Sejarah Piala Sudirman Asal-Usul Nama Kejuaraan Dan Bentuk Trofi

FOTO: Kompas.com/indolinear.com
Kamis, 16 September 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Piala Sudirman atau Sudirman Cup adalah salah satu kejuaraan bulu tangkis bergengsi di dunia. Adapun, Piala Sudirman 2021 akan digelar pada 26 September hingga 3 Oktober di Vantaa, Finlandia.

Piala Sudirman 2021 merupakan edisi ke-17 dari turnamen bulu tangkis atau badminton dua tahunan tersebut.

Piala Sudirman pertama kali digelar pada 1989 di Jakarta dengan tuan rumah Indonesia tampil sebagai juara usai mengalahkan Korea Selatan pada pada pertandingan final.

Piala Sudirman merupakan turnamen beregu campuran dengan lima nomor yang dipertandingkan yaitu tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran, dilansir dari Kompas.com (15/09/2021).

Asal-usul Nama Piala Sudirman

Nama kejuaraan Piala Sudirman diambil dari nama tokoh bulu tangkis Indonesia, Dick Sudirman.

Dick Sudirman yang lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 19 April 1922 adalah mantan atlet bulu tangkis Indonesia.

Semasa hidupnya, pria yang wafat di Jakarta pada 10 Juni 1986 itu memiliki jasa besar terhadap perkembangan bulu tangkis nasional dan dunia.

Sudirman adalah salah satu pendiri induk organisasi bulu tangkis Tanah Air, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Ia juga pernah menjabat sebagai ketua PBSI selama 22 tahun, dari 1952 hingga 1963 dan 1967 hingga 1981.

Sudirman juga tercatat pernah memegang jabatan wakil presiden Federasi Bulu Tangkis Internasional atau International Badmiton Federation (IBF).

Kontribusi Sudirman terhadap bulu tangkis dunia sangatlah besar. Ia memiliki peran penting dalam membantu penyatuan dua organisasi bulu tangkis dunia, IBF dan WBF (World Badminton Federation).

Pada 1978, WBF memisahkan diri dari IBF sehingga membuat ada dua organisasi bulu tangkis dunia yang berjalan secara bersamaan.

Kemudian pada 1979, Sudirman memprakarsai pertemuan informal kedua organisasi itu di Bandung. Ia pun mencari jalan keluar agar dua organisasi bulu tangkis itu bisa bersatu, termasuk menggelar pertandingan persahabatan antara pemain dari kedua federasi.

Usulan Sudirman diterima dan menjadi dasar rekonsiliasi IBF dan WBF. Tepat pada 28 Mei 1981, kedua badan itu bersatu dan kini dikenal sebagai BWF.

Setelah Sudirman wafat karena penyakit yang ia derita pada 1986, teman lamanya dan Wakil Ketua PBSI Suharso Suhandinata mengirim surat kepada Presiden IBF Arthur Jones untuk membuat kompetisi sebagai tanda penghormatan untuk Sudirman.

Gagasan Suharso itu kemudian didiskusikan pada pertemuan Dewan IBF pada 1986. Kemudian pada 1988, IBF membuka kemungkinan mengadakan kejuaraan beregu campuran dunia dan menerima tawaran Indonesia sebagai tuan rumah.

Karena kalender turnamen yang begitu ketat, Dewan IBF memutsukan bahwa kejuaraan yang diberi nama Piala Sudirman atau Sudirman Cup itu digelar bersamaan dengan Kejuaraan Dunia.

Pada 1989, Piala Sudirman edisi pertama pun diadakan di Jakarta. Indonesia berhasil menjadi juara usai mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2 pada laga final.

Selanjutnya, Piala Sudirman digelar setiap dua tahun. China menjadi negara dengan jumlah gelar juara terbanyak yaitu 11, disusul Korea Selatan (4), dan Indonesia (1).

Bentuk Trofi Piala Sudirman

Trofi Piala Sudirman memiliki bentuk unik dengan ciri khas Indonesia yang sangat kental.

Trofi Piala Sudirman dirancang oleh Rusnadi dari Fakultas Seni Rupa ITB dan terdiri dari lima bagian.

Di bagian puncak, trofi setinggi 80 cm itu terdapat ukiran replika Candi Borobudur yang terbuat dari perak dan dibalut dengan emas 22 karat.

Kemudian di bagian badan piala, berbentuk shuttlecock (kok) yang juga berlapis emas 22 karat dengan berat 600 gram. Sementara, pegangan piala berbentuk benang sari.

Bagian keempat dari trofi Piala Sudirman berbentuk daun sirih yang merupakan ornamen selamat datang.

Adapun, bagian kelima dari piala tersebut adalah bentuk segi delapan atau oktagon yang melambangkan arah mata angin. Bagian ini terbuat dari kayu jati.

Trofi Piala Sudirman dikerjakan oleh PT Masterix Bandung yang saat itu memakan biaya sebesar 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 27 juta (kurs waktu itu). (Uli)