Seniman Tato harus Memiliki SOP

Minggu, 14 Februari 2016

Indolinear.com, magelang – Seniman tato atau tattoo artist diharuskan memahami dan menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) dalam mentato. Tidak hanya menyangkut masalah kesehatan, tapi juga nyawa baik seniman tato itu sendiri maupun model tato atau orang yang ditato.

Atas dasar itu, Magelang Tattoo Community (Matamu) sebagai komunitas pegiat tato di Magelang dan eks-Karesidenan Kedu mengadakan Magelang Tattoo Party, Sabtu (30/1). Bukan sekadar pesta, tapi lebih pada edukasi pada seniman tato agar memahami SOP yang ada.

Tidak kurang dari sepuluh seniman tato mengikuti pesta tato yang diisi dengan seminar SOP penanganan tato. Mereka kebanyakan seniman tato yang terbilang baru dan akan menekuni dunia ini sebagai seni maupun profesi. “Kesan tato memang masih negatif, tapi perlahan ke arah positif. Apalagi, kalau seniman tato itu benar-benar memerhatikan SOP dalam mentato. Faktor kesehatan sangatlah dijaga,” ujar Ketua Panitia, Budi Item di sela event di Rumahku Art Café.

Budi menuturkan, seni tato hampir sama dengan ilmu kedokteran yang sangat memerhatikan kesehatan. Banyak aturan dan etika yang harus dipahami seniman dan model tato agar kesehatan tetap terjaga. “Seperti, jarum yang dipakai harus steril dan sekali pakai. Saat mentato, seniman dan model tidak boleh dalam keadaan sakit, kurang tidur, atau mabuk. Keduanya harus dalam kondisi fit. Jika lelah, segera hentikan kegiatan mentato dan istirahat,” katanya.

Semua SOP itu, katanya, disampaikan pembicara seminar, yakni Munir dan Ajeng, pasangan suami istri yang sudah lama berduet di bidang seni tato. Keduanya merupakan seniman tato senior yang sudah memiliki studio Toxic di DI Yogyakarta. “Kali pertama kami adakan ini untuk berbagi ilmu. Selain juga ajang silaturahmi 60-an anggota Matamu se-Kedu. Terdiri dari seniman tato, kolektor tato, dan pecinta seni gambar secara umum,” tuturnya.   (uli)

 

Sumber: Suaramerdeka.com

 

loading...