kematiannya, ia masih berada di pos Pasukan Quds.

Qassem Soleimani digambarkan merupakan perwira yang paling berpengaruh di Timur Tengah untuk saat ini.

Ia ahli strategi dan taktik militer terkait usaha Iran memerangi pengaruh barat dan memperluas pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.

Di Irak, sebagai komandan Pasukan Quds, dia diyakini telah mempengaruhi organisasi di pemerintahan Irak, terutama mendukung Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: