Setelah Bitcoin, Berikut Kisah Kripto Emas Pertama Di Indonesia

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Senin, 21 Juni 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Konsep emas secara digital berbasis centralized servers-based diperkenalkan kali pertama di Indonesia pada 2011 silam. Namun, kini hadir kripto emas, juga berbentuk digital, dengan teknologi blockchain yang bersifat decentralized.

Emas secara digital adalah representasi elektronik terhadap emas fisik yang asli. Misalnya, seperti tabungan emas secara digital lewat Perum Pegadaian, yang nilai tabungan dalam satuan rupiah mewakili emas yang asli.

Artinya, si pemilik rekening tabungan tak perlu memegang dan menyimpan emas aslinya di rumah. Mereka cukup mengumpulkan nilai emasnya, lalu kelak bisa menebusnya menjadi emas batangan sesungguhnya.

“Konsep emas secara digital itu sejatinya menggunakan centralized servers-based, yang mana beberapa komputer server menyimpan data uang dan nilai emas asli yang diwakilinya tapi bersifat sentralistik. Ada entitas sentral yang mengelola dan mengendalikannya,” kata Nicco D Lawrence, Direktur PT Xaurius Asset Digital, dalam keterangan resminya, dilansir dari Merdeka.com (20/06/2021).

Alternatif emas secara digital lain adalah decentralized servers bertenaga blockchain. Bentuknya berupa token digital atau lazim disebut aset kripto/kripto. Melalui cara ini, emas asli tetap direpresentasikan secara elektronik atau digital, tapi didistribusikan di beberapa server tanpa entitas sentral yang mengendalikannya.

Cara tersebut dianggap lebih efisien dari sisi penyelesaian transaksi (settlement) dan daya jangkau transaksinya.

Emas secara digital dengan teknologi blockchain menggunakan teknologi smart contract. Ini merupakan salah satu fitur di blockchain untuk merepresentasikan secara transparan obyek fisik seperti emas, sehingga bisa ditransaksikan.

Misalnya Xaurius Token (XAU) yang diusung PT Xaurius Asset Digital. Token XAU sebagai bentuk kripto stabil, merepresentasikan nilai emas fisik di balik token tersebut.

“Dengan kata lain, nilai dan harga 1 unit token XAU setara dengan harga 1 gram emas fisik. Nilainya sendiri memang dapat berubah yang mengacu pada harga emas di Antam. Namun, tetap saja votilitas yang dimiliki terbilang rendah karena termasuk stablecoin,” urai Nicco.

Mengingat teknologi blockchain bisa diakses di mana saja dan berskala global, maka token XAU yang bernilai emas itu bisa dikirimkan kapan dan ke mana saja dalam waktu singkat dan murah.

“Token XAU menggunakan dua jenis network blockchain, yakni ERC-20 (Ethereum) dan BEP-20 (Binance Smart Chain). Ketika token XAU disimpan di wallet pengguna, mereka bisa mengirimkan emas itu ke mana pun, lintas negara, dan lintas benua. Artinya, teknologi blockchain mengatasi secara efektif konsep emas digital tradisional saat ini,” ujarnya.

Kepercayaan publik pun sangat dijaga betul oleh Xaurius. “Pihak Xaurius sendiri memastikan audit cadangan emas dilakukan setiap 3 bulan secara rutin oleh auditor independen. Hasilnya pun diterbitkan secara terbuka di Xaurius.com,” pungkas dia. (Uli)