Siapa yang Merekayasa Sumpah Pemuda? Ini Orangnya

Minggu, 25 Oktober 2015
Jakarta | Uploader Arif
loading...

JAKARTA – Keaslian naskah Sumpah Pemuda masih menjadi polemik. Beberapa peneliti sejarah mengatakan tidak ada Sumpah pemuda, yang ada adalah “poetoesan congres”. Hal itu dikatakan sejarawan dari Universitas Negeri Medan, Erond Damanik.

Sementara sejarawan JJ Rizal menyebutkan, sumpah pemuda yang ada sekarang merupakan produk tahun 1950an. Ia mengaku tidak menemukan kata sumpah dalam naskah aslinya, seperti diterbitkan koran Sinpo, yang menerbitkan hasil kongres pemuda tahun 1828. Yang ada, sama seperti disebutkan Erond, yakni tertulis pada kop naskah tersebut yakni “Poetoesan Congres”.

Nah siapa yang sebenarnya melakukan rekayasa naskah tersebut?

Adalah Muhammad Yamin, salah seorang perwakilan kongres dari Jong Soematranen Bond, perwakilan pemuda Sumatera. Menurut Erond, pemalsuan sejarah itu bermula dari kongres Bahasa Indonesia kedua di Medan pada 28 Oktober 1954. Presiden Soekarno turut hadir dalam acara pembukaan kongres tersebut.

Apa alasan perubahan frasa “poetoesan congres” menjadi “Sumpah Pemuda”? Yamin dan Soekarno saat itu sedang gencar-gencarnya melawan ideologi separatisme yang muncul diseluruh Nusantara.

Menurut Erond, saat itu kedua tokoh bangsa tersebut sedang sibuk membangun sebuah simbol yang menjadi bagian dari ideologi di tengah maraknya gerakan separatisme. Maka kata Dia, Yamin mengubah kata “poetoesan congres” menjadi kata “sumpah pemuda”. Cara ini digunakan Soekarno dan Yamin untuk melawan gerakan separatisme dengan menyatakan bahwa separatisme itu melanggar sumpah pemuda 1928.

Dengan begitu, Erond berkesimpulan bahwa, sumpah pemuda itu baru dikenal sejak 1954 di Medan. Ia juga menyebut bahwa apa yang dilakukan Yamin tersebut meruapakan rekayasa sejarah.

Sementara itu, sedikit berbeda dengan Erond, sejarawan JJ. Rizal justeru menuding mantan Presiden Soekarno yang menjadi dalang rekayasa tersebut. Ia menyebut Sumpah Pemuda sebagai produk masa kini, dimana kata-katanya diubah dengan tujuan untuk memperkuat posisi Soekarno yang pada masa itu sedang goyah.

(ril)

Sumber : Pojoksatu.id

loading...