Sosok Anthony Albanese, Perdana Menteri Australia Yang Baru Terpilih

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 24 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Anthony Albanese baru saja terpilih menjadi Perdana Menteri (PM) Australia yang baru menggantikan Scott Morrison.

Ini merupakan sejarah bagi negara tetangga Indonesia itu setelah pemimpin Partai Buruh ini meraih kemenangan pemilihan pertamanya dalam hampir satu dekade.

Sebagai politisi senior, Anthony Albanese¬† menjanjikan para pemilih “perubahan yang aman”.

Partai Buruh mengalahkan koalisi konservatif Liberal-Nasional yang telah berkuasa di Australia sejak 2013.

“Saya ingin menyatukan warga Australia. Saya ingin mencari tujuan bersama kita dan mempromosikan persatuan dan optimisme, bukan ketakutan dan perpecahan,” kata Anthony Albanese, dilansir dari Tribunnews.com (22/05/2022).

Lantas, siapa Albanese dan bagaimana sepak terjangnya?

Albanese atau akrab disapa Albo dikenal memperjuangkan sistem perawatan kesehatan gratis Australia.

Dia adalah advokat untuk komunitas LGBT, seorang republikan, dan penggemar liga rugby.

Pria berusia 59 tahun ini dibesarkan di panti sosial oleh seorang ibu tunggal.

Dia sering menyebut tempat asuhannya sebagai dasar untuk keyakinan progresifnya.

Albanese telah menjadi pemimpin Partai Buruh selama tiga tahun.

Dia mengalahkan pendahulunya di Partai Buruh Bill Shorten pada 2019.

Dia juga dikenal pendukung setia Partai Buruh sejak usia 20-an.

Awalnya Albanese  bekerja di politik federal dan negara bagian sebelum dia terpilih pada ulang tahunnya yang ke-33  menjadi aparat kota Sydney pada tahun 1996.

Pada 2007, ketika Partai Buruh berkuasa di bawah Kevin Rudd, Albanese menjadi menteri infrastruktur dan transportasi.

Dia tetap menjadi tokoh berpengaruh saat partai memasuki periode penuh gejolak setelah menggantikan Rudd dengan Julia Gillard pada 2010.

Albanese juga berperan penting dalam kembalinya Kevin Rudd sebagai perdana menteri pada tahun 2013.

Ketika Rudd merebut kembali jabatan perdana menteri pada tahun 2013, dukungan Albanese membuatnya diangkat menjadi wakil perdana menteri.

Namun ia hanya menjabat posisi tersebut selama 10 minggu karena Partai Buruh kalah dalam pemilihan.

Albanese kemudian mengajukan dirinya untuk menjadi kepala partai.

Meskipun populer di kalangan anggota partai, saingannya Bill Shorten mendapat lebih banyak dukungan di antara anggota parlemen dan mendapatkan pekerjaan itu, menjadi pemimpin oposisi Australia.

Waktu Albanese akhirnya tiba pada 2019, setelah Shorten kalah dalam dua pemilihan dan digulingkan sebagai pemimpin Partai Buruh.

Albanese lantas menjadi suara terkemuka dari faksi kiri Partai Buruh, tapi sejak menjadi pemimpin ia telah memposisikan dirinya lebih ke tengah.

Menjelang pemilihan, ia menarik kembali dukungannya terhadap kebijakan aksi iklim yang lebih agresif sambil meningkatkan retorika yang lebih keras terhadap China dan keamanan nasional.

Sebagai pemimpin, Albanese telah mencoba untuk menarik lebih banyak pemilih di pusat

Dia juga mendukung kebijakan kontroversial Australia untuk menolak setiap pencari suaka yang datang dengan kapal.

Namun, dia tetap setia pada akar buruhnya, menjanjikan pengeluaran besar untuk sektor perawatan lansia yang bermasalah di negara itu, perawatan anak yang lebih murah, dan menghidupkan kembali industri manufaktur.

Partai Buruh telah berjanji untuk mengadakan referendum untuk menetapkan dalam konstitusi Suara Pribumi untuk Parlemen.

Ini adalah sebuah badan penasehat yang akan memberikan peran kepada masyarakat Aborigin dan Torres Strait Islander dalam membentuk kebijakan yang mempengaruhi mereka.

Albanese membuka pidato kemenangannya dengan mengulangi janji ini.

“Saya ingin Australia terus menjadi negara yang di mana pun Anda tinggal, siapa yang Anda sembah, siapa yang Anda cintai atau apa nama belakang Anda, tidak membatasi perjalanan hidup Anda,” ujarnya.

“Saya berharap perjalanan hidup saya menginspirasi orang Australia untuk meraih bintang.” (Uli)