Shinjiro Koizumi, Sosok Yang Dibicarakan Sebagai Calon Perdana Menteri Jepang

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 19 September 2019

Indolinear.com, Jepang – Bulan lalu, Shinjiro Koizumi ramai diberitakan media massa di Jepang setelah dia mengumumkan pernikahan dengan seorang bintang televisi dan kemungkinan bakal mengambil cuti untuk mengurus anak.

Langkah itu sungguh jarang di negara yang kaum perempuannya diharapkan menjadi sosok utama dalam mengawal pendidikan anak, meski ada upaya dari negara untuk meningkatkan kesetaraan gender.

Pada usia 38 tahun, Koizumi, yang kerap disebut Shinjiro untuk membedakan dari ayahnya (mantan Perdana Menteri Junichiro Koizumi), sering menjadi sorotan media. Namanya beberapa kali digadang-gadang sebagai sosok yang layak diperhitungkan sebagai kandidat perdana menteri.

Karena itu, tak heran bahwa pekan ini Shinjiro kembali diberitakan setelah ditunjuk menjadi menteri lingkungan dalam kabinet PM Shinzo Abe, sekaligus menyandang predikat sebagai menteri termuda ketiga sejak Perang Dunia II.

“Saya membandingkannya dengan seorang ‘peselancar’ yang tampak sangat baik di depan hadirin di pantai, tapi tidak pernah ke laut,” kata Atsuo Ito selaku analis politik, dilansir dari Tribunnews.com (17/09/2019).

“Kita akan menyaksikan seberapa mumpuninya dia mengingat saat ini, sebagai seorang menteri, dia tidak bisa menghindari ombak keras dari publik,” lanjutnya.

‘Pria muda yang tergesa-gesa’

Shinjiro, yang meraih gelar master di bidang ilmu politik dari Universitas Columbia di New York serta pernah bekerja sebagai peneliti untuk lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, amat dikenal oleh kalangan ‘tangan-tangan Jepang’—sebagaimana dilaporkan harian The Japan Times.

Istilah itu merujuk pada peneliti dan pakar mengenai Jepang yang memberi nasihat kepada pemerintah Amerika Serikat serta punya pengaruh dalam membentuk kebijakan Washington terhadap hubungan dagang dan pertahanan AS-Jepang.

“Walau sisi muda Koizumi, penampilan, retorika yang terkadang populis, dan kehadirannya di media membuat dia menarik banyak pengagum, kalangan pengritik menilai hal-hal itu merupakan kualitas berbeda bagi orang yang memerintah dan merampungkan banyak hal sebagai menteri kabinet,” sebut harian The Japan Times.

Koizumi mengumumkan rencana pernikahannya dengan Christel Takigawa.

Shinjiro Koizumi, dari partai berkuasa Liberal Demokratik, dipilih sebagai anggota majelis rendah parlemen Jepang pada 2009 setelah dirinya memenangi suara untuk menduduki kursi yang ditinggalkan ayahnya.

Dia adalah generasi keempat dar keluarga Koizumi yang menduduki kursi parlemen.

Sebelum menjadi menteri, jabatan paling berpengaruh yang dia emban adalah wakil menteri di parlemen untuk bidang rekonstruksi wilayah Tohoku yang dilanda tsunami.

Dia pernah memberi isyarat bahwa berisiko menerima jabatan penting dalam waktu terlalu cepat. Namun, beberapa orang dekatnya meyakini dia tengah mengincar jabatan perdana menteri dan mungkin tidak mau menunggu terlalu lama untuk bertarung mendudukinya.

Dalam beberapa jajak pendapat, namanya kerap dipilih oleh responden sebagai sosok yang mereka inginkan sebagai perdana menteri.

“Dia adalah pria muda yang tergesa-gesa,” kata seorang yang tidak disebutkan identitasnya kepada kantor berita Reuters.

Pengumuman yang dia utarakan—di kediaman perdana menteri di Tokyo—bahwa dirinya akan menikah dengan Christel Takigawa, aktris Jepang keturunan Prancis berusia 42 tahun, diliput media massa Jepang.

Shinjiro lantas mendukung para istri yang menggunakan nama keluarganya sendiri, tanpa harus mengikuti nama keluarga suami—praktik yang dilarang dalam aturan hukum di Jepang.

Selain itu, dia mengritik sejumlah adat dalam tradisi Jepang.

Akan tetapi, Shinjiro tetap memiliki beberapa pendirian konservatif, seperti PM Shinzo Abe. Shinjiro, misalnya, dilaporkan pernah berkunjung ke Kuil Yasukuni di Tokyo untuk menghormati mereka yang gugur pada Perang Dunia II.

Secara keseluruhan, Shinjiro tampak berupaya membangun citra sebagai sosok pereformasi di tubuh partainya, namun secara bersamaan berhati-hati untuk tidak menyinggung para tetua.

Kemudian, walau mendapat sorotan publik secara intensif, dia menghindar untuk memaparkan pandangan pribadinya dalam topik-topik penting.

Cuti mengurus anak?

Para pakar berpendapat, salah satu aspek yang patut diperhatikan dari Shinjiro adalah sikapnya soal energi nuklir.

Walaupun Shinzo Abe—yang diperkirakan tetap menjabat perdana menteri sampai September 2021—berkomitmen unutk memakai energi nuklir, ayah Shinjiro merupakan penentang energi nuklir setelah bencana Fukushima pada 2011.

Sejauh ini dia hanya memberikan pertanda.

“Saya ingin mempelajari bagaimana kita akan membuang (pembangkit listrik tenaga nuklir), bukan bagaimana mempertahankannya,” ujarnya saat ditunjuk sebagai menteri lingkungan, sebagaimana dikutip kantor berita Kyodo News.

Lepas dari isu nuklir, perhatian utamanya kini tersita pada topik lain, yaitu apakah dia akan mengambil cuti atau tidak ketika anaknya lahir awal tahun depan. Jika dia mengambil cuti, itu adalah pertama kalinya seorang menteri kabinet melakukannya.

Dia mengaku masih mempertimbangkannya. Namun, dia menambahkan: “Jepang kaku dan usang karena masyarakat berdebat mengenai kelebihan dan kekurangannya hanya karena saya berkata akan mempertimbangkannya.” (Uli)