Selain DN Aidit dan Letkol Untung, Ini Dalang Peristiwa G30SPKI

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Kamis, 1 Oktober 2020
loading...

Indolinear.com – Enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD menjadi korban saat meletus Gerakan 30 September PKI atau G30S PKI. Kejadian itu menjadi sejarah kelam bangsa ini.

Rezim Orde Baru langsung menunjuk Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai pelaku utama. Para korban dikubur di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Ada yang menyebut peristiwa G30S tidak lepas dari campur tangan CIA. Setidaknya ada lima pelaku utama yang dianggap tokoh utama Gerakan 30 September.

Siapa saja mereka? Ini lengkapnya, dilansir dari Merdeka.com (29/09/2020).

Sjam Kamaruzaman

Sjam Kamaruzaman merupakan seorang kepala Biro Khusus sebuah lembaga rahasia Partai Komunis Indonesia (PKI), yang bertugas untuk merekrut dan membina tentara pendukung PKI.

Keberadaannya juga tak banyak diketahui oleh anggota PKI. Sjam sendiri sering disebut sebagai dalang yang menggerakkan aksi G30S itu sepenuhnya. Hal ini dikarenakan Sjam dikatakan yang menghasut DN Aidit selaku ketua umum PKI untuk segera melakukan penyerangan.

Kurang lebih dua tahun setelah peristiwa tersebut, Sjam melakukan penyamaran diri dan pelarian dari satu kota ke kota lain. Sampai akhirnya, ia ditangkap pada Maret 1967 di Cimahi, Jawa Barat. Setelah sempat menjalani hukuman penjara, Sjam pun akhirnya dijatuhi hukuman mati pada September 1986.

Brigjen Soepardjo

Sebelum peristiwa gerakan 30 September, Brigjen Soepardjo merupakan seorang Komandan Komando Tempur di Kalimantan yang membawahi ribuan prajurit sebagai salah satu persiapan tempur melawan Malaysia.

Ia berperan sebagai juru bicara G30S/PKI untuk menemui Presiden Soekarno untuk menjelaskan niatan terkait aksi tersebut. Ia dicurigai karena kembali ke Jakarta sebelum peristiwa 30 September itu terjadi. Kuat dugaan jika Brigjen Soepardjo tela dibina oleh Sjam Kamaruzaman.

Setelah peristiwa itu, Soepardjo ditangkap oleh Satgas Kalong pada 12 Januari 1967 dan diseret ke Mahmilub. Ia juga harus menerima hukuman tembak mati pada Maret 1967 setelah sebelumnya sempat dilakukan sidang.

Kolonel Abdul Latief

Kolonel Abdul Latief merupakan salah satu perwira utama pelaku di balik peristiwa G30S/PKI. Saat itu, ia menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri I/Djaja Sakti dan membawahi pasukan pengamanan ibu kota.

Setelah peristiwa itu, Latief ditangkap oleh tentara Siliwangi di sebuah rumah di daerah benhil, Jakarta. Tak seperti pelaku lainnya yang mendapat hukuman mati, Latief justru dimasukkan ke dalam ruang isolasi dan mendapat siksaan selama puluhan tahun hingga akhirnya ia dibebaskan pada masa reformasi dan meninggal pada tahun 2005 silam.

Kolonel Abdul Latief sendiri tidak dijatuhi hukuman mati dikarenakan ia mengaku memiliki rahasia besar dari Soeharto. Ia pun mengaku telah memberitahu Soeharto tentang rencana penculikan perwira TNI tersebut.

DN Aidit dan Letkol Untung

Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit merupakan Ketua Umum Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini bisa dikatakan jika ia merupakan salah satu dalang utama dibalik peristiwa 30 September.

Dalam melancarkan aksinya, Aidit dikatakan banyak melakukan hasutan-hasutan kepada rakya Indonesia dengan tujuan mendapatkan dukunggan sepenuhnya terhadap niat PKI. Ia bahkan membentuk persekutuan konsepsi NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis).

Aksi yang dilakukan oleh Aidit dan beberapa rekannya ini justru membuat PKI berada pada kehancuran. Diperkirakan sekitar satu juta anggota dan simpatisan PKI dihabisi karena diduga ikut andil dalam aksi Gerakan 30 September. Dalam melancarkan aksi kudetanya, Aidit dikatakan tidak melibatkan anggota jajaran Politbiro dalam rapat agenda persiapan G30S.

Letkol Untung Syamsuri adalah seorang Komandan Batalyon I Tjakrabirawa yang menjadi dalang pemimpin dari gerakan aksi Gerakan 30 September yang terjadi pada 1965. LetKol Untung memerintahkan pasukannya untuk menculik jenderal TNI dan membawanya ke Lubang Buaya. Namun rencana berubah menjadi berantakan saat beberapa jenderal TNI sudah ditembak di rumah.

Ia sempat melarikan diri setelah peristiwa itu sebelum akhrinya ditangkap dan dieksekusi mati di Cimahi, Jawa Barat. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: