Selendang Mayang, Minuman Khas Betawi Yang Kian Terlupakan

Kamis, 29 Oktober 2015
loading...

Indolinear, Jakarta – Tak seindah namanya, begitulah nasib jajanan tradisional Es Selendang Mayang. Banyak orang yang belum tahu dan mungkin saja sudah lupa kalau minuman khas Betawi ini begitu melegenda.

Saat ini sangat sulit menemukan penjual yang menjajakan minuman ini di sepanjang Jakarta. Tapi sekarang minuman legenda ini muncul kembali, salah satunya lewat usaha Havid Artoni.

Havid telah menjajakan minuman ini sejak 2005. Dia meneruskan usaha keluarganya yang telah menjual minuman ini sejak puluhan tahun silam.

“Awalnya, saya jualan minuman ini turun menurun dari orang tua,” ujar Havid di Festival Dongeng Jakarta, Setu Babakan, Jakarta Selatan.

Minuman yang awalnya bernama Bendrong sama Obyoh ini sempat hilang ditelan zaman karena tidak ada yang meneruskan jualan minuman ini.

“Sempet hilang karena tidak ada penerusnya, tapi alhamdulillah sekarang udah mulai banyak lagi yang jualan,” ucap Havid.

Selendang Mayang merupakan minuman yang kue campuran minumannya berbentuk selendang dan bertekstur mayang (kenyal manis). Havid mengatakan, Selendang Mayang sejatinya memiliki tiga warna, yakni putih, merah dan hijau.

Merah dan putih melambangkan warna bendera Indonesia, dan hijau seperti warna hijau pada film-film janur kuning tempo dulu.

“Mayang artinya kenyal atau manis,” jelasnya.

Minuman ini biasanya disajikan dalam acara pesta, festival dan ulang tahun, bisa juga di minum untuk berbuka puasa. Bahkan minuman ini bersama dengan kerak telor menjadi kuliner khas Betawi yang bisa maduk ke mal.

Tradisi di Selendang Mayang, kue ini harus diletakkan dalam sebuah tampah kemudian di potong kotak-kotak dengan bambu khusus.

“Tradisinya, kue Selendang Mayangnya harus ditaruh di loyang jawa atau tampah, di potong dengan bambu. Gak akan bisa berbentuk, ” jelasnya.

Havid juga tak lupa memberi pesan kepada masyarakat tentang minuman ini melalui sebuah pantun. “Kalau ke empang ngopi dulu, jaburannye uli ditutul tape. Jangan dipandang es tempo dulu, biar pun jadul juge warisan budaye,” candanya. (uli)

 

Sumber: Merdeka.com

 

 

 

loading...