Siapa Yang Mengabadikan Foto Neil Armstrong Saat Injakkan Kaki di Bulan?

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 14 Juni 2020
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT KECANTIKAN. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Neil Armstrong mencatatkan namanya dalam sejarah. Bahkan, namanya masuk hingga buku sekolah anak-anak di tingkat dasar.

Ia adalah manusia pertama yang disebut-sebut menginjakkan kakinya di Bulan, satelit yang mengelilingi Bumi.

Sebuah foto dengan kamera selolusi rendah berhasil diabadikan kala Neil Armstrong menginjakkan kakinya dan berjalan di Bulan. Namun pertanyaannya, siapa pihak yang mengabadikan foto Neil Armstrong kala itu?

Sementara rekannya masih ada di dalam pesawat yang membawa mereka. Apakah pihak yang mengabadikan foto itu adalah manusia juga?

Dikutip dari Liputan6.com (12/06/2020), yang mengambil foto tersebut bukanlah manusia. Melainkan kamera TV beresolusi rendah pemindaian lambat yang terpasang di Modularized Equipment Stowage Assembly (MESA).

MESA terlipat keluar searah jarum jam dari tangga ketika Neil Armstrong membuka pintu dan tangga menyentuh Bulan.

Saat pintu dibuka, MESA dikerahkan. Menurut standar hari ini, ini adalah kamera yang sangat jelek, tetapi itu adalah keajaiban teknologi pada saat itu, sebab beberapa kali lebih kecil dari kamera TV komersial di zamannya.

Karena ditransmisikan dalam format non-standar, dan karena rekaman pendaratan di Bulan harus disiarkan ke banyak format berbeda di seluruh dunia, semua gambar yang pernah Anda lihat dari kamera ini sebenarnya direkam dengan tangan kedua yang disediakan NASA untuk tujuan tersebut.

Seluruh rig itu benar-benar kasar dan mahal, tetapi itulah satu-satunya cara untuk melakukannya saat itu.

Cerita Singkat Manusia ke Bulan

Neil Armstrong dan Edwin Aldrin adalah dua pria yang masih muda saat berhasil menginjakkan kaki di permukaan Bulan, dalam misi berbahaya milik NASA. Keduanya kelahiran 1930, berusia 39 tahun pada momentum bersejarah 20 Juli 1969.

Siapa sangka, mereka memiliki mimpi yang sama sejak kecil: mengangkasa, melambung melintasi langit. Keduanya mengawali karier di dunia militer dan sempat bertempur di medan Perang Korea.

Aldrin muda berambisi menjadi pilot jet tempur, mengutip situs Biography.com. Takdir sejalan dengan harapan, ia berhasil menjadi anggota Angkatan Udara AS kemudian berhasil mengudara dengan F-86 Sabre Jets dalam 66 misi tempur.

Ia tak kunjung berpuas diri. Terlepas dari sejumlah prestasi, ia tetap mendaftar pada sekolah pilot di Massachusetts Institute of Technology (MIT) untuk gelar master. Tak hanya itu, ia melanjutkan studi doktoral dalam aeronautika dan astronotika.

Nasib mujur, berkat usaha kerasnya menyelesaikan tesis tentang pesawat ruang angkasa, Aldrin dilirik NASA. Saat itu, Badan Penerbangan dan Antariksa AS tengah merekrut tim untuk merintis penerbangan angkasa luar.

Ia segera ditugaskan ke kru Gemini 12. Dalam misi itu ia berhasil mengambil swafoto (selfie) pertama di luar angkasa. Kala itu terjadi, Aldrin berjuluk Dr. Rendezvous dan hanya kru pendukung untuk Apollo 8.

Kemampuan intelektual Aldrin ditambah dengan antusiasmenya dalam mengemban tugas, menyedot perhatian badan antariksa. Situs NASA menyebut, Aldrin adalah sosok ideal sebagai astronot.

Rekan yang Tak Kalah Hebat

Rekan Edwin Aldrin tak kalah hebat dalam mengejar mimpinya. Neil Armstong yang dibesarkan di tanah pertanian kakek-neneknya, memiliki ambisi besar: bukan sekedar menatap langit, namun menjelajahinya.

Motivasi itu datang sejak Armstrong diajak ayahnya ke National Air Races di Cleveland, Ohio. Kala itu ia berusia dua tahun.

Singkat cerita ia berhasil menjadi pilot pada usia 16 tahun. Armstrong belajar teknik penerbangan di Purdue University dengan beasiswa Angkatan Laut AS dan dilatih sebagai pilot Angkatan Laut. Seperti Aldrin, ia bertugas dalam Perang Korea, dan Armstrong terbang dalam 78 misi tempur.

Waktu berjalan, Armstrong dilirik oleh Komite Penasihat Nasional untuk Aeronautika (NACA) yang merupakan awal dari Administrasi Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA). Saat itu, Armstrong menjalankan banyak peran dari insinyur hingga pilot, dan berakhir menjadi astronot.

Ia orang yang pemberani, di mana menerbangkan lebih dari 200 jenit pesawat penelitian milik NASA pada tahun 1950an. Tak elak, ia menerima gelar master di bidang teknik kedirgantaraan dari University of Southern California di periode yang sama.

Status astronot ia dapatkan tahun 1962. Misi awalnya, Gemini VII. Karena terampil, ia lalu diangkat menjadi komandan pesawat ruang angkasa untuk Apollo 11.

Berkat Kerja Keras

Dengan pengalaman yang mumpuni, keduanya disatukan sebagai kolega. Mengemban misi berbahaya dan ambisius, disandingkan dengan Michael Collins dalam Apollo 11.

“Kami semua bekerja keras, dan kami merasakan beban dunia menimpa kami.”

Dedikasi, kemampuan, dan kerja keras menjadikan mereka tim yang sempurna hingga berhasil mendaratkan kaki di Bulan pada hari ini, 50 tahun silam.

Siapapun yang menatap Bulan di sepanjang malam yang akan datang, mereka menyaksikan Aldrin dan Armstrong. Dua orang yang bekerja keras untuk mimpi mereka sedari kecil: mengangkasa, menjelajah antariksa. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: