Silvany Austin Pasaribu, Diplomat Wanita RI yang Bungkam Vanuatu Di PBB

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Kamis, 1 Oktober 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Sosok Silvany Austin Pasaribu sukses mencuri perhatian masyarakat luas. Tak hanya di Indonesia, diplomat perwakilan Indonesia ini juga menjadi perhatian dunia. Silvany berani membungkam Perdana Menteri Vanuatu Bob Loughman melalui jawaban tegasnya.

Bagaimana tidak, Republik Vanuatu dengan percaya diri mengungkit masalah Papua dalam sidang PBB kemarin. Sontak, berkat ketegasan dan jawaban tegasnya sosok Silvany Austin Pasaribu menjadi viral dan perbincangan di media sosial.

Penasaran dengan sosok Silvany Austin Pasaribu diplomat wanita RI ini? Melansir dari Merdeka.com (29/09/2020), simak ulasan informasinya berikut ini.

Sekretaris Kedua

Dalam portal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, tercatat nama Silvany Austin Pasaribu di dalamnya. Diplomat wanita ini menjabat sebagai Sekretaris Kedua dalam Urusan Ekonomi I untuk Perutusan Tetap RI di PBB, New York, Amerika Serikat.

Tak hanya itu saja, diplomat wanita yang membungkam Vanuatu ini juga diketahui pernah menjabat sebagai Atase Kedutaan Besar Republik Indonesia di Inggris.

Pendidikan Terakhir

Silvany Austin Pasaribu merupakan lulusan dari Universitas Sydney, Australia. Di kampus itu, Silvany menempuh pendidikan Strata 2 atau lebih disebut S-2.

Sebelumnya, Silvany menempuh pendidikan S-1 nya di Universitas Padjajaran, Bandung. Wanita yang tengah menarik perhatian dunia ini mengambil Jurusan Hubungan Internasional FISIP. Setelah lulus kuliah, Silvany Austin Pasaribu lantas memulai karier di Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu).

Bungkam Vanuatu di Sidang PBB

Dalam sidang PBB yang baru-baru dilaksanakan, diplomat perwakilan Indonesia Silvany Austin Pasaribu dengan tegas membungkam Vanuatu terkait Papua. Menurutnya, Vanuatu tidak mengerti sama sekali mengenai prinsip dasar PBB. Di mana seharusnya mereka menghormati dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

“Yang Mulia, dalam kesempatan ini saya menggunakan hak jawab Indonesia terhadap pernyataan yang dikeluarkan oleh negara Vanuatu. Sangatlah memalukan, negara yang satu ini terus menerus dan berlebihan berkomentar tentang bagaimana Indonesia harus bersikap tentang urusan dalam negerinya. Saya bingung, bagaimana bisa sebuah negara ingin mengajari negara lain di mana negara itu sendiri tidak mengerti prinsip dasar piagam PBB,” ujar Silvany Austin Pasaribu, diplomat perwakilan Indonesia mengambil hak jawabnya.

“Dengarkan ini baik-baik, yang benar itu adalah menghormati dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain dan juga untuk menghormati kedaulatan dan kedaulatan wilayah lain. Sebelum anda melakukan itu semua, simpan saja ceramah itu untuk anda sendiri,” sambungnya.

Negara Bodoh

Silvany Austin Pasaribu juga menganggap Vanuatu merupakan negara yang bodoh. Sebab, tidak seharusnya negara tersebut diam dan memecah belah negara lain untuk separatisme dengan dalih HAM. Padahal seperti yang diketahui, saat ini dunia mengalami krisis kesehatan dan kesulitan ekonomi yang sudah sepantasnya menjadi prioritas utama untuk diselesaikan.

“Yang Mulia, Presiden RI beberapa hari yang lalu membuat pernyataan dalam forum PBB. Dan saya bisa mengutip, kita harus mengedepankan solusi bersama yang saling menguntungkan antar negara. Tentu saja, seruan seperti itu diterima oleh para pemimpin dunia tetapi, negara bodoh ini justru bertentangan. Di saat krisis kesehatan dan kesulitan ekonomi, negara ini lebih memilih untuk diam dan memecah belah negara dengan menyamarkan advokasi mereka untuk separatisme dengan dalih HAM,” papar diplomat wanita ini.

“Indonesia terdiri lebih dari ribuan suku, negara yang majemuk, dengan ribuan suku dan ratusan bahasa daerah. Tersebar lebih dari 17.400 kepulauan dan berkomitmen pada HAM, kami menghargai perbedaan, menghormati toleransi, dan semua orang mempunyai hak yang sama di negara demokrasi terbesar ke tiga di dunia ini. Kita juga melindungi HAM di mana semua orang mempunyai kedudukan yang sama di depan mata hukum,” lanjutnya.

Belum Ratifikasi Konvensi Internasional

Menariknya, Silvany mendapati bahwa Vanuatu belum pernah ikut meratifikasi dan mengesahkan konvensi Internasional. Bahkan, mereka juga tidak meratifikasi dan mengesahkan konvensi yang menentang penyiksaan dan kekejaman lainnya dalam perjanjian atau hukuman yang bersifat merendahkan martabat. Untuk itu, Silvany mengimbau Vanuatu untuk lebih berfokus dalam menyelesaikan tanggung jawab HAM atas rakyatnya sendiri serta dunia.

“Selanjutnya, kita sudah mengesahkan konvensi internasional tentang penghapusan diskriminasi RAS dan menariknya Vanuatu belum pernah ikut menandatangani nya. Dan bagaimana bisa dia berbicara tentang HAM penduduk asli di mana dia belum pernah menandatangani perjanjian internasional tentang hak ekonomi sosial dan budaya sebagai inti dari instrument HAM. Ini menjadi pertanyaan apakah mereka benar-benar peduli pada penduduk asli,” terang sekretaris kedua dalam Urusan Ekonomi I untuk Perutusan Tetap RI di PBB, New York, Amerika Serikat.

“Yang lebih penting, Vanuatu belum pernah menandatangani dan mengesahkan konvensi yang menentang penyiksaan dan kekejaman lainnya dalam perjanjian atau hukuman yang bersifat merendahkan martabat. Kita mengimbau kepada pemerintah Vanuatu untuk menyelesaikan tanggung jawab HAM terhadap rakyatnya sendiri maupun dunia,” cecar Silvany. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:
loading...