Siapa Sangka… Pengusaha Sukses Ini Dulunya Bandar Narkoba Dan Perjudian

FOTO: detik.com/indolinear.com
Sabtu, 11 September 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Semua orang bisa sukses meskipun memiliki masa lalu yang kelam, contohnya Christopher Sebastian. Christopher adalah Founder & CEO dari Makko Group yang punya empat lini bisnis sekaligus yakni aksesoris otomotif, kuliner, pariwisata-kecantikan, dan alat kesehatan.

Kesuksesan Christopher tidak lepas dari pengalaman hidupnya di masa lalu. Siapa sangka, karirnya sebagai pebisnis profesional dimulai ketika ia keluar dari penjara dan direhabilitasi akibat narkoba. Pria kelahiran Surabaya itu terjerumus ke dalam dunia hitam karena dampak broken home akibat orang tua bercerai di usianya yang masih remaja.

“Saya lulus SMA sudah keluar dari rumah. Kuliah itu saya di Surabaya tapi ngekost, padahal jarak dari rumah ke kampus nggak jauh. Alasan saya ngekost karena saya sering berantem, nggak begitu cocok dengan Ayah saya. Otomatis karena saya ngekost harus belajar membiayai kehidupan saya sendiri meskipun orang tua masih memberikan modal untuk saya sekolah, tapi orang tua menganggapnya setelah saya keluar yaudah berarti harus sudah bisa bertanggung jawab sendiri,” kata dia, dilansir dari Detik.com (09/09/2021).

Sebagai anak yang tinggal sendiri, Christopher memutuskan untuk kerja dengan berjualan casing handphone (HP). Setelah memiliki uang, di situlah dia mulai terjerumus untuk menjajal narkoba dan judi. Tidak hanya sampai di situ, dia pun menjadi bandar setelah menekuni tindakan kriminal itu selama beberapa waktu.

“Ada duit karena anak muda pergaulan kenal dunia malam itu otomatis masuk ke drugs karena memang pada dasarnya saya kalau suka sesuatu otomatis saya konsumtif ya kita beli. Memang pemikiran saya saat itu tidak mau selalu jadi konsumen, tapi saya harus jadi produsen. Jadi saya pikir ini dunia malam terus, otomatis duit habis nih kalau drugs terus, otomatis saya memutuskan untuk menjual (drugs), saya menjadi bandar pada saat itu dan yaudah makin lama makin besar. Saya memutuskan untuk menjadi bandar judi juga pada saat itu,” bebernya.

Nasib kuliahnya hanya bertahan satu tahun alias sampai semester dua. Sekitar 4 tahun lamanya dia mengaku mendapatkan uang dari kehidupan kelam itu, hingga pada waktunya dia ditangkap polisi dan masuk penjara.

“Drugs itu memang memberikan uang cukup besar, tapi habis-habis lagi ketangkap polisi juga,” imbuhnya.

Perjalanannya di dunia hitam berakhir ketika ia ditangkap oleh polisi dan mendekam dipenjara sebanyak dua kali karena narkoba. Hingga akhirnya dia masuk dalam pusat rehabilitasi dan bertemu dengan orang tua rohani yang membimbingnya selama proses penyembuhan. Di tempat itu dia bisa merasakan sosok orang tua yang tidak didapatkan sebelumnya, hingga akhirnya dia bisa meninggalkan narkoba dan merintis karir sebagai pebisnis.

Christopher merasa pintu rezeki selalu datang setelah dia direhabilitasi dan mulai meninggalkan kehidupan kelamnya saat berusia 22 tahun. Sebelum memulai bisnisnya, dia sempat merasakan jadi pekerja profesional di bagian produksi yang memenuhi kebutuhan perhotelan, dan juga di anak perusahaan PT Gudang Garam Tbk di bagian advertising atau periklanan yang masing-masing dijalaninya selama satu tahun.

Karirnya cemerlang ketika ia bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di distribusi kaca film. Awalnya untuk masuk ke perusahaan itu tidaklah mudah, penolakan harus ia dapatkan ketika menemui bos perusahaan itu untuk mengajukan diri sebagai karyawan. Meski begitu, ia tetap berusaha mengajukan diri hingga akhirnya diterima pada percobaannya yang ketiga.

“Di situ semua bermula. Cuma di perusahaan itu satu minggu kerja saya menerima tekanan, di maki-maki sama managernya karena saya melakukan kesalahan, pada saat itu saya sebagai sales junior. Kalau nggak salah saya mau di lempar barang atau dipukulin pada saat itu karena managernya memang cukup tempramental, cuma saya tetap bertahan,” tuturnya

Seiring berjalannya waktu, Christopher dipercaya oleh bosnya untuk mengelola bisnis distributor kaca mobil di wilayah Indonesia bagian barat. Berbagai fasilitas diberikan seperti karyawan, hingga gaji yang cukup. Namun Christopher ingin menantang dirinya agar diizinkan memegang sisa dari wilayah cakupan bisnis distributor mobil tersebut di Indonesia bagian timur.

Permintaan itu ternyata tidak diterima oleh bosnya. Bagi Christopher, posisi yang dimilikinya saat itu tidak akan memiliki jenjang lain dan karirnya tidak akan meningkat. Untuk itu, dia memutuskan melepas jabatannya di perusahaan dan memilih untuk merintis perusahaan sendiri.

“Saya berpikir kalau begini terus bahaya bagi saya sendiri karena di saat kita merasa nyaman, di situ lah awal mulainya sesuatu yang berbahaya untuk masa depan kita menurut saya. Pada saat itu saya nyaman banget, saya masuk kantor nggak masuk kantor, mau datang jam berapa pun bebas, mungkin dalam satu minggu 3-4 hari main-main tuh kayak nggak kerja,” jelasnya.

Christopher kemudian memulai bisnis kaca film dengan sewa ruko kecil menggunakan sisa uang yang dimiliki. Seiring berjalannya waktu yang dimulai 2010, bisnis aksesoris otomotif tersebut semakin besar hingga menjadi Makko Group yang memiliki empat lini bisnis seperti sekarang.

Dia berharap agar pengalaman kelamnya itu tidak ditiru oleh masyarakat karena hasilnya akan berujung di jeruji besi. Jadi, ambil pengalaman yang positifnya saja ya. (Uli)