Sikapi Masa Depan Home Schooling, KSPTS Gelar Diskusi Publik

FOTO: sopy/indolinear.com
Minggu, 23 Februari 2020

Indolinear.com, Tangsel – Sekitar 2.900 siswa di Kota Tangerang Selatan menempuh pendidikan melalui sistem Home Schooling atau sekolah rumah.

Hal ini membuat Komunitas Solidaritas Pendidikan Tangerang Selatan (KSPTS) menggelar kegiatan Diskusi Publik dengan tema Menyikapi Masa Depan Home Schooling.

Pembina KSPTS Kokok Herdhianto Dirgantoro mengatakan, pemerintah Pusat dan Daerah perlu memberikan dukungan bagi para siswa homeschooling, sebagai suatu tawaran pendidikan alternatif.”Ini tentu jumlah yang cukup besar. Rasanya Pemkot harus memberikan perhatian kepada anak dan orangtua,” ungkapnya di Remaja Kuring, Serpong, Tangsel, Minggu 23 Februari 2020.

Menurutnya, perhatian itu dapat diberikan dengan contoh mempermudah proses mengikuti ujian nasional lewat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), sosialisasi dan forum diskusi bagi orangtua yang memilih Home Schooling untuk anaknya.

“Pemkot juga perlu melakukan sosialisasi bersama pakar dan organisasi Home Schooling bahwa banyak metode bisa dipilih. Dan metode tersebut tidak dimonopoli oleh kalangan menengah atas. Kalangan menengah dan bawah pun bisa melakukan dengan pendampingan metode yang tepat,” ujar Kokok.

Sementara Praktisi Home Schooling Jansi Kuntag, mengatakan bahwa pemerintah harus dapat merangkul, dan mewadahi para anak yang menempuh pendidikan melalui jalur Home Schooling tersebut.

Menurutnya, permasalahan saat ini yang dirasakan bagi para siswa Home Schooling adalah kesetaraan hak.

“Kita inginnya, anak-anak sekolah rumah , didudukkan sama, atau disetarakan seperti anak-anak sekolah formal. Yang saya tahu,  hak-haknya itu sekarang belum diakomodir dengan benar,” ungkap orang tua yang menerapkan sistem Home Schooling bagi anaknya ini.

Padahal, kata dia, anak-anak yang menempuh pendidikan dengan sistem Home Schooling, dapat bersaing atau bahkan dapat lebih unggul dari anak-anak yang menempuh pendidikan formal.

“Seperti anak saya lulusan paket, mampu bersaing dengan mahasiswa lain, bahkan anak saya mendapat IP 4  di salah satu Universitas swasta ternama.  Mereka nantinya kan juga akan jadi pemimpin bangsa. Jadi harus difasilitasi, kemampuannya lebih terasah dan lebih terakomodir,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel Taryono menyatakan bahwa Pemerintah Kota akan mewadahi, dan memperhatikan anak-anak yang menempuh pendidikan dengan sistem Home Schooling tersebut.

“Karena juga sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003, bahwa ada tiga jalur pendidikan, yaitu formal, non formal dan informal. Kalau Home Schooling itu masuk informal,” paparnya.

Terlebih, kata Taryono, kegiatan belajar pada Home Schooling juga sudah sejalan dengan program pendidikan pemerintah pusat.

“Ini sejalan sekali dengan gerakan pusat, yaitu gerakan merdeka belajar. Makanya secara khusus saya ada di sini berdiskusi membahas Home Schooling,” sambungnya.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan mengadakan pertemuan guna mendata, berapa data sebenarnya siswa yang saat ini belajar dengan sistem Home Schooling tersebut.

“Besok kita ketemu. Kita ingin mengetahui datanya seperti apa, berapa data Home Schoolernya, gurunya berapa, dan lainnya” tutupnya.(Sopy)

INDOLINEAR.TV