Sistem Rehabilitasi Pelaku Penyalahgunaan Narkoba Dinilai Perlu Dievaluasi

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 7 September 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Sistem rehabilitasi pelaku penyalahgunaan narkoba di Indonesia dinilai perlu dievaluasi.

Hal tersebut diungkapkan Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel.

Pasalnya, banyak mantan pemakai narkoba yang sudah menjalani rehabilitasi tapi kembali terjerat kasus serupa.

Ada sejumlah poin yang dianggap Reza Indragiri menjadi penyebab pemakai kembali ‘kambuh’.

“Pertama, program rehabilitasi dijalankan secara klasikal dan kurang fokus pada kondisi individual,” ungkap Reza Indragiri, dilansir dari Tribunnews.com(06/09/2020).

Kemudian penyebab lain bisa dikarenakan detoksifikasi yang belum tuntas.

Ketiga, karena efek samping penggunaan obat resep untuk menghentikan penyalahgunaan narkoba.

Keempat, program rehabilitasi tidak komprehensif.

Selain itu, kehidupan sehari-hari mantan penyalahguna yang tidak berubah bisa menyebabkan kambuhnya penyalahgunaan narkoba.

“Jadi, semestinya bukan hanya seleb kambuh yang perlu ditelisik. Bagaimana program rehabilitasi yang ada selama ini, juga patut dievaluasi,” ungkap Reza Indragiri.

Reza juga mengungkapkan harus ada perhatian lebih mengenai kesehatan mental di masa pandemi Covid-19 ini.

“Hati-hati, WHO sudah mewanti-wanti, wabah Covid-19 sangat mungkin disertai atau diikuti oleh wabah masalah mental,” ungkap Reza.

Reza mengungkapkan penyalahgunaan narkoba bisa dipandang sebagai wujud masalah mental maupun sebagai ‘penawar’ atas masalah mental.

Pada aspek lain, Reza mengungkapkan total biaya penanganan penyalahgunaan narkoba berada di kisaran 15 ribu dolar per individu.

“Itu meliputi pengobatan, penegakan hukum, dan hilangnya produktivitas.”

“Jika ditambah dengan biaya intangible, melonjak ke hampir 40 ribu dolar per orang,” lanjutnya.

Reza mengungkapkan apabila mantan penyalahguna kambuh, biayanya tentu lebih tinggi lagi karena semua dosis harus dinaikkan.

“Dosis untuk mengatasi kekambuhan emosional, kekambuhan mental, dan kekambuhan fisik,” ungkapnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: