Singapura Menjadi Negara Pertama Pemberi Izin Penjualan Daging Buatan

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Senin, 26 April 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Singapura menjadi negara pertama yang mengizinkan penjualan daging buatan, bahkan secara terbuka.

Hal ini karena daging buatan dirasa lebih ramah lingkungan dari pada daging asli yang diproduksi secara konvensional.

Dikutip dari Tribunnews.com (25/04/2021), Singapura telah mengizinkan penjualan daging buatan secara terbuka sejak akhir 2020 lalu.

Bahkan informasi yang didapat BBC News Indonesia, daging buatan ini cukup populer di beberapa negara.

Daging buatan ini cukup populer, meski belum banyak dijual secara komersil.

Meski daging buatan laboratorium semakin populer, konsumen negara lain tidak serta merta menerima inovasi buatan ini.

Ada beberapa orang di wilayah negara lain yang masih meragukannya, meski diklaim ramah lingkungan.

Mereka masih meragukan daging buatan yang dihasilkan dari sel hewan ini tersedia tanpa sebelumnya melewati proses penyembelihan.

Tak hanya itu, daging buatan punya pasar sendiri karena harganya yang mahal.

Bahkan, sepotong daging olahan ayam yang dijual produsen daging buatan Eat Just, daging tersebut dapat dijual Rp 750 ribu.

Josh Tetrick, Direktur Eat Just mengatakan daging buatan ini aman dikonsumsi dan terjaga akan kebersihannya.

Hingga dapat dikonsumsi secara berkelanjutan.

“Daging buatan ini bersih, aman dan berkelanjutan untuk dimakan,” ujar Josh.

Penemuan daging buatan ini berawal dari pemikiran konsep ramah lingkungan.

Dimana 1/4 gas efek rumah kaca berasal dari makanan.

Sebagian kecil di antaranya berasal dari peternakan konvensional.

Peternakan Konvensional

Pekerja peternakan konvensional terancam adanya inovasi produksi daging buatan dari sel hewan

Tak hanya itu, pertimbangan lain yakni permintaan daging global diperkirakan terus meningkat.

Sehingga munculah ide pembutaan daging buatan ini.

Daging tersebut dibuat dengan diawali pengambilan sel dari hewan.

BBC News Indonesia mengabarkan pengambilan sel hewan ini salah satunya dari bulu hewan.

Sel kemudian diberi nutrisi agar dapat bertumbuh berkali lipat, hingga akhirnya dapat diproduksi secara masal.

Hal ini juga dibenarkan Josh, proses produksi dan budi daya daging buatan 95% dianggap lebih ramah lingkungan.

Karena dilihat dari berkurangnya emisi karbon yang dihasilkan dan juga penghematan dalam aspek penggunakaan lahan dan air.

“Proses produksi dan budi daya daging buatan, 95% lebih ramah lingkungan, dalam hal emisi karbon dan juga dalam aspek penggunakaan lahan dan air,” kata Josh, pihak produsen daging buatan.

Tanggapan Pakar Pangan dan Konsumen

Pakar Inovasi Pangan, Dr. Alexandra Sexton mengatakan produksi daging buatan dapat menjadi jawaban dalam menanggulangi perubahan iklim yang dapat memacu tingkat kestabilan ketersediaan daging.

Hal tersebut dapat terjadi, jika memang daging buatan bisa mengurangi kebutuhan penggunaan lahan.

“Jika daging buatan bisa mengurangi kebutuhan penggunaan lahan dalam produksi daging, maka bisa bermanfaat dalam menanggulangi perubahan iklim,” ujar Sexton.

Namun demikian, menurut Sexton, hal ini dapat dilakukan tergantung dari lahan apa yang kemudian dipakai untuk memproduksi daging buatan.

Mengingat daging buatan di laboratorium masih sangat baru.

Sehingga, belum diketahui pasti dampak yang terjadi dilingkungan saat daging buatan diproduksi berskala besar.

“Teknologi daging buatan di lab masih baru, jadi kita belum tahu pasti seperti apa efeknya pada lingkungan saat daging buatan diproduksi berskala besar,” ujar Sexton.

Belum lagi, produksi daging buatan memerlukan energi yang besar untuk menjaga kehangatan temperatur sel.

“Penelitian terbaru memperkirakan, produksi daging buatan memerlukan energi yang besar untuk menjaga temperatur sel tetap hangat saat selnya sudah tumbuh,” papar Sexton.

Selain itu, juga diperlukan penjagaan terhadap sel untuk tetap aktif dan membersihkan bioreaktor, tempat tumbuhnya sel.

Menurut Sexton, Jika energi yang dipakai dalam produksi daging buatan tetap menghasilkan emisi karbon, maka teknologi ini (daging buatan) tidak bisa bermanfaat bagi lingkungan.

“Jadi jika energi yang dipakai dalam produksi daging buatan tetap menghasilkan emisi karbon, dengan kata lain harus memakai energi terbarukan.”

“Maka teknologi ini (daging buatan) tidak bisa bermanfaat bagi lingkungan,” pungkasnya.

Warga penyuka daging asal Afrika Selatan, Thandi mengatakan inovasi ini diduga tidak akan berhasil di kembangkan di Afrika Selatan.

Selain itu, Thandi mengatakan orang Afrika Selatan menyukai daging asli dari proses penyembelihan atau pemotongan hewan.

“Saya pikir tidak akan berhasil di Afrika Selatan, tidak mungkin.”

“Orang Afrika Selatan suka daging asli, mereka suka semuanya yang asli,” ujar Thandi.

Namun, pendapat Warga Singapura, Shalom Chia mengatakan inovasi penciptaan daging buatan ini sangat potensial dalam meanggulangi perubahan iklim yang dapat memunculkan masalah kekurangan bahan pangan.

“Saya pikir mereka (ilmuwan) hebat, bisa menghadirkan teknologi pangan yang baru.”

“Potensial tidak hanya terkait dengan isu perubahan iklim dan sumber pangan terbarukan, tapi juga terkait masalah lain seperti kekurangan bahan pangan di seluruh dunia,” jelasnya.

Tak hanya persoalan perubahan iklim yang berdampak pada ketersediaan daging asli, kehadiran daging buatan juga akan berdampak pada industri daging konvensional.

Sebab para produsen daging memperkerjakan jutaan orang.

Sementara, produksi daging buatan tentunya akan memperkecil skala pembukaan lapangan kerja.

Sehingga akan menjadikan banyak orang kesusahan dalam pencarian lapangan pekerjaan. (Uli)