Seni Keramik Di Indonesia Kian Dihargai

Rabu, 28 Oktober 2015
loading...

Indolinear, Jakarta – Perupa keramik, Adhy Putraka, mengatakan, saat ini seni keramik di Indonesia semakin dihargai dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang sudah jauh lebih baik dibanding saat saya sekolah dulu, saya lulus tahun 1996 waktu itu orang kalau belajar seni apalagi keramik masih dianggap remeh,” kata Adhy, di Museum Keramik dan Seni Rupa, di Jakarta, Jumat.

Banyaknya generasi muda yang mempelajari seni keramik, membuat Adhy optimis dengan perkembangan seni keramik tanah air meski saat ini keramik masih dianggap sebagai barang mewah.

“Beda dengan Jepang dan Cina, keramik memang bukan budaya asli kita, kita mengenal seni itu dari urusan dagang saja kan. Tapi kini makin banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah seni, saya senang,” katanya.

Keramik sudah dikenal di Indonesia sejak jaman Neolithikum (2500 SM-1000 SM). Peninggalan jaman itu banyak dipengaruhi imigran asal Asia Tenggara.

Teknologi pembuatan keramik mulai berkembang dengan didirikannya laboratorium keramik “Het Keramische Laboratorium” pada 1922 di Bandung.

Fungsi utama laboratorium itu sebagai pusat penelitian bahan bangunan seperti bata, saluran air, genteng dan sebagainya, yang terbuat dari tanah liat. Pada masa masuknya tentara Jepang pabrik keramik di Bandung diubah namanya menjadi “Toki Shinkenjo”. Laboratium itu berfungsi sebagai balai penelitian yang meneliti dan mengembangkan serta memproduksi barang-barang keramik dengan suhu bakar tinggi. Produknya antara lain: batu bata tahan api, botol sake, dan sebagainya. Barang-barang tersebut dibuat untuk keperluan para tentara Jepang di Indonesia.

Sejak pemerintahan dipegang pemerintah republik Indonesia, “Toki Shinkenjo” berubah nama menjadi Balai Penyelidikan Keramik (BPK) yang dalam operasionalnya dilengkapi alat-alat pengujian dan alat-alat moderen.

Fungsi dan tugas BPK semakin berkembang, tidak hanya memproduksi barang-barang keramik, gelas, isolator listrik tapi juga aktif melakukan kegiatan penelitian barang-barang mentah keramik hasil temuan di beberapa tempat.

Produknya pun bermacam-macam seperti produk gerabah, stoneware, dan porselen, jenis produksinya antara lain peralatan makan dan minum, benda hias, barang tahan api, bata tahan api, alat-alat teknik, gips, email, dan keramik bahan bangunan.

Sekitar tahun 1969 BPK mengembangkan keramik biru putih yaitu imitasi keramik China yang pembakarannya pada suhu 300 derajat Celcius. Dengan diperkenalkannya produk ala China ini maka banyak perusahaan lain di Bandung memproduksinya.

Seiring dengan tumbuhnya perusahaan keramik di Bandung dan sekitarnya, pendidikan seni rupa keramik pun mulai bermunculan. (uli)

 

Sumber: Antaranews.com